Burnik, masih menjadi “surga” bagi para lelaki hidung belang

images (1)

Situbondo,  30 Agustus 2014,

serambimata.wordpress.com – Bisnis seks di kota santri masih tak berhenti, setidaknya di beberapa lokasi yang selama ini masih menjadi surga bagi para lelaki  belang masih terlihat, salah satunya adalah di lokasi Burnik.

Berdasarkan pantauan Serambi Mata di malam hari, bisnis esek-esek liar yang ada di area persawahan Dawuhan itu masih ramai oleh transaksi lendir. Di sepanjang pinggir sungai yang menghubungkan kelurahan Dawuhan dan Alasmalang itu nampak para lelaki duduk berjejer sambil bersenda dengan seorang perempuan setengah baya yang berpakaian seksi dan berdandan minor tak peduli pada sorot lampu motor yang berlalu lalang di jalan sempit dan gelap  itu.

Tidak jauh dari tempat itu, sepasang laki dan perempuan baru saja keluar dari kebun jagung yang selama ini menjadi tempat pelampiasan nafsu bagi lelaki berkantong tipis yang tak mampu menahan birahinya. Maklum, bisnis seks di lokasi Burnik tersebut selama ini dikenal sebagai tempat yang relatif nyaman untuk melakukan traksaksi seks terutama bagi lelaki yang tidak punya uang cukup untuk datang ke lokalisasi yang lebih mahal. Selain sepi dan gelap, lokasi tersebut juga berada di tengah area persawahan dan perkebunan  jagung yang luas membentang.

Yang mengherankan, di wajah mereka tidak terlihat raut ketakutan bila sewaktu-waktu petugas berwajib datang tiba-tiba menggerebek dan menertibkan mereka. Padahal sebelumnya tempat mesum ini sudah sering di datangi Satpol PP.  Dan setiap satpol PP melakukan penertiban tidak sedikit para penikmat seks liar tersebut lari tunggang langgang  bahkan sebagian dari mereka ditangkap dan diamankan untuk dilakukan pembinaan.

Realitas ini tentulah sebuah ironi bagi kabupaten Situbondo yang berpredikat sebagai kota “santri”, lebih-lebih kabupaten yang dipimpim Dadang Sugiarto ini kini dijuluki sebagai “bumi Sholawat Nariyah”.  Karenanya semua pihak, terutama pemerintah dan tokoh masyarakat  harus  terus berupaya melakukan langkah-langkah agar “penyakit masyarakat” ini tidak  terus menjangkiti masyarakat yang mayoritas muslim ini. Pemerintah harus lebih tegas bertindak, jangan mau kalah oleh Walikota Surabaya Tri Risma Maharini yang bernyali besar menutup lonkalisasi terbesar di Asia, Dolly.

Pemerintah Situbondo harus punya keberanian menutup lokalilisasi yang cukup marak di Situbondo, mulai Burnik, Gunung Sampan dan lokalisasi Buduan, demi kenyamanan masyarakat dan menyelamatkan Situbondo sebagai kota santri.

About serambimata

Terus menulis

Posted on 1 September 2014, in Sosial and tagged , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: