Banyak Kasus Bunuh Diri dan Pengangguran Cukup Tinggi (Sisi Lain Dari Keberhasilan Pendidikan Korea Selatan)

image

SERAMBIMATA- Keberhasilan Negeri Gingseng Korea Selatan dalam membangun sektor pendidikannya hingga berhasil menjadi negara dengan sistem pendidikan terbaik dunia versi lembaga edukasi dan perusahaan penerbitan Pearson bukannya tidak menyisakan banyak persoalan. Ibarat dua sisi mata uang, di satu sisi sistem pendidikan yang diterapkan di korsel berdampak pada pesatnya perkembangan ekonomi, tapi di sisi lain juga berakibat pada besarnya jumlah penduduk yang mati bunuh diri dan tingginya angka pengangguran di negara ini. Mengapa demikian…?

Perkembangan ekonomi yang pesat selama lebih dari 60 tahun sejak terjadinya Perang Korea, merupakan buah dari sistem pendidikan yang dijalankannya. Sebesar 64% penduduk Korea Selatan usia 25 sampai 34 tahun memiliki kualifikasi setingkat sarjana, bahkan dalam situs OECD Education Today, Korea Selatan disebut-sebut sebagai one of the highest educated nations in the world atau salah satu negara yang memiliki jumlah masyarakat berpendidikan tinggi terbanyak di dunia. Dalam survei yang digelar oleh Programme for International Student Assessment (PISA) juga mengabarkan bahwa para siswa Korea Selatan secara konsisten menunjukkan prestasi yang menakjubkan dalam hal membaca, matematika dan sains diantara negara lainnya.

Pemerintah Korea Selatan memang tidak tanggung-tanggung jika menyangkut urusan pendidikan. Selama periode setengah abad terakhir, pemerintah negeri kimchi ini mengeluarkan anggaran sebesar 6,1% dari total GDP (Gross Domestic Product) yang dihasilkan untuk semua level pendidikan. Untuk level tertiary education (setingkat perguruan tinggi), pada tahun 2010, anggaran yang dikeluarkan sebesar 2,6%, lebih tinggi dari rata-rata negara anggota OECD (Organisation for Economic Co-operation and Development) yang hanya berkisar 1,6%.
Masyarakatnya juga sangat antusias dengan pendidikan, hal ini sudah dimulai sejak zaman dulu. Berdasarkan ajaran Confucius yang dianut masyarakat Korea Selatan, pendidikan merupakan prioritas utama, dan dapat pula mengubah status sosial seseorang. Meskipun berasal dari golongan tidak mampu, namun apabila orang tersebut lulus tes untuk menjadi pegawai pemerintah, maka otomatis status sosial orang tersebut meningkat. Orang yang berpendidikan tinggi sangatlah dihormati di Korea Selatan.

Ajaran ini pun masih berpengaruh sampai sekarang. Demi mendapatkan kehidupan yang lebih baik nantinya, para siswa berlomba-lomba untuk dapat mencetak skor yang tinggi dalam CSAT (College Scholastic Ability Test) atau yang dikenal dengan nama suneung. Suneung merupakan tes standar agar dapat diterima di perguruan tinggi yang ada di Korea Selatan (Wikipedia). Masyarakat Korea Selatan percaya bahwa hasil tes ini nantinya akan menentukan seseorang untuk berkuliah di mana dan merupakan kesempatan emas untuk memperbaiki masa depan. Dengan kata lain, hasil tes inilah yang akan menentukan bagaimana gambaran masa depan seseorang nantinya. Jika hasil tes bagus, masa depan cemerlang, jika hasil tes buruk? Siap-siap mengikuti lagi tahun depan.
Bagi masyarakat negeri gingseng, tes ini memegang peranan penting dalam sistem pendidikan di sana. Saking pentingnya, bahkan seluruh aktivitas perekonomian dan pemerintahan di Korea Selatan akan dimulai lebih lambat daripada hari biasa saat suneung berlangsung. Semua lini disiagakan demi menjaga kelancaran tes. Lalu lintas dilarang mendekati lokasi tes sejauh 200 meter untuk menghindari kemacetan yang dapat mengganggu kedatangan para peserta tes (Bloomberg).
Persiapan yang dilakukan demi satu hari bersejarah ini, tak cukup hanya bilangan hari atau minggu, tapi tahun.

Tak jarang pula sejak memasuki bangku sekolah, orang tua mulai mempersiapkan anaknya dengan memberikan pelajaran tambahan di hagwon (semacam lembaga bimbingan belajar). Ketika masa-masa suneung hampir mendekati, kira-kira kurang 1 atau 2 tahun lagi, kuantitas belajar anak-anak Korea Selatan semakin intens. Selepas sekolah usai, mereka akan mengikuti tambahan pelajaran di sekolah atau mengikuti hagwon, setelah sampai rumah biasanya mereka tidak langsung tidur tapi belajar mandiri atau belajar secara online. Kalau dihitung dalam sehari kira-kira mereka menghabiskan waktu sekitar 19 – 20 jam untuk belajar dan hal ini terus berulang setiap harinya (BBC). Bagi orang tua, tak terhitung lagi besarnya biaya yang harus dikeluarkan demi persiapan ini, beberapa bahkan mencapai bilangan triliunan won. Hal ini juga ditengarai menjadi pemicu rendahnya tingkat kelahiran di Korea Selatan.

Bisa dibayangkan besarnya tekanan yang dialami para siswa dan orang tua di negeri tempat lahirnya Korean Wave tersebut. Kasus ekstrim pun tak pelak terjadi, setiap tahunnya hampir terjadi kasus bunuh diri menimpa anak usia 13 – 19 tahun. Dikutip dari Bloomberg, Statistic Korea beserta Ministry of Gender Equality and Family mencatat pada tahun 2011 penyebab kematian terbesar yang menimpa penduduk usia 15 – 24 tahun adalah bunuh diri.
Sistem pendidikan di Korea Selatan bagaikan dua mata pisau bagi penduduknya. Di satu sisi menguntungkan dengan melihat pertumbuhan ekonomi dan prestasi gemilang yang diraih para siswanya di kancah internasional. Tapi di sisi lain, merebaknya berbagai kasus bunuh diri akibat tekanan mental yang dialami penduduk usia muda dan menurunnya angka kelahiran di Korea Selatan, menjadi beberapa dampak negatifnya. Survei PISA juga mengatakan bahwa meskipun hasil yang didapat tinggi namun ketertarikan siswa terhadap sekolah dan tingkat kepuasan siswa rendah. Belum lagi jika melihat tingkat pengangguran potensial yang tinggi, karena berdasarkan laporan dari OECD, seperti dikutip dari OECD Education Today, bahwa hanya sekitar 75% dari penduduk usia 25 – 34 tahun yang memiliki kualifikasi setingkat sarjana sajalah yang memperoleh pekerjaan sesuai skill yang dimilikinya, ini lebih rendah dari rata-rata negara OECD lain yang mencapai 82%.

Berangkat dari situ, kini Menteri Pendidikan Korea Selatan era pemerintahan Presiden Park Geun-hye, Seo Nam-soo, mulai memikirkan langkah baru. Mr. Seo mengatakan prioritas utamanya kini adalah mencoba membimbing para siswa untuk berani mengembangkan segala potensi dan mimpi yang dimilikinya. Beliau juga mengimbau kepada sekolah-sekolah agar berinisitif menjadi “meister school” atau sekolah yang memang didesain khusus untuk mempersiapkan para lulusannya bekerja di bidang keahlian tertentu, sehingga para lulusan setingkat SMA pun bisa langsung masuk dunia kerja. Tradisi masyarakat Korea Selatan untuk mendorong anaknya memasuki perguruan tinggi memang sudah ada sejak puluhan tahun dan sudah menurun dari generasi ke generasi. Namun, Mr. Seo tetap optimis berbagai perubahan yang dilakukannya sedang berlangsung ke arah yang lebih baik.

(Ulasan ini adalah sambungan dari ulasan Serambi Mata sebelumnya tentang Korsel, Negara Dengan Sistem Pendidikan Terbaik di Dunia dan Inilah Rahasia Pendidikan Korea Selatan Menjadi Yang Terbaik Di Dunia)

About serambimata

Terus menulis

Posted on 7 Oktober 2014, in Pendidikan and tagged . Bookmark the permalink. 1 Komentar.

  1. Nah, inilah salah satu contoh dampak negatifnya (mungkin pendidikan di Jepang juga bisa dijadikan contoh, karena di sana angka bunuh diri juga cukup tinggi).. Makanya jangan asal comot sistem dari luar negeri.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: