Mengangkat Pemimpin Non Muslim, Bolehkah?

image

SERAMBIMATA – Salah satu berita yang banyak menyita perhatian publik saat ini adalah tentang pengangkatan Basuki Tjahaya Purnama atau Ahok sebagai Gubernur DKI Jakarta. FPI, bahkan anggota DPRD DKI yang tergabung dalam Koalisi Merah Putih menolak pelantikan sosok yang penuh kontroversi ini. Salah satu alasan penolakan tersebut adalah karena agama Ahok Non Muslim, di samping alasan lainnya.
Lalu, bagaimana Islam memandang terhadap persoalan tersebut? Benarkan Islam melarang pengangkatan Non Muslim menjadi pemimpin?
Berikut penjelasannya, saya kutip dari situs resmi bahstul masa’il NU.

Pertanyaan :
Assalamu’alaikum wr wb.
Melihat insiden yang terjadi atas kerusuhan yang terjadi di gedung DPR beberapa hari yang lalu, sangat miris melihatnya. Sehingga terbesit dalam benak saya yang awam, sebuat pertanyaan… Apakah betul Islam itu melarang orang nonmuslim untuk menjadi wakil rakyat bagi muslim? Bagaimana jika mereka itu ternyata orang baik, dan jujur? Mohon penjelasannya. (Nur Ali Riyanto, jl Pisangan Baru selatan No 21, Matraman-Jakarta Timur)

Jawaban :
Wa’alaikum salam wr. wb.
Penanya yang budiman, semoga selalu dirahmati Allah swt. Pertanyaan mengenai apakah boleh atau tidak pengangkatan orang kafir untuk menjadi pemimpin orang muslim, terutama dalam konteks kenegaraan memang seringkali disampaikan.
Dalam pandangan kami apa yang dimaksud dengan pemimpin dalam konteks pertanyaan masih belum jelas. Apakah yang dimaksudkan adalah pemimpim negara seperti presiden? Atau pemimpin yang dimaksudkan adalah menduduki jabatan-jabatan tertentu, seperti menteri, dirjen atau yang sejenisnya, atau anggota DPR. Jika yang dimaksudkan adalah yang pertama, tentu dalam Negara yang mayoritas muslim tidak bisa diterima.
Pada dasarnya mengangkat pemimpin non muslim tidak diperbolehkan. Sebab dengan mengangkat mereka akan memberikan jalan bagi mereka untuk menguasai kaum muslim. Hal ini jelas akan merugikan kaum muslim itu sendiri.
   وَلَنْ يَجْعَلَ اللهُ الْكَافِرِيْنَ عَلَى الْمُؤْمِنِيْنَ سَبِيْلاً -النساء: 141
“Dan Allah Swt. sekali-kali tidak akan memberi jalan kepada orang kafir untuk memusnahkan orang-orang beriman.” (QS. an-Nisa` [4]: 141).
Larangan tersebut tentu harus diberlakuakan dalam kondisi normal. Sehingga ada sebagai ulama yang membolehkan dalam kondisi darurat, yaitu kondisi dimana ada beberapa hal-hal yang tidak bisa ditangani oleh kaum muslimin sendiri baik langsung maupun tidak langsung, atau terdapat indikasi kuat adanya ketidakberesan (khianat) dari orang muslim itu sendiri.
نَعَمْ إِنِ اقْتَضَتْ الْمَصْلَحَةُ تَوْلِيَّتَهُ فِيْ شَيْءٍ لاَ يَقُوْمُ بِهِ غَيْرُهُ مِنَ الْمُسْلِمِيْنَ أَوْ ظَهَرَ مِنَ الْمُسْلِمِيْنَ خِيَانَةٌ وَأَمِنَتْ فِيْ ذِمِّيٍّ وَلَوْ لِخَوْفِهِ مِنْ الْحَاكِمِ مَثَلًا فَلاَ يَبْعُدُ جَوَازُ تَوْلِيَّتِهِ لِضَرُوْرَةِ الْقِيَامِ بِمَصْلَحَةِ مَا وَلِّيَ فِيْهِ، وَمَعَ ذَلِكَ يَجِبُ عَلَى مَنْ يَنْصِبُهُ مُرَاقَبَتُهُ وَمَنْعُهُ مِنَ التَّعَرُّضِ لِأَحَدٍ مِنَ الْمُسْلِمِيْنَ

“Jika suatu kepentingan mengharuskan penyerahan sesuatu yang tidak bisa dilaksanakan oleh orang lain dari kalangan umat Islam atau tampak adanya pengkhianatan pada si pelaksana dari kalangan umat Islam, dan aman berada di kafir dzimmi walaupun karena rasa takutnya kepada penguasa. (Dalam konteks ini) maka boleh menyerahkan jabatan padanya karena adanya keharusan (dlarurah) untuk mewujudkan kemaslahatan sesuatu yang dia diangkat untuk mengurusinya. Meskipun demikian, bagi pihak yang mengangkatnya, harus selalu mengawasi orang kafir tersebut dan mampu mencegahnya dari mengganggu terhadap siapapun dari kalangan umat Islam” (Ibnu Hajar al-Haitsami, Tuhfah al-Muhtaj, dalam Abdul Hamid asy-Syirwani dan Ibnu Qasim al-‘Abbadi, Hawasyai asy-Syirwani wa al-‘Abbadi, Mesir-at-Tijariyyah al-Kubra, tt, juz, 9, h. 73)
Kebolehan dalam kondisi darurat ini harus dipahami dalam konteks kafir dzimmi. Dan bagi pihak yang mengangkat kafir dzimmi (nonmuslim yang berdamai), yang dalam konteks ini adalah pihak muslim harus selalu memberikan pengawasan yang ketat terhadap kinerjanya. Disamping itu juga harus mencegah atau menghalaginya agar tidak mengganggu kalangan muslim sendiri.  
Jadi, pengawasan terhadap kinerja dan jaminan bahwa pihak kafir dzimmi tidak akan mengganggu kalangan muslim dari pihak yang mengangkatnya untuk menangani beberapa hal yang tidak bisa ditangani oleh orang muslim, baik langsung maupun tidak langsung, menjadi sebuah keharusan. Pengawasan menjadi penting agar orang tersebut tetap bekerja dengan baik sesuai aturan yang telah ditetapkan. Sedang perlindungan terhadap kalangan muslim juga tak kalah pentingnya agar ia tidak bisa semena-mena.
Dari penjelasan singkat itu setidaknya dapat dipahami bahwa kebolehan mengangkat orang kafir dzimmi untuk mengisi jabatan-jabatan tertentu atau memimpinnya dibolehkan sepanjang tidak ada orang muslim yang mampu menanganinya, berlaku adil, dan adanya kemaslahatan. Atau terdapat indikasi yang kuat, kalau diserahkan kepada kalangan muslim sendiri ternyata tidak beres (khianat).
Demikian jawaban singkat yang dapat kami sampaikan, semoga bisa bisa bermanfaat. Dan dalam beberapa urusan yang menyangkuat kaum muslim sepanjang masih ada orang muslim yang dianggap layak dan dapat dipercaya maka wajib diserahkan kepadanya, kecuali memang sudah tidak ada orang muslim yang dianggap mampu, bisa dipercaya dan adil. Wallahul muwaffiq ila aqwamith thariq, wassalamu’alaikum wr. wb

Posted on 17 November 2014, in Agama and tagged . Bookmark the permalink. 2 Komentar.

  1. “Dan Allah Swt. sekali-kali tidak akan memberi jalan kepada orang kafir untuk memusnahkan orang-orang beriman.” (QS. an-Nisa` [4]: 141).
    g’ keliru boss? dalam ayat tersebut Allah tidak menyuruh hambanya (manusia) untuk sekali-kali tidak akan memberi jalan kepada orang kafir untuk memusnahkan orang-orang beriman! Allah bisa sendiri tidak perlu menyuruh hambanya (manusia)! Jelasnya yang terjadi saat ini orang kafir tidak ada jalan untuk memusnahkan orang-orang beriman melainkan saudara kita sendiri yang mengadu domba sesama muslim, yang bertengkar sesama muslim, muslim yang satu dangan yang lainnya! di hadapan Allah Semua sama! sudah lah itu urusan Umaro’ kita tidak usah iktu ikutan malah tambah mumet negara mikirin itu-itu aja! dan pesan saya INGAT KAWAN “MANUSIA BISA SELAMAT DI DUNIA DAN AKHIRAT KARENA ILMUNYA, DAN JUGA SEBALIKNYA MANUSIA AKAN CELAKA DUNIA DAN AKHIRAT JUGA KARENA ILMUNYA”

    Suka

  2. Memilih Orang Kafir Menjadi Pemimpin

    Rupanya sedikit ada perbedaan pandangan dengan ulama Salaf, terkait dengan pimpinan Non Muslim, inilah referensi yang kami dapatkan :
    Para ulama sepanjang zaman telah ijma’ (konsensus) menegaskan bahwa orang kafir tidak boleh jadi pemimpin dalam Islam!

    By Abu Ubaidah Yusuf As Sidawi 15 March 2016
    2 55 0
    pemimpin-kafir
    Akhir-akhir ini sedang ramai di media sosial perbincangan tentang hukum memilih orang kafir sebagai pemimpin. Saya heran, kenapa masalah yang sudah jelas seperti ini digugat, diobok-obok dan banyak suara sumbang oleh orang-orang yang ber-KTP Islam, padahal para ulama sepanjang zaman telah ijma’ (konsensus) menegaskan bahwa orang kafir tidak boleh jadi pemimpin dalam Islam!

    Saya tidak perlu memperluas masalah ini, berikut nukilan ijma‘ (kesepakatan ulama) dalam masalah ini:

    قال القاضي عياض: “أجمع العلماءُ على أنَّ الإمامة لا تنعقد لكافر،”[9]

    Al-Qodhi ‘Iyadh berkata: “Para ulama sepakat bahwa kepemimpinan tidak boleh diserahkan kepada orang kafir” (Syarh Shahih Muslim, 6/315 oleh An Nawawi).

    وقال ابن المنذِر:”إنَّه قد أجمع كلُّ مَن يُحفَظ عنه مِن أهل العلم أنَّ الكافر لا ولايةَ له على المسلم بِحال”

    Ibnu Mundzir berkata: “Seluruh ulama telah bersepakat bahwa orang kafir tidak boleh menjadi pemimpn apapun keadaannya” (Ahkamu Ahli Dzimmah, 2/787 oleh Ibnul Qoyyim).

    وقال ابن حَزم: “واتَّفقوا أنَّ الإمامة لا تجوز لامرأةٍ ولا لكافر ولا لصبِي”

    Ibnu Hazm berkata: “Para ulama sepakat bahwa kepemimpinan tidak boleh diserahkan kepada wanita, kafir, dan anak kecil”. (Marotibul Ijma‘ hlm. 208).

    Apakah setelah ijma’ para ulama tersebut, kita masih ragu?! Masihkah lagi kita mengatakan: “Pemimpin kafir yang adil lebih baik daripada muslim yang koruptor?“.

    Apakah para ulama bersepakat di atas kesesatan wahai hamba Allah? Merekakah yang tersesat ataukah engkau yang tersesat jauh dari jalan yang lurus?!

    ***

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: