Fiqh Melegalkan Hukum Mati Bagi Pengedar Narkoba

image

SERAMBIMATA, dilansir dari buletin Tanwirul Afkar mahad-aly.sukorejo.com Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo Situbondo. Mengupas tentang legitimasi hukum mati bagi pengedar narkoba menurut pandangan fiqih modern.

Pengedar narkoba terus semakin merajalela di bumi nusantara.

Mereka terus menggiring ABG untuk triping dan nge-fly.

Mereka cuek kepada akibat yang ditimbulkan.

Dan rela mengorbankan demi seteguk kenikmatan yang mereka peroleh.

 Bagaimana fikih menanggapi pengedar Narkoba?

Untuk lebih jelasnya, mari kita simak TA edisi kali ini.

Garcia dan Clara Elena, baru saja turun dari pesawat Garuda dengan penerbangan GA 971 dari Bangkok. Tiba-tiba, jajaran kantor Wilayah III Bea dan Cukai Denpasar Bali menangkap mereka. Ternyata sepasang kekasih dari Maroko ini membawa 15,22 Kg kokain. Barang tersebut dikemas dalam tas boogie board (papan selancar tubuh) berwarna hitam dan tas berwarna abu-abu.

Gambaran tersebut menunjukkan bahwa modus operandi (cara) yang dilakukan para pengedar narkoba cukup rapi. Indonesia sebagai negara berkembang menjadi ‘lahan basah’ bagioperasi mereka. Semua ini ulah dari kapitalisme. Mereka tetap menginginkan negara berkembang tetap berjalan di tempat atau mundur merosot. Pada akhirnya mereka bisa bebas menjajahnya. Usaha yang dirasa ampuh adalah merusak mental generasi bangsa. Menggerogoti akal dari dalam. Caranya, dengan menawarkan segala kenikmatan semu. Yah, dengan NARKOBA (Narkotika dan Obat-obat Terlarang).

Bisa dilihat, remaja yang kecanduan narkoba sulit untuk disembuhkan. Akal dan mental mereka rapuh. Mereka kehilangan pegangan hidup. Pakar medis mengatakan, umur mereka tidak akan lama. Lebih ngeri lagi, gejala ini telah merambah ke anak-anak sekolah (ABG). Kalau fenomena ini terus dibiarkan, bisa dibayangkan bangunan negeri ini akan hancur lebur. Sebagai koponen dari bangsa ini, kita mesti kut bertanggung jawab. Mencegak sedini mungkin akibat yang akan muncul.

Disiplin ilmu fikih sudah membahas tentang barang jahannam itu. Akan tetapi ada yang tertinggal. Yaitu si pengedar Narkoba masih berlenggang kangkung. Padahal, mereka sumber kemaksiatan yang ditimbulkan narkoba. Lalu, apa kata fikih tentang mereka? Sangsi apa yang patut mereka terima? Bisa tidak dihukum dengan hukuman mati atau penjara seumur hidup?

Sejak awal kedatang Islam mengemban misi damai. Kemaslahatan manusia di dunia dan akhirat. Kedamain dan kemaslahatan akan bisa terlealisaikan dengan memilih lima hal. Yaitu, Agama, Jiwa, Akal, Keturunan dan Harta. Inilah yang disebut ad-darūriyāt al-khomsah. Karena itulah Islam melarang murtad, pembunuhan, mabuk, zina dan pencurian. Semua itu bertujuan membangun kehidupan diatas hamparan kedamain dan kemaslahatan.

Mabuk dan nge-fly terang-terang dilarang oleh Islam. Karena bisa mersak akal. Dalam sebuah ayat dijelaskan:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنَّمَا الْخَمْرُ وَالْمَيْسِرُ وَالْأَنْصابُ وَالْأَزْلامُ رِجْسٌ من عَمَلِ الشَّيْطانِ فَاجْتَنِبُوهُ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

Hai orang-orang yang beriman, Sesungguhnya (meminum) khamr, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah Termasuk perbuatan syaitan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan. [Qs. al-Māidah (5):90]

Kata-kata khamr ­dalam ayat ini juga mencakup mencakup barang-barang yang memabukkan lainnya. Seperti ekstasi, putaw, kokain, sabu-sabu dan sebagainya. Semua haram. Karena ‘illatkeharamannya khamr adalah iskār (mabuk). Sementara iskār ini juga terdapat pada benda-benda tersebut. (lebih jelasnya, lihat TA Edisi 40)

Apakah keharaman tersebut hanya tertentu pada mengkonsumsinya saja? Tentu saja tidak karena Nabi saw. Bersabda :

لُعِنَتِ الْخَمْرُ عَلَى عَشَرَةِ أَوْجُهٍ : بِعَيْنِهَا، وَعَاصِرِهَا، وَمُعْتَصِرِهَا، وَبَائِعِهَا، وَمُبْتَاعِهَا، وَحَامِلِهَا، وَالْمَحْمُولَةِ إِلَيْهِ، وَآكِلِ ثَمَنِهَا، وَشَارِبِهَا، وَسَاقِيهَا.

khamr itu dilaknat pada 10 aspek. Dzat (benda) nya, orang yang membuatnya, orang yang memesan, penjual, pembeli, orang yang membawa, orang yang dibawakan, orang yang makan uang dari hasil penjualan khamr, peminum dan menghidangkannya. [Sunan Ibnu Majah, 1122: II]

Ternyata hadits tersebut menyinggung semua komponen yang ikut serta dalam khamr. Mulai dari pembuat, pemesan, penjual, pembeli, pengedar sampai kepada orang yang ‘hanya’ mebawakan. Semuanya haram dilakukan.

Sudah menjadi sunnatullah, setiap ada peraturan pasti ada pelanggaran. Untuk menekan timbulnya pelanggaran, maka ditetapkan sangsi. Demikian pula dalam Islam, untuk masing-masing pelanggaran ada sangsinya. Sangsi-sangsi (uqubat) dalam Islam ada empat macam.

Pertama, hudūd (had-had). Yaitu sangsi yang kadarnya telah ditentukan oleh tuhan. Sangsi macam ini diperuntukan pada pelanggaran kelas tinggi dan membahayakan. Tujuannya untuk memelihara kemaslahatan umum. Misalnya, sangsi bagi pezina, pelacur, peminum khamr, orang yang menuduh zina dan sebagainya. Semuanya telah ditentukan oleh Allah kadar dan jenis sangsinya. Kedua, qishās dan diyat. Adalah sangsi untuk pelanggaran yang terjadi pada badan. Seperti membunuh, memotong hidung orang lain dan sebagainya. Ketiga, Kaffārah. Sangsi yang telah ditentukan kadar dan jumlahnya sebagai tebusan. Contohnya memberi makan 10 orang miskin karena melanggar sumpah.

Keempat, ta’zir. Jenis sangsi untuk setiap pelanggaran. Tapi tidak ditentukan jumlah dan jenisnya secara jelas. Alhasil, selain hudūdqishāsdiyat dan Kaffārah. Sangsi jenis ini adalah otoritas imam (pemerintah) untuk memilih dan menentukan bentuk dan bilangan sangsinya. Seperti, pencuri yang dipenjara. Ini merupakan ijtihad dari Umar bin Khattab. [ al-Tasyri’ al-Jināi’ al-Islāmi, 762: I; an-Nadzāriyatu al-Fikihiyah, 27-28]

Berkaitan dengan sabda Nabi saw. Tentang khamr di atas, rupanya hanya peminum yang sudah ditentukan sangsinya oleh syāri’. Sementar ayat lain –termasuk pengedar Narkoba- belum divonis. Betulkah!? Ternyata tidak begitu. Pengedar narkoba sudah dicakup oleh ayat al-Quran:

إِنَّما جَزاءُ الَّذِينَ يُحارِبُونَ الله وَرَسُولَهُ وَيَسْعَوْنَ في الْأَرْضِ فَساداً أَنْ يُقَتَّلُوا أَوْ يُصَلَّبُوا أَوْ تُقَطَّعَ أَيْدِيهِمْ وَأَرْجُلُهُمْ من خِلافٍ أَوْ يُنْفَوْا من الْأَرْض

Sesungguhnya pembalasan terhadap orang-orang yang memerangi Allah dan Rasul-Nya dan membuat kerusakan di muka bumi, hanyalah mereka dibunuh atau disalib, atau dipotong tangan dan kaki mereka dengan bertimbal balik, atau dibuang dari negeri. [Qs. al-Māidah (5):33]

Aksentuasi dari ayat tersebut adalah orang-orang yang berbuat kerusakan (ifsād). Makna yang dikandungnya sangat umum. Siapa saja yang berbuat kerusakan dalam bentuk apapun, masuk dalam keumuman ayat ini. Termasuk di dalamnya mengedarakan Narkoba, yang berakibat terjadiya patologi sosial (penyimpangan masyarakat). Seperti pemerkosaan, pembunuhan dan sebagainya. Maka jelas bahwa, pengedar Narkoba termasuk mufsidīn fil ardli ( orang-orang yang berbuat kerusakan). [al-Asas fi at-Tafsir, 1362-1363: III, Tafsir al-Maraghi, 105: VI]

Lalu apa sangsi mereka? Melihat sangsi-sangsi di atas, kita lebih dekat melalui had. Sebab, sudah ditentukan oleh ayat di atas. Cuma sangsi dalam ayat tersebut bersifat takhyiri (boleh memilih). Disinilah, perintah –dalam kontek Indonesia adalah Mahkamah Agung atau hakim- bertindak untuk menentukan. Itulah ta’zir. Jadi, sangsi bagi pengedar narkoba adalah komparasi antara had dan ta’zir.

Dalam literatur fikih dijelaskan sifat-sifat ta’zirPertama, diserahkan kepada pemerintah untuk bentuk sangsi, sesuai pelanggaran yang dilakukan. Kedua, pemerintah boleh memberikan pengampunan kepada kasus pelanggaran yang berkaitan denga hak Allah. Untuk hak sesama, pemerintah tidak berhak memberikan dispensasi apalagi membebaskan. Ketiga, yang diperhatikan oleh pemerintah dalam mennetuka ta’zir adalah person. Dalam artian, kemungkinan dalam pemberian sangsi tidak akan sama antara yang satu dengan yang lain. keempat, sangsi yang diberikan tidak menunggu dakwaan seseorang.

Indonesia adalah negara hukum. Maka segala sesuatunya harus tunduk dibawah hukum (undag-undang). Dalam pembuatan UUD ada beberapa hal yang perlu diperhatikan. Pertama,motifnya untuk memelihara dan mewujudkan kemaslahatan umat. Kedua, efektif dalam mencegah adanya kerusakan yang akan terjadi. Ketiga, berat ringannya sangsi harus disesuaikan dengan besar kecilnya pengagaran yang dilakukan. Keempat, diterapkan untuk komponen bangsa. Jangan pilih kasih. (an-Nazdāriyatu al-Fikihiyah, 66-69)

Dari uraian panjang diatas, bisa disimpulkan bahwa hukuman yang bisa diberikan pada sipengedar Narkoba –termasuk juga bosnya- adalah memilih salah satu diantara empat. Dibunuh, disalib, tangan dan kakinya dipotong atau diasingkan ke Nusa Kambangan. Ketika hakim mengetok palu dengan putusan hukuman mati bagi pengedar Narkoba, tentunya fikih juga mengiyakan. Kenapa enggak?! yang jelas, pengedar narkoba mesti dienyahkan dari muka bumi.Wallāhu a’lamu

Posted from WordPress for Android

Posted on 2 Februari 2015, in Agama and tagged , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: