7 Kepala Daerah/Walikota Larang Rayakan Valentine

No-parking-for-any-valentine

SERAMBIMATA,   Bagi kalangan remaja 14 Februari adalah hari istimewa dan ditunggu-tunggu, pasalnya hari yang selalu diidentikkan dengan perayaan hari kasih sayang itu dipandang sebagai momentum untuk mengekpresikan rasa sayangnya kepada seseorang dengan berbagai macam cara. Tidak hanya itu, di berbagai daerah di Indonesia, hari Valentine bisa menjadi sumber pendapatan dengan promosi-promosi yang dilakukan dalam menyambut hari Valentine.

Namun, Tahukah anda kalau ternyata ada tujuh daerah  yang melarang perayaan hari Valentine. Sebagaimana yang dihimpun oleh Serambimata, para  Kepala Daerah/Walkota  itu mempunyai alasan tersendiri agar hari Valentine tak dirayakan di daerah yang mereka pimpin. Siapa saja para kepala daerah tersebut? Bagaimana dengan daerah anda ? Adakah termasuk dari ketujuh daerah tersebut ?

1. Aceh

Sebagai satu-satunya wilayah yang menerapkan Syariat Islam, tak mengherankan jika Pemerintah Kota (Pemkot) Banda Aceh melarang warganya merayakan Valentine, khususnya kalangan muda.

Pemkot  menyatakan bahwa perayaan Hari Valentine dianggap bertentangan dengan syariat Islam.

Untuk mengantisipasi kemungkinan ada yang tetap merayakannya, Wilayatul Hisbah (WH) atau polisi syariah, akan meningkatkan patroli di tempat-tempat nongkrong remaja yang ada di ibukota provinsi Aceh.

“Jika ada yang kedapatan merayakannya, anggota WH akan memberikan pengertian kapada para remaja bahwa Valentine Day bukan budaya Islam,” kata Kepala Bagian Hubungan Masyarakat (Kabag Humas) Pemko Banda Aceh, Marwan, Jumat, (13/02/2015).

Sementara itu, Walikota Banda Aceh Illiza Sa’aduddin Djamal sejak dua hari lalu telah mengeluarkan seruan kepada warganya untuk tidak merayakan Hari Valentine. Seruan itu juga telah dibagi-bagikan ke puluhan sekolah tingkat menengah pertama dan atas yang ada di ibukota Aceh.

Nurul, seorang siswa SMA di Banda Aceh, menyebutkan bahwa di sekolahnya seruan Walikota Banda Aceh itu ditempel di papan pengumuman sekolah.

“Saya dan kawan-kawan tidak akan merayakan Valentine Day karena tak sesuai dengan syariat Islam,“ ujarnya.

2. Padang

Larangan serupa juga disampaikan Wali Kota Padang Mahyeldi. Dia mengeluarkan himbauan kepada warga kota untuk tidak ikut merayakan hari valentine atau hari kasih sayang yang bertepatan dengan 14 Februari
2015.
“Valentine Day atau hari kasih sayang adalah budaya yang menyimpang dari norma dan aturan agama karena itu haram merayakannya,” katanya di Padang, Jumat (13/2/2015).
Menurutnya, dalam referensi Islam dan budaya Minang tidak ada mengatur tentang Valentine dan berdasarkan pengalaman selama ini ujung-ujungnya adalah pergaulan bebas.

Mahyeldi menyebutkan pihaknya akan memusyawarahkan pelarangan perayaan itu bersama Majelis Ulama Indonesia (MUI), Lembaga Kerapatan Adat Alam Minangkabau (LKAAM), kantor Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) dan Organisasi Masyarakat (Ormas) di daerah tersebut.

“Tidak ada yang namanya Valentine Day di Kota Padang,” ujarnya.

Dia menegaskan jika ada pedagang yang menjual pernak-pernik Valentine akan dirazia, apalagi disinyalir saat ini beredar hadiah alat kontrasepsi.

“Ini sudah tidak benar dan tidak sesuai etika dan norma orang timur,” katanya.

Terkait pelarangan ini, Alfin, seorang warga mengatakan bahwa ini adalah hal yang mengerikan. Namun hal berbeda diungkapkan oleh warga lain, Nilam, “yang dilarang kan event-nya alias kegiatan-kegiatannya. Kalau kasih sayang maah bisa dibagianytime, enggak perlu pake moment. Ini very good regulation,” ujar Nilam.

3. Surabaya

Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini melarang para siswa-siswi merayakan hari valentine, baik di dalam maupun di luar sekolah guna mencegah kegiatan negatif di kalangan remaja.
Larangan tersebut disampaikan Dinas Pendidikan Surabaya melalui surat edaran Nomor
421/1121/436.4/2015 tentang Pelarangan Perayaan Valentine Day di Sekolah-sekolah.
Menurut dia, surat edaran itu dimaksudkan dalam upaya menjaga Kota Surabaya
tidak melakukan kegiatan yang bertentangan dengan norma sosial dan budaya Indonesia. “Kami juga mengirim surat edaran kepada seluruh orang tua atau wali murid untuk dapat mengawasi putra-putrinya,” kata Kepala Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Surabaya M. Ikhsan, Jumat (13/2/2015).

4. Mataram

Wali Kota Mataram Ahyar Abduh melarang berbagai bentuk pelaksanaan kegiatan perayaan valentine day di sekolah-sekolah di untuk mencegah pelajar tidak terjebak hal-hal di luar ketentuan nilai agama serta kearifan lokal.

“Pemerintah kota sudah tegas melarang berbagai kegiatan valetine day atau hari kasih sayang pada 14 Februari di sekolah-sekolah,” katanya di Mataram, Nusa Tenggara Barat, Jumat (13/2/2015).
Larangan itu bahkan telah dibuat dalam betuk imbauan Wali Kota Mataram Nomor 008/13/II/15 tentang pelarangan sekolah melakukan berbagai kegiatan dalam rangka peringatan hari valentine.
Dalam imbauan itu disebutkan, kepada semua sekolah untuk tetap memfokuskan pelaksanaan kegiatan belajar mengajar, terutama menghadapi persiapan ujian sekolah dan ujian nasional yang akan dilaksanakan dalam waktu dekat.
“Dalam hal ini pemerintah kota mengharapkan semua lapisan masyarakat terutama jajaran pendidik dan para orang tua untuk bekerja sama dalam melakukan pengawasan,” ujarnya.

5. Makassar

Wali Kota Makassar, Sulawesi Selatan, Mohammad Ramdhan Pomanto juga melarang perayaan dan penjualan suvenir Valentine yang dianggapnya bukan berasal dari kebudayaan Indonesia.
“Saya melarang perayaan termasuk penjualan suvenir-suvenir valentine yang bergambar love atau hati,” kata Ramdhan kepada Wartawan di Balai Kota Makassar, Selasa (10/2/2015).
Menurut dia, perayaan atau pembelian produk tanda hati cenderung hanya mengikuti budaya asing yang tidak sesuai budaya timur.
“Ini mengajak kita kesesatan dan mengarah kesusilaan, kasih sayang tidak mesti harinya di buat-buat, karena kasih sayang itu tidak ada batasan apalagi penentuan hari,” tegasnya.

6. Nusa Tenggara Barat 

Larangan merayakan Valentine juga diberlakukan di Nusa Tenggara Barat, Gubernur NTB TGH. Muhammad Zainul Majdi menilai peringatan hari valentine yang selalu dirayakan setiap 14 Februari tidak sesuai dengan nilai-nilai budaya asli Indonesia.
“Tidak semua kebudayaan dari luar itu baik untuk ditiru dan terapkan di negara kita, karena sejatinya masyarakat Indonesia miliki kebudayaan tersendiri dan ini harus disadari,” kata Zainul Majdi di Mataram, Kamis (12/2/2015).
Dia mengatakan, jika dilihat, budaya valentine yang berasal dari Barat sangat tidak sesuai dengan kepribadian orang Indonesia.
“Dari latar belakangnya saja hari valentine ini bukan sesuatu yang menciptakan optimisme, mengajarkan tentang percaya diri, menciptakan semangat dan keberanian. Tetapi justru mengajarkan kita kecengengan, keputusasaan, keburukan, dan mengajarkan tradisi yang tidak baik,” jelasnya.

7. Depok

Walikota Depok Nur Mahmudi Ismail telah melarang perayaan valentine sejak beberapa tahun yang lalu. Hal itu dilakukannya sebagai salah satu upaya mengantisipasi terjadinya ‘pergaulan bebas’ di kalangan remaja. Larangan itu mendapat dukungan dari berbagai pihak, antara lain Majelis Ulama Indonesia (MUI) Depok, Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Depok, dan Front Pembela Islam (FPI) Depok.

Lalu, bagaimana dengan daerah anda ?

Posted on 14 Februari 2015, in Sosial and tagged , , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: