Banyak Kesamaan Wahabi-NU, Seharusnya Islam Bersatu

colors_of_islam_by_abdelghany copy

SERAMBIMATA, Perselisihan dan perbedaan pendapat antara Wahabi dan Nahdlatul Ulama (NU) adalah persoalan lama yang tak pernah usai. Pemahaman yang terus bersebarangan antara keduanya terus mengemuka karena beberapa faktor, antara lain kesalahan informasi yang didapat oleh masing-masing pihak baik Wahabi atau NU, ketidak siapan dalam menyikapi perbedaan, serta subjektifitas dalam memahami ajarannya sendiri dan ajaran kelompok lain.

Akibatnya, tak jarang kedua kelompok Islam itu saling menghujat bahkan di beberapa daerah telah menimbulkan aksi yang menjurus pada terjadinya bentrok fisik terutama antar kedua pengikut kelompok Wahabi – NU itu.  Bila hal itu terus terjadi, maka bukan tidak mungkin ukhwah Islamiyah di Republik ini akan terkoyak sebagaimana yang sedang terjadi di beberapa negara Islam di Timur Tengah. Kenyataan ini melahirkan keprihatinan banyak pihak, salah satunya adalah Imam Besar Masjid Istiqlal KH. Ali Mustafa Yaqub. (Baca : Perlu Diwaspadai, Kata Hillary ISIS Rekayasa AS untuk Pecah Belah Timur Tengah)

Dikutip dari muslimedianews.com Ulama NU itu mengupas tentang Titik Temu antara Wahabi-NU. Tulisan yang dimuat di Republika tersebut berjudul  Titik Temu Wahabi-NU”  edisi Jumat, 13 Februari 2015.

Tulisan tersebut tidak lain merupakan salah satu usaha untuk memupuk persatuan umat Islam, khususnya dengan kalangan Wahabi yang terkenal ekstrim pemahamannya. Berkaitan dengan tulisan itu, KH. Sholahuddin Wahid atau Gus Solah memberikan penilaian bagus terhadap tulisan tersebut.

“Tulisan bagus. Beliau alumni Tebuireng “, tulis Gus Solah diakun twitternya. (14/2/2015)

Dalam tulisannya, KH. Ali Mustofa Ya’kub berusaha memperpendek jarak NU dan Wahabi dengan pendekatan yang sedikit berbeda dalam memahami siapa “Wahabi” dan siapa yang diikuti oleh mereka.

Menurut Kyai Ali, titik temu NU-Wahabi, pertama; sedikitnya perbedaan antara Ibnu Taimiyah, dan muridnya Ibnul Qayyim al-Jauziyyah yang dianggap sebagai ulama yang menjadi rujukan kalangan Wahhabi dengan ulama NU. Tetapi sebenarnya pengikut Wahabi tidak selalu merujuk kepada kedua ulama Hanbali tersebut.

Kedua, menurut Kyai Ali, sumber hukum syari’at Islam yang dipakai oleh Wahhabi adalah al-Qur’an, al-Hadis, Ijma, dan Qiyas. Artinya Wahhabi yang dimaksud adalah yang mengakui qiyas sebagai salah satu sumber hukum Islam.

Ketiga, wahhabi dianggap sebagai pengikut madzhab Hanbali. Artinya wahhabi yang bermadzhab, tetapi kenyataannya pengikut wahhabi tidak bermadzhab (al-laa madzhabiyyah)

Keempat, wahabi yang dimaksud adalah wahabi yang memercayai adanya siksa kubur, syafa’at Nabi dan orang saleh pada hari kiamat nanti. Dalam hal ini memang tidak ada beda dengan Aswaja NU.

Kelima, wahabi yang dimaksud adalah wahabi yang shalat Jumat dengan dua kali adzan dan shalat Tarawih 20 rakaat. Sebab yang demikian itu berlaku di Arab Saudi, tetapi pengikut wahhabi di Indonesia ternyata berbeda dengan yang di Saudi.

Keenam, wahabi yang dimaksud adalah wahhabi yang membenarkan tawasul (berdoa dengan menyebut nama Nabi Muhammad SAW atau orang saleh) dan tidak menganggapnya sebagai kesyirikan.

Ketujuh, wahhabi yang dimaksud adalah wahhabi yang memercayai adanya karamah para wali (karamat al-awliya) tanpa mengultuskan mereka.

Lalu bagaimana dengan ajaran  ulama wahhabi seperti Syaikh al-Albani, Syaikh al-Utsaimin, Syaikh Bin Baz, Syaikh Al-Fauzan, Syaikh Jamil Zainu, Syaikh Rabi’, Syaikh dan sebagainya. Mereka tersebut yang justru banyak dijadikan rujukan pengikut wahhabi sekaligus menjadikan sesama pengikut wahhabi saling menghujat.

Bila wahabi yang dimaksud adalah seperti yang dijabarkan oleh KH. Ali Mustofa Ya’kub, maka wahabi yang ‘beredar di pasar’ Indonesia saat ini adalah wahhabi yang sudah melenceng dari yang ada di Saudi.

Posted on 16 Februari 2015, in Agama and tagged , , , . Bookmark the permalink. 3 Komentar.

  1. setuju bnget……memang islam harus bersatu. jngan bercerai berai. saling membantu antar umat. jngan malah menjelek2an

    Suka

  2. Sejauh yg kukenal, salafi tdk extrim, bahkan melarang mengkafirkan sesama muslim kec yg jelas dari nabi, gak boleh menghukumi pelaku kecuali oleh pemimpin yg sah. Silahkan lihat Rodja tv/radio. Saudi bahkan menghukum mati pelaku terorisme/alqaedah & syiah yg jelas makar thd negara yg sah.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: