Hukum Bersetubuh Dengan Jin, Zinakah?

image

SERAMBIMATA – Ada pengakuan jujur dari sahabat saya kalau ia pernah menikah dengan seorang jin perempuan, tidak hanya itu ia bahkan sudah pernah melakukan hubungan layaknya suami istri. Antara percaya dan tidak sayapun merenung sambil hati bergumam, mungkinkah itu terjadi? Bila benar adanya, bagaimana hukum persetubuhan itu? Terlebih bila si laki-laki sudah beristri?

Kita semua sudah mengetahui bahwa pelaku zina wajib mendapatkan hukuman had. Bisa dengan dirajam jika masuk kategori zinamuhshan atau dengan didera seratus kali dan diasingkan selama setahun jika pelakunya masuk kategori zina ghairu muhshan.

Untuk menjawab pertanyaan di atas, maka kami akan mengajukan pandangan seorang ulama dari kalangan madzhab syafii, dan pandangan ulama lain dari kalangan madzhab maliki.

Pandangan pertama datang dari al-Iraqi, salah seorang ulama kenamaan yang berafiliasi dengan madzhab syafii. Al-Iraqi pernah ditanya mengenai seseorang yang menyetubuhi jin perempuan ajnabiyah (yang bukan isterinya). Dan sempat mengalami keraguan dengan jawabannya. Sebab di satu sisi, jin perempuan itu memiliki farji yang menimbulkan gejolak syahwat, namun di sisi lain secara tabiatnya manusia takut kepadanya.

Namun pada akhirnya al-Iraqi memilih untuk mengunggulkan pendapat yang menyatakan, bahwa jika seorang menyetubuhi jin perempuan sedang jin tersebut berwujud dengan bentuk manusia, maka orang itu harus dijatuhi hukuman had. Sebab, pada saat itu ia merasa nyaman atau tidak takut padanya. Namun jika jin perempuan tersebut masih berwujud jin atau wujud aslinya, maka orang itu hanya di-ta’zir karena jin perempuan itu seperti angin dan secara tabianya ia takut kepadanya. 

قَالَ الْعِرَاقِيُّ سُئِلَتُ عَمَّنْ وَطِئَ الْجِنِّيَّةَ الْأَجْنَبِيَّةَ هَلْ يَجِبُ عَلَيْهِ الْحَدُّ فَتَرَدَّدَ جَوَابِي مِنْ جِهَةِ أَنَّهَا ذَاتُ فَرْجٍ مُشْتَهًى لَكِنَّ الطَّبْعَ يَنْفِرُ مِنْهَا فَهِيَ كَالْبَهِيمَةِ ثُمَّ تَرَجَّحَ عِنْدِي أَنَّهُ إنْ وَطِئَهَا ، وَهِيَ بِشَكْلِ الْآدَمِيَّاتِ ، وَجَبَ الْحَدُّ ؛ لِأَنَّهَا حِينَئِذٍ لَا يَنْفِرُ مِنْهَا ، وَإِنْ كَانَتْ بِشَكْلِ الْجِنِّيَّاتِ عُزِّرَ فَقَطْ ؛ لِأَنَّهَا كَالرِّيحِ وَلِنَفْرَةِ الطَّبْعِ مِنْهَا

“Al-Iraqi berkata, saya pernah ditanya mengenai orang bersetubuh dengan jin perempuan ajnabiyah, apakah ia wajib dihad? Jawabanku dalam soal ini meragukan dilihat dari sisi bahwa jin perempuan memilik farji yang bisa menimbulkan gejolak syahwat, akan tetapi secara tabiatnya orang itu takut pada jin. Maka ia (jin perempuan) itu sebagaimana binatang buas. Kemudian, pendapat yang unggul menurutku adalah bahwa jika seseorang menyetubuhi jin perempuan sedangkan si jin tersebut berwujud dengan bentuk manusia maka hukuman had wajib atasnya. Sebab, pada saat itu orang tersebut merasa nyaman atau tidak ketakutan dari si jin perempuan. Dan jika jin perempuan berwujud jin maka orang yang menyetubinya hanya dita’zir karena jin perempuan itu seperti angin dan secara tabiatnya orang takut kepadanya” (Zakariya al-Anshari, Asna al-Mathalib Syarh Raudl ath-Thalib

Pandangan serupa juga dikemukakan oleh Muhammad Arafah ad-Dasuki, salah seorang ulama dari kalangan madzhab maliki. Ia mengatakan apabila jin itu divisualisasikaan dengan bentuk manusia maka menyetubuhinya menurut syara` adalah zina dan pelakunya harus dihad, begitu juga menyetubuhinya jin terhadap manusia.

وَأَمَّا إذَا تُصُوِّرَ بِصُورَةِ الْآدَمِيِّ كَانَ وَطْؤُهُ زِنًا شَرْعًا وَيُحَدُّ الْوَاطِئُ ، وَكَذَا يُقَالُ فِي وَطْءِ الْجِنِّيِّ لِآدَمِيٍّ

“Adapun jika divisualisasikan dengan bentuk manusia maka menyetubuhinya manusia terhadap jin sebagai zina secara syara, begitu juga menyetubuhinya jin terhadap manusia” (Muhammad Arafah ad-Dasuki, Hasyiyah ad-Dasuqi ‘ala Syarh al-Kabir, Bairut-Dar al-Fikr, juz, 4, h. 313)

Berangkat dari penjelasan ini, maka jika seoarang laki-laki muslim dan sudah beristeri melakukan hubungan badan dengan jin perempuan ajnabiyah maka tindakannya tersebut dianggap sebagai zina, dan ia bisa kenai hukuman had. Dengan catatan jin perempuan tersebut saat disetubuhinya berwujud dengan bentuk manusia.

Kendati demikian, untuk menentukan seseorang dikatakan berzina dan wajib mendapatkan hukuman had bukanlah perkara mudah. Seseorang yang berzina dengan perempuan saja itu sangat sulit pembuktiannya, apalagi pembuktian zina dengan jin.     

Demikian jawaban yang dapat kami kemukakan. Semoga apa yang telah diuraikan di atas dapat dipahami dengan baik. Saran kami, jangan sekali-sakali berhubungan dengan bangsa jin karena mereka adalah makhluk yang berbeda jenis dan bisa membahayakan diri kita. Kami selalu terbuka untuk menerima saran dan kritik dari pembaca.

Sumber : NU Online

Posted from WordPress for Android

Posted on 5 Maret 2015, in Agama and tagged , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: