Tangisan Nenek Di Pengadilan Demi Berharap Keadilan

image

SERAMBIMATA – Situbondo tiba-tiba menjadi topik pemberitaan Nasional. Televisi, koran,  dan media sosial lainnya ramai-ramai memberitakan kota kecil yang berjuluk kota santri ini. Sayangnya yang diberitakan bukan prestasinya, keunggulan ataupun keunikannya, tapi karena tangisan nenek tua renta di pengadilan yang memelas belas kasihan dan ampunan majlis hakim atas tuduhan pencurian tujuh batang kayu jati yang merasa tak pernah dilakukannya.

Asyani alias Bu Muaris, seorang nenek 63 tahun menangis histeris di ruang sidang pengadilan negeri (PN) Situbondo. Nenek renta asal Kecamatan Jatibanteng Kabupaten Situbondo meminta belas kasihan majelis hakim, agar dibebaskan dari tuduhan pencurian kayu jati (illegal logging). 

Para pengunjung sidang bahkan pengacaranya menangis melihat nenek renta itu bersimpuh dan sambil menangis histeris di muka hakim.
’’Pak Hakim, saya minta ampun. Saya tidak mencuri. Ibu (JPU) saya juga minta ampun,” kata sang nenek sambil menangis.

image

Nenek Asyani, 63, bersimpuh sambil menangis di depan majelis hakim PN Situbondo untuk meminta dirinya dibebaskan

Maklum menurut pengakuan nenek renta itu melalui eksepsi atau pembelaan yang dibacakan Kuasa Hukumnya dari Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Nusantara Situbondo, kayu yang ditebang sekitar 5 tahun lalu itu, berada di atas lahannya sendiri.

Yang lebih memprihatinkan lagi, ternyata nenek Asyani sudah hampir tiga bulan mendekam di tahanan titipan rutan Situbondo.  Tinggal di ruangan pengab dan berlantai dingin itu bisa jadi akan lebih lama karena sidang di Pengadilan Negeri (PN) Situbondo belum kunjung menghasilkan putusan. Sidang baru memasuki tahap materi eksepsi atas dakwaan jaksa penuntut.

Kasus penebangan tujuh batang kayu jati yang dituduhkan kepada Asyani terjadi sekitar enam tahun lalu. Lalu, pada Desember 2014, karena baru ada uang untuk ongkos menggarap, kayu jati yang sudah disimpan enam tahun itu dibawa ke rumah tukang kayu untuk dibuat semacam lencak (tempat duduk seperti tempat kasur).

Saat kayu-kayu akan diangkut pikap itulah, petugas Perhutani memergoki dan menyangka kayu jati tersebut merupakan kayu curian.

Atas laporan Perhutani, Asyani ditangkap dan ditahan sejak 15 Desember 2014. Tak hanya Asyani, orang yang saat itu bersamanya juga diringkus. Mereka adalah Ruslan, menantu Asyani; Sucipto, tukang kayu; dan Abdus Salam, sopir pikap.

Di hadapan majlis hakim nenek Asyani mengaku kalau dirinya mengambil kayu jati di lahan sendiri.
“Sekarang lahan itu sudah saya jual. Penebangnya suami saya yang sekarang sudah meninggal. Jadi, saya tidak mencuri, saksinya orang sekampung,” ungkap Asyani dengan bahasa Madura yang sangat kental. Maklum ia tidak bisa berbahasa Indonesia.        

Pengakuan Asyani itu diperkuat bukti-bukti yang ditunjukkan kuasa hukumnya berupa fotokopi warna bukti kepemilikan lahan Asyani enam tahun lalu. Termasuk, bukti foto bekas potongan kayu jati di lahan milik Asyani.

Bahkan menurut kuasa hukumnya, kepemilikan lahan itu dibenarkan Kades setempat yang bahwa lahan itu milik hak warisnya, yaitu Asyani. Sehingga ia sangat nenyayangkan dan bertanya ada apa dengan semua ini ?  Sementara kasusnya justru tetap jalan.

Nenek Asyani ini dijerat dengan pasal 12 juncto pasal 83 UU Nomor 18 tahun 2013, tentang Pencegahan dan Pemberantasan Pengrusakan Hutan.

Usai mendengarkan eksepsi kuasa hukum terdakwa, majelis hakim yang dipimpin Kadek Dedy Arcana memutuskan menunda persidangan. Sidang akan dilanjutkan dengan agenda tanggapan eksepsi dari Jaksa Penuntut Umum pada Kamis mendatang.

Sementara nenek Asyani terlihat pasrah menerima nasibnya. Wanita renta tak berdaya itu mungkin tidak tahu betapa banyak orang-orang besar dan berkuasa di atas sana yang masih berlenggang bebas meskipun bersatus tersangka atas pencurian uang negara miliaran rupiah. Sementara dirinya, harus meringkuk di pengabnya tahanan atas tuduhan pencurian batangan kayu yang merasa tak pernah dilakukannya, bahkan harus mengemis-ngemis keadilan sambil berurai air mata.
Andai ia mengerti, nenek Asyani mungkin akan bergumam dalam hati “inikah bukti kalau hukum Republik ini hanya tajam ke bawah tumpul ke atas”. (Hans)

Posted from WordPress for Android

Posted on 11 Maret 2015, in Sosial and tagged , , . Bookmark the permalink. 1 Komentar.

  1. Waduh, tuh peradilan gak buat praperadilan terleboh dahulu…, sebelum proses terdakwah. Kalo bsa dari semua dinas diberi wejangan kepada stiap anggotanya, tentang demografi situasi dari wilayah yang menjadi tempat penugasan. Gak langsung nge-justis,,, seolah-olah itu akan menjadikan stigma. Kalo uda salah faham langsung di cabut aja dakwaanya.., khususnya dinas perhutani langsung meminta maaf ke semua kluarganya dan orang2 yang telah difitnah. Biar itu menjadi efek jerah tersendiri bagi orang dan khususnya dinas2 terkait.
    Karena orang terbaik adalah orang yang mengakui kesalahannya tanpa pandang derajat.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: