Hukum Membaca Al Qur’an Dengan Lenggam Jawa atau Daerah

image

SERAMBIMATA, Polemik membaca Al Qur’an dengan lenggam jawa terus menimbulkan polemik. Perdebatan cara membaca Al quran dengan irama selain irama Arab sebagaimana yang sudah dikenal selama ini makin tajam. Ada yang membolehkan ada juga yang  melarangnya, bahkan yang lebih ekstrim mengharamkannya. Lalu, bagaimana sebenarnya Islam menyikapinya? Termasuk bagaimana pendapat para ulama Islam terdahulu?

Bermula dari peringatan Isra’ mi’raj yang di selenggarakan di istana negara beberapa waktu lalu, Muhammad Yasir Arafat, dosen UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta tampil sebagai qori (pembaca Al Quran) dan membacakan surat An-Najm ayat 1-15 dengan gaya Jawa di depan Presiden Joko Widodo dan para tamu negara lainnya. Kontan saja, gaya membaca Al Qur’an sang Qori’ menimbulkan perdebatan sengit dikalangan Muslim, ada yang mengecamnya tapi juga ada yang mendukungnya.

Membaca al-Quran merupakan ibadah yang sangat besar pahalanya, bahkan disunnahkan juga mengindahkan bacaannya. Sampai disini sebenarnya tidak ada persoalan. Persoalan kemudian timbul ketika membaca al-Quran dengan langgam non-Arab. Misalnya langgam Jawa atau Batak.

Untuk menjawab persoalan ini maka kami akan menghadirkan pandangan para ulama tentang pembacaan al-Quran dengan pelbagai langgam. Asy-Syasyi dalam kitab al-Hilah mendokumentasikan tentang perbedaan para ulama dalam menyikapi pembacaan al-Quran dengan pelbagai langgam. Menurutnya ada dua kalangan ulama, ada yang membolehkan dan ada yang tidak.

وَقَالَ الشَّاشِيُّ فِي الْحِيلَةِ فَأَمَّا الْقِرَاءَةُ بِالْأَلْحَانِ فَأَبَاحَهَا قَوْمٌ وَحَظَرَهَا آخَرُونَ

“Asy-Syasyi dalam kitab al-Hilah, adapun membaca (al-Qur`an) dengan pelbagai langgam maka sebagian kalangan membolehkan sedang kalangan yang lain melarangnya. (Lihat ar-Ramli, Hasyiyah ar-Ramli, juz, 4, h. 344)

Sedangkan imam Syafii cenderung untuk memerinci. Menurutnya membaca al-Quran dengan pelbagai langgam adalah boleh sepanjang tidak merubah huruf dari nazhamnya. Namun apabila sampai menambahi hurufnya maka tidak diperbolehkan.  

وَاخْتَارَ الشَّافِعِيُّ التَّفْصِيلَ وَإِنَّهَا إنْ كَانَتْ بِأَلْحَانٍ لَا تُغَيِّرُ الْحُرُوفَ عَنْ نَظْمِهَا جَازَ وَإِنْ غَيَّرَتْ الْحُرُوفَ إلَى الزِّيَادَةِ فِيهَا لَمْ تَجُزْ

“Asy-Syasyi dalam kitab al-Hilah, adapun membaca (al-Qur`an) dengan pelbagai langgam maka sebagian kalangan membolehkan sedang kalangan yang lain melarangnya. Imam Syafi’i memilih untuk merincinya, jika membacanya dengan pelbagai langgam yang tidak sampai merubah huruf dari nazhamnya maka boleh, tetapi apabila merubah hurufnya sampai memberikan tambahan maka tidak boleh” (Hasyiyah ar-Ramli, juz, 4, h. 344)

Pandangan imam Syafii sebenarnya ingin menegaskan bahwa boleh saja al-Quran dibaca dengan pelbagai langgam asalkan tidak merusak tajwid, mengubah orisinalitas huruf maupun maknanya. Pandangan imam Syafii tersebut kemudian diamini juga oleh ad-Darimi dengan mengatakan bahwa membaca al-Quran dengan pelbagai langgam adalah sunnah sepanjang tidak menggeser huruf dari harakatnya atau menghilangkannya. Sebab, menggeser atau menghilangkan huruf dari harakatnya adalah haram.  

وَقَالَ الدَّارِمِيُّ الْقِرَاءَةُ بِالْأَلْحَانِ مُسْتَحَبَّةٌ مَا لَمْ يُزِلْ حَرْفًا عَنْ حَرَكَتِهِ أَوْ يُسْقِطُ فَإِنَّ ذَلِكَ مُحَرَّمٌ

Ad-Darimi berkata, membaca dengan pelbagai langgam itu disunnahkan sepanjang tidak menggeser huruf dari harakatnya atau menghilangkannya karena hal itu diharamkan”. (Hasyiyah ar-Ramli, juz, 4, h. 344)

Dengan mengaju pada penjelesan singkat ini, maka jawaban kami adalah boleh membaca al-Quran dengan langgam Batak atau Jawa sepanjang tidak menabrak sisi tajwid, makharij huruf, dan terpeliharanya orisinalitas makna al-Quran itu sendiri. 

Demikian jawaban yang dapat kami kemukakan. Semoga bisa dipahami dengan baik. Sikapilah perbedaan pandangan dengan bijak. Dan kami selalu terbuka untuk menerima saran dan kritik dari pada para pembaca.

Sumber : bahtsul masail NU online.

Posted from WordPress for Android

Posted on 25 Mei 2015, in Agama and tagged , , . Bookmark the permalink. 5 Komentar.

  1. Reblogged this on Abebae's Blog and commented:
    cukup berbobot pembahasannnya

    Suka

  2. Alhamdulillah.. pencerahan

    Suka

  3. Mohon maaf.. walau saya masih awam.. tapi saya berpendapat bahwa kegiatan qori di atas adalah “nyleneh” dan terkesan senang dgn kehebohan dalam praktik2 agama..
    Maaf, itu bikin tabrakan2 di kalangan masyarakat biasa yg awam sperti saya.. Maksudnya, syiar Islam akan terkikis bahkan terputus terutama utk anak2 penerus muslim.

    Baca qur’an sudah indah dan syahdu sperti skrg aja sudah ga asyik buat anak2.. apalagi kalo pake langgam daerah… Bisa2 nanti lama-lama baca qur’an pakai musik rock… Na’udzubillah.. #save_syiar_kpd penerus muslim

    Suka

  4. Betul itu P.Kyai, saya setuju soal baca alquran dengan langgam jawa atau daerah lainnya. Sebab menurut sejarah yg saya pelajari Sunan Kalijaga,Sunan Bonang,Sunan Drajat menggunakan budaya jawa sewaktu penyebaran islam.Waktu itu masa transisi dari Majapahit ke Demak Bintara dimana pertimbangan para wali tdk mungkin pada masa transisi langsung masuk ke pelajaran inti tapi harus melalui budaya setempat.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: