Malu dan Tak Pantas Masuk Surga

image

SERAMBIMATA, Suatu kali Fudlail ibn ‘Iyadl berkata, “Seandainya saya diminta memilih antara dua hal, yakni dibangkitkan lalu dimasukkan surga atau tidak dibangkitkan sama sekali, saya memilih yang kedua.” Fudlail malu. Tokoh sufi ternama ini merasa tak pantas menerima ganjaran pahala seandainya ia memang mendapatkannya.

Fudlail ibn ‘Iyâdl bukan sedang ingkar terhadap surga dan kebahagiaan di dalamnya. Gejolak jiwanya lah yang mendorongnya bersikap semacam itu. ‘Abdul-Malik ‘Alî al-Kalib mencatat pernyataan ulama yang juga kerap disapa Abu Ali tersebut dalam kitab Raudlatuz Zâhidîn ketika membahasan Cinta dan Malu kepada Allah.

Kecintaan Fudlail yang memuncak kepada Tuhannya menghilangkan angan-angan akan pamrih apapun. Kebaikan yang ia lakukan tak ada bandingnya dengan anugerah-Nya yang melimpah. Bahkan kesanggupannya berbuat baik sesungguhnya adalah secuil dari anugerah itu sendiri.

Suatu hari seorang laki-laki datang dan bertanya kepada Fudlail ibn ‘Iyâdl, “Wahai Abu Ali, kapan seseorang mencapai tingkat tertinggi cinta kepada Allah ta’ala?”

“Ketika bagimu sama saja: Allah memberi ataupun tidak. Saat itulah kau di puncak rasa cinta,” jawab Fudlail.

Posted from WordPress for Android

Posted on 8 Juni 2015, in Hikmah and tagged , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: