Mengapa Tarawih nya 20 Rakaat? Ini Dalilnya

image

SERAMBIMATA, Perdebatan tentang jumlah rakaat tarawih adalah persoalan lama yang tetap mengemuka terutama ketika tiba bulan Ramadhan. Bahkan persoalan khilafiah itu kiai tajam setelah belakangan kian santer rasanya orang-orang yang meneriakkan bahwasannya Shalat Tarawih 20 rakaat itu Bid’ah, yang dilakukan Nabi SAW hanya 8 rakaat ditambah 3 rakaat sebagai Witir. Entah hal itu disuarakan di Mimbar-Mimbar, Majalah, selebaran, Radio, TV dan khususnya di Media Internet.

Sebenarnya bagi kami Ahlussunah Wal Jama’ah yang berpegangan pada salah satu Imam dari Madzhab 4 yang tak lain adalah Generasi Salaf, tak ada masalah jika ada yang melakukan Tarawih 8 rakaat bahkan 2 rakaat pun juga tak masalah. Yang jadi masalah adalah ketika ada orang yang melakukan Shalat Tarawih 8 rakaat ditambah Witir 3 rakaat kemudian menganggap lebih dari itu adalah Bid’ah.

Pada dasarnya Shalat Tarawih sendiri tidak dibatasi oeh Rasulullah SAW, hanya saja ada sekelompok orang yang salah faham akan sebuah Hadits yang dianggapnya sebagai Shalat Tarawihnya Rasulullah, sedangkan yang berbeda dengan pemahamannya dianggap Salah dan Bid’ah. Baiklah untuk memperjelas seperti apa sebenarnya Shalat Tarawih yang dilakukan oleh Rasulullah SAW yang kemudian dilanjutkan oleh Generasi Sahabat di bawah pimpinan Khulafa’ Ar-Rasyidin. Kemudian dilanjutkan oleh Generasi Tabi’in sampai pada masa Para Imam Madzhab, berikut ini adalah penjelasan rinci tentang hal tersebut:

Shalat Tarawih adalah termasuk Qiyamullail (menghidupkan malam dengan Ibadah) di Bulan Ramadhan, dan ini adalah termasuk Shalat Sunnah yang telah dilakukan oleh Rasulullah SAW dan Para Sahabat yang pada awalnya dilakukan sendiri-sendiri akan tetapi pada akhirnya dilakukan dengan cara berjama’ah.

عن السيدة عائشة رضي الله عنها قالت : ( إن النبي صلى الله عليه وسلم صلى في المسجد فصلى بصلاته ناس، ثم صلى من القابلة فكثر الناس، ثم اجتمعوا في الليلة الثالثة فلم يخرج إليهم رسول الله صلى الله عليه وسلم، فلما أصبح قال:     “قد رأيت الذي صنعتم ولم يمنعني من الخروج إليكم إلا أني قد خشيت أن تفرض عليكم”). رواه البخاري (2012) وأبو داود (1373)
Telah diriwayatkan dari Sayyidah Aisyah r.a. beliau berkata: “Sesungguhnya Nabi SAW Shalat di Masjid kemudian diikuti orang-orang, kemudian Shalat lagi di malam berikutnya maka orang-orang yang Shalat semakin banyak. Kemudian di malam ketiganya orang-orang telah berkumpul (di Masjid) akan tetapi Rasulullah SAW tidak keluar. Ketika tiba di pagi harinya Rasulullah SAW bersabda: “Sungguh aku telah melihat apa yang kalian lakukan, (sebenarnya) tiada yang menghalangiku keluar kepada kalian melainkan aku takut Shalat Tarawih diwajibkan atas kalian”. HR. Bukhari no. 2012 dan Abu Daud no. 1373.

Ketika para Sahabat mengetahui sebab tidak keluarnya Rasulullah SAW itu karena khawatir Shalat Tarawih itu diwajibkan kepada mereka bukan karena pada Qiyamullail tersebut ada pelanggaran secara Syariat, sehingga malam berikutnya para Sahabat tetap pergi ke Masjid dan melakukan Shalat di Masjid. Sebagian mereka ada yang Shalat sendirian dan sebagian ada yang berjama’ah dan hal ini berlangsung sampai pada masa pemerintahan Sayyidina Umar r.a.

Suatu ketika Sayyidina Umar r.a. memasuki Masjid dan menemukan mereka dalam jumlah yang banyak sehingga Masjid penuh sesak oleh Para Sahabat dan Tabi’in, dan setiap orang ada yang Shalat sendirian ada pula yang berjama’ah dengan temannya. Sayyidina Umar r.a. memandang hal ini dengan pandangan penuh wawasan terhadap keadaan mereka untuk mencarikan jalan keluar agar mereka lebih Khusyu’. Sehingga beliau memberi ketetapan dengan mengumpulkan mereka pada satu Imam yaitu Sayyidina Ubay Bin Ka’ab r.a. sebagaimana yang diriwayatkan oleh Sayyidina Abdurrahman Bin Abdulqori, beliau berkata:

“خرجت مع عمر بن الخطاب رضي الله عنه ليلة في رمضان إلى المسجد، فإذا الناس أوزاع متفرقون يصلي الرجل لنفسه، ويصلي الرجل فيصلي بصلاته الرهط، فقال عمر رضي الله عنه: إني أرى لو جمعت هؤلاء على قارئ واحد لكان أمثل، ثم عزم فجمعهم على أبي بن كعب، ثم خرجت معه ليلة أخرى والناس يصلون بصلاة قارئهم، قال عمر: (نعمت البدعة هذه والتي ينامون عنها أفضل من الذين يقومون يريد آخر الليل وكان الناس يقومون أوله). رواه البخاري (2010)
“Suatu ketika aku keluar ke Masjid bersama Umar Bin Khattab r.a. pada suatu malam di Bulan Ramadhan, sedangkan orang-orang  terpisah-pisah, ada yang Shalat sendirian ada pula yang Shalat kemudian diikuti oleh  sekelompok orang. Kemudian Umar berkata: “Sungguh aku memandang andai aku kumpulkan mereka pada satu Imam tentunya itu lebih baik”. Kemudian beliau mengumpulkan mereka pada Ubay Bin Ka’ab, kemudian aku keluar bersama Umar pada malam lainnya sedangkan orang-orang Shalat dengan Imam mereka, kemudian Umar berkata: “Sebaik-baik Bid’ah adalah ini, sedangkan yang tidur terlebih dahulu kemudian bagun di akhir malam itu lebih utama, sedangkan orang-orang melakukannya di awal malam”. HR. Bukhari no. 2010.

Dalam hal ini apa yang dilakukan oleh Sayyidina Umar tidak diingkari oleh seorangpun dari Kalangan Sahabat sedangkan hal ini belum ada sebelumnya akan tetapi mereka tahu bahwa apa yang dilakukan oleh Sayyidina Umar tidaklah menyalahi As-Sunnah. Nabi Muhammad SAW ketika memutuskan untuk tidak keluar di malam ketiga Ramadhan hanya karena khawatir Qiyamullail tersebut diwajibkan atas mereka. Sedangkan setelah Nabi Muhammad SAW wafat sehingga turunnya Wahyu tentang suatu Hukum itu telah terhenti, pun di sana tiada satu hal yang mencegah mereka untuk Shalat berjama’ah pada satu Imam di Masjid, terlebih dalam jama’ah itu tentunya lebih sempurna dalam hal kekhusyu’an dan lebih banyak pula pahalanya dari pada Shalat sendirian. Sedangkan Rasulullah SAW bersabda:

“عليكم بسنتي وسنة الخلفاء الراشدين المهديين عضوا عليها بالنواجذ”. رواه أحمد (4/126) وأبو داود (4607) والترمذي (2676) وابن ماجه (43)
“Hendaknya kalian mengikuti Sunnahku dan Sunnahnya Khulafa’ Ar-Rasyidin yang mendapatkan hidayah, berpegang teguhlah dengan Sunnah tersebut”. HR. Ahmad (Juz 4 hal. 126), Abu Daud no. 4607, Tirmidzi no. 2676 dan Ibnu Majah no  43.

Di sisi Rasulullah SAW juga bersabda:

“اقتدوا باللذين من بعدي أبي بكر وعمر”.
رواه أحمد (5/382) والترمذي (3662) وابن ماجه (97)
“Ikutilah 2 orang ini setelahku, yaitu Abu Bakar dan Umar”. HR. Ahmad (Juz 5 hal. 382), Tirmidzi no. 3662 dan Ibnu Majah no. 97.

Maka dari itu Sayyidina Umar r.a. memperbanyak bilangan rakaatnya akan tetapi meringankan bacaanya dari pada memanjangkan satu rakaat akan tetapi memberatkan Makmum. Sedangkan apa diucapkan oleh beliau tentang “Sebaik-baik Bid’ah adalah ini”, itu hanya dimaksudkan Qiyamullail di awal malam tidak seperti yang dilakukan oleh Rasulullah SAW yang melakukan di pertengahan malam atau di penghujungnya. Hal ini sebagaimana telah dikatakan oleh Sayyidina Umar pada Hadits sebelumnya yaitu: “Sedangkan yang tidur terlebih dahulu kemudian bagun di akhir malam itu lebih utama, sedangkan orang-orang melakukannya di awal malam”. Begitu juga penafsiran dari Perawi Hadits tersebut yaitu Sayyidina Abdurrahman r.a. tentang hal tersebut.

Sedangkan ada sekelompok orang dari kalangan Salaf yang melakukan Qiyamullail Ramadhan dengan bilangan 40 Rakaat ditambah 3 rakaat Shalat Witir sedangkan yang lainnya melakukan Shalat Tarawih 36 rakaat ditambah 3 rakaat Shalat Witir dan lain-lain sebagaimana yang akan kami sebutkan nanti, Insya Alah.

Adapun dalil secara terperincinya adalah sebagai berikut:

عن يزيد بن رومان قال: “كان الناس في زمن عمر يقومون في رمضان بثلاث وعشرين ركعة”. رواه مالك في الموطأ (106)
Dari Yazid Bin Ruman, beliau berkata: “Orang-orang pada masa Umar melakukan Qiyamullail di Bulan Ramadhan dengan 23 rakaat”. HR. Malik dalam Al-Muwaththo’ hal. 106.

وعن سيدنا السائب بن يزيد رضي الله عنه قال: “كانوا يقومون على عهد عمر بن الخطاب رضي الله عنه في شهر رمضان بعشرين ركعة وكانوا يقومون بالمئتين وكانوا يتوكؤون على عصيهم في عهد عثمان من شدة القيام”.
رواه البيهقي في السنن الكبرى (496/2) وصححه العيني والقسطلاني في شرحيهما لصحيح البخاري والسبكي في شرح المنهاج والكمال بن الهمام في شرح الهداية والعراقي في شرح التقريب والإمام النووي في المجموع.
Dari Sayyidina Saib Bin Yazid r.a. beliau berkata: “Dahulu pada masa Uman Bin Khattab r.a. orang-orang melakukan Qiyamullail pada Bulan Ramadhan 20 rakaat dengan membaca 200 ayat, sedangkan pada masa Utsman r.a. mereka bersender pada tongkat karena lamanya berdiri”. (HR. Bayhaqi dalam As-Sunan Al-Kubra Juz 2 hal. 496 dan dishahihkan oleh Al-‘Aini dan Al-Qasthalani dalam Syarah mereka terhadap Shahih Bukhari, Begitu juga As-Subuki dalam Syarah Al-Minhaj, Al-Kamal Bin Al-Hamam dalam Syarah Al-Hidayah, Al-‘Iraqi dalam Syarah At-Taqrib dan Imam Nawawi dalam  Al-Majmu’.)

وأخرج المروزي عن زيد بن وهب أنه قال: “كان عبد الله بن مسعود يصلي لنا في شهر رمضان فينصرف وعليه ليل”، قال الأعمش: “كان يصلي عشرين ركعة يوتر بثلاث”.
Imam Al-Maruzi meriwayatkan dari Zaid Bin Wahab, beliau berkata: “Dahulu Abdullah Bin Mas’ud melakukan Shalat bersama kami pada bulan Ramadhan, kemudian beliau pulang sedangkan malam masih tersisa”, Al-A’masy berkata: “Beliau telah melakukan Shalat 20 rakaat serta 3 rakaat witir”.

Begitu juga riwayat dari Daud Bin Qais, beliau berkata:

“أدركت الناس في إمارة أبان بن عثمان وعمر بن عب العزيز يعني بالمدينة يقومون بست وثلاثين ركعة ويوترون بثلاث”.
“Aku menemukan orang-orang pada masa pemerintahan Aban Bin Utsman dan Umar Bin Abdul Aziz di Madinah melakukan Qiyamullail (Shalat Tarawih) 36 rakaat serta 3 rakaat Witir”.

Begitu juga riwayat dari Nafi’, beliau berkata:

“لم أدرك الناس إلا وهم يصلون تسعا وثلاثين ويوترون منها بثلاث”.
“Tidaklah aku menemui orang-orang melainkan mereka melakukan Shalat (Tarawih) 39 rakaat dengan 3 rakaatnya sebagai Witir”.

Imam Ibnu Hajar menukil bahwa Imam Malik berkata:

“الأمر عندنا بتسع وثلاثين وبمكة بثلاث وعشرين، وليس في شيء من ذلك ضيق” ونقل عنه أيضا قوله: “أنها بست وأربعين وثلاث وتر”.
“(Shalat Tarawih) bagi kami (di Madinah) adalah 39 rakaat sedangkan di Mekkah 23 rakaat dan dalam hal ini tidak ada yang dipermasalahkan”.

Imam Ibnu Hajar juga menukil dari Imam Malik pula:

“أنها بست وأربعين وثلاث وتر”
“Bahwasannya Shalat Tarawih itu 46 rakaat serta Witir 3 rakaat”.

عن زرارة بن أوفى أنه كان يصلي بهم في البصرة أربعا وثلاثين ويوتر بثلاث، وعن سيدنا سعيد بن جبير رضي الله عنه أربعا وعشرين.
Diriwayatkan dari Zurarah Bin Aufa sesungguhnya beliau melakukan Shalat Tarawih dengan orang-orang di Bashrah 34 rakaat disertai Witir 3 rakaat, sedangkan Sayyidina Said Bin Jubair r.a. (melakukan Shalat Tarawih) 24 rakaat.

Dari Ishaq Bin Manshur, beliau berkata:

قلت لأحمد بن حنبل: “كم ركعة يصلى في قيام رمضان؟” فقال: “قد قيل ألوان نحو أربعين وإنما هو تطوع”.
“Aku berkata kepada Ahmad Bin Hanbal: “Berapa rakaat Shalat Tarawih dilakukan pada bulan Ramadhan?”, beliau berkata: “Sungguh telah dikatakan hal itu bermacam-macam setidaknya 40 rakaat, (soalnya) ini hanya Sunnah”.

Imam Tirmidzi berkata:

“أكثر ما قيل أنه يصلي إحدى وأربعين مع الوتر”.
“Kebanyakan yang dikatakan bahwasannya Shalat Tarawih itu 41 rakaat disertai Witir”.

Hal ini tidak lain adalah berbedanya pendapat 4 Madzhab tentang bilangan rakaat Tarawih sebagai berikut:

Madzhab Syafi’i, Hanafi dan Hanbali menyatakan bahwasannya Shalat Tarawih itu 20 rakaat dengan 10 kali Salam. Hal ini berdasarkan riwayat yang mereka ambil dari Kalangan Sahabat r.a. bahwasannya Para Sahabat melakuan Shalat Tarawih pada masa Sayyidina Umar, Sayyidina Utsman dan Sayyidina Ali sebanyak 20 rakaat. Dan ini pula yang diambil dalam Madzhabnya Imam Daud Adz-Dzohiri.

Imam Tirmidzi berkata:

“وأكثر أهل العلم على ما روي عن عمر وعلي وغيرهما من أصحاب رسول الله صلى الله عليه وسلم وهو قول النووي وابن المبارك”.
“Kebanyakan Ahli Ilmu (Ulama’) itu berdasarkan riwayat dari Sayyidina Umar, Sayyidina Ali dan yang lainnya dari Kalangan Sahabat Rasulullah SAW, dan ini adalah pendapatnya Imam Nawawi dan Ibnu Mubarak”.

Imam Syafii berkata:

“هكذا أدركنا بمكة يصلون عشرين ركعة”. فقه السنة (54/2) والترمذي (170/3)
“Beginilah kami menemui orang-orang di Mekkah Shalat 20 rakaat”. Fiqh As-Sunnah Juz 2 hal. 54, Imam Tirmidzi Juz 3 hal. 170

Sedangkan Imam Malik melakukan Shalat Tarawih 46 rakaat selain Witir seperti yang dinukil oleh Imam Ibnu Hajar di Fath Al-Bari, sedangkan dalam riwayat lain dari Imam Malik itu 39 rakaat dengan 36 rakaat sebagai Tarawih dan 3 rakaat sebagai Witir.

Sampai di sini bisa kita tarik benang merah pada apa yang terjadi di Generasi Salaf dan Sahabat dan para pengikut mereka bahwa bilangan rakaat dalam Shalat Tarawih itu tidak dibatasi, bahkan Syeikh Ibnu Taymiyah Al-Hanbali (rujukan utama Wahhabi) berkata:

“اعلم أنه لم يوقت رسول الله صلى الله عليه وسلم في التراويح عددا معينا، ومن ظن أن التراويح على عدد معين مؤقت من النبي صلى الله عليه وسلم لا يزيد ولا ينقص فقد أخطأ”. ذكره ملا علي القاري في شرحه مشكاة المصابيح ص 175
“Ketahuilah, sesungguhnya Rasulullah SAW tidak menentukan bilangan tertentu dalam Shalat Tarawih, sedangkan barang siapa yang menyangka bahwa Qiyam Ramadhan (Tarawih) itu dibatasi dengan bilangan tertentu oleh Nabi SAW, tak lebih dan tak kurang, maka dia telah salah”. Disebutkan oleh Mulla Ali Al-Qari dalam Syarahnya Misykah Al-Mashabih hal. 175.

Sedangkan apa yang diriwayatkan oleh Sayyidah Aisyah berikut ini:

“ما كان رسول الله صلى الله عليه وسلم يزيد في رمضان ولا في غيره على إحدى عشر ركعة”. رواه البخاري (1096) ومسلم (738) وأبو داود (1341) والنسائي (1696) والترمذي (439) ومالك في الموطأ (114/1)
“Tidaklah Rasulullah SAW menambah lebih dari 11 rakaat di bulan Ramadhan dan selainnya”. HR. Bukhari no. 1096, Muslim no. 738, Abu Daud no. 1341, Nasai no. 1696, Tirmidzi 439 dan Malik dalam Al-Muwaththa’ juz 1 hal. 114.

Dalam riwayat tersebut tak lain yang dimaksud adalah bilangan rakaat Shalat Witir bukan Tarawih. Sebab Sayyidah Aisyah r.a. berkata: “Di Ramadhan dan selainnya”, sedangkan di luar Ramadhan tidak ada Shalat Tarawih bedahalnya dengan Shalat Witir, di Bulan Ramadhan ada dan di luar Ramadhan juga ada.

Bahkah Imam Tirmidzi mengatakan:

“روي عن النبي صلى الله عليه وسلم الوتر بثلاثة عشرة وإحدى عشر وتسع وسبع وخمس وثلاث وواحدة”.
“Telah diriwayatkan dari Nabi SAW bahwasannya Shalat Witir itu 13, 11, 9, 7, 5, 3 dan 1 rakaat”.

Jika di luar Ramadhan saja Rasulullah melakukan Shalat Witir 11 atau 13 rakaat, apakah masuk akal jika Rasulullah melakukan Shalat Witir di Bulan Ramadhan yang merupakan Bulan Ibadah itu hanya 3 rakaat? Hal ini jika kita mengacu pada pendapat yang mengatakan 8 rakaat sebagai Tarawih dan 3 rakaat sebagai Witir, sungguh pemahaman yang sangat jauh.

Kemudian, jika kita katakan yang dimaksud dari 11 rakaat adalah Tarawih dan Witir, yakni 8 rakaat kita jadikan Tarawih dan 3 rakaatnya adalah Witir. Hal ini tentu bertentangan dengan apa yang ada pada Masa Sahabat di mana mereka melakukan Shalat Tarawih 20 rakaat sampai pada masa Imam Malik dan Imam Syafii.

Posted from WordPress for Android

Posted on 22 Juni 2015, in Agama and tagged , , . Bookmark the permalink. 4 Komentar.

  1. Kalau saya, mau 8 atau 20 rakaat silakan.
    Yang penting khusuk, yang ga bener itu sholatnya dikejar banyak namun tergesa. Itu bener-bener tak nyaman.

    Suka

  2. Setuju, sayaa melaksanakannya 23 (3 witir) rokaat karena memang terbiasa dari dulu. Tapi ada yang di masjidnya melaksanakan 8 rokaat 3 witir merasa heran kepadaa kami karna melaksanakan 23 rokaat.

    Suka

  3. Abdul Rahman Chudlori

    Yang menuduh bid’ah itu kayaknya memang punya visi memecahbelah ummat islam. Kalau memang mereka konsisten seharusnya yang 8 rakaat itu ya tengah malam dilakukan

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: