Lebaran Tahun ini Berpotensi Berbeda, Ini Alasan Ilmiahnya

image

SERAMBIMATA, Meskipun awal puasa tahun ini bisa dilaksanakan bersamaan tapi tidak berarti umat Islam otomatis dapat berlebaran bersama-sama, bahkan potensi akan adanya perbedaan dalam penentuan 1 Syawal sangat besar.  Ada banyak alasan kenapa hal tersebut bisa terjadi, berikut alasan ilmiahnya.

Lebaran atau Hari Raya Idul Fitri akan segera tiba. Jika melihat pada kalender umum, maka 1 Syawal 1436 H jatuh pada Jumat, 17 Juli 2015. Namun, nampaknya Lebaran kali ini akan terjadi perbedaan seperti beberapa tahun yang lalu. Pasalnya, posisi hilal belum terlihat.

Pernyataan itu diungkapkan oleh Kepala Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN), Thomas Djamaluddin.

“Posisi bulan 29 Ramadhan, 16 Juli 2015, sudah wujud dan lebih dari 2 derajat, tetapi tingginya terlalu rendah (kurang dari 3 derajat) dan terlalu dekat matahari (kurang dari 5 derajat). Jadi, secara astronomi itu mustahil teramati,” ungkapnya saat dihubungi Merdeka.com melalui pesan singkat, Kamis (9/7).

Hal tersebut yang menjadi alasannya mengatakan bahwa akan terjadi perbedaan waktu lebaran. Jadi, nantinya pada tanggal 17 Juli 2015 masih ada yang melakukan ibadah puasa dan ada yang sudah lebaran bagi Organisasi Masyarakat (Ormas) tertentu.

Kendati begitu, kata Thomas, keputusan tertinggi penetapan 1 Syawal 1436 H secara nasional masih pada sidang isbat nantinya.

“Aspek hisab (beda kriteria) dan aspek rukyat (laporan para pengamat) akan dibahas saat sidang isbat. Masyarakat diimbau untuk mengikuti keputusan pemerintah demi persatuan,” ungkapnya.

Perlu disatukan

Perbedaan waktu lebaran ini, dikatakan Thomas, disebabkan karena belum sepakatnya Ormas tentang kriteria penentuan waktu 1 Syawal.

“Kriteria masih beda-beda. Muhammadiyah dengan kriteria judul hilal (tinggi bulan sekitar 0 derajat). NU dengan kriteria tinggi bulan 2 derajat, jarak bulan-matahari 3 derajat atau umur 8 jam. Persis dengan kriteria beda tinggi bulan-matahari 4 derajat dan jarak bulan-matahari 6,4 derajat,” ucapnya.

Menurutnya, pemersatuan kriteria tersebut sedang menjadi pembicaraan. Idealnya, kata dia, untuk mempunyai kalender yang mapan dan memberi kepastian harus terpenuhi 3 syarat: ada otoritas tunggal, ada kriteria yang disepakati, dan ada batas wilayah yang jelas.

Posted from WordPress for Android

Posted on 10 Juli 2015, in Tak Berkategori and tagged , , , . Bookmark the permalink. 4 Komentar.

  1. janganlah selalu berlindung dari kalimat “PERBEDAAN ITU ADALAH BERKAH”. Andaikan bisa disatukan, knp harus beda. Kalau 0° sudah bisa dianggap masuk hilal, kenapa harus nunggu 2° dkk-nya. Kalau 2° itu benar dan minimal segitu, kenapa harus ada kalimat 0° sudah bisa masuk. Perbedaan yang sangat aneh untuk satu hal yang sama.

    Suka

  2. kalau 0 derajat tidak dapat dipastikan semua wilayah indonesia dapat menerimanya apalagi dengan tipe geografi yang berbeda-beda

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: