Ribuan Syekhermania Getarkan Sukorejo

image

SERAMBIMATA, Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo Situbondo seketika menjadi putih oleh ribuan pecinta sholawat dan penggemar Habib Syech yang dikenal dengan “Syekhermania” yang datang dari berbagai daerah untuk bersholawat bersama Habib Syech bin Abdul Qodir Assegaf.

Dengan mengenakan pakaian serba putih ribuan umat Islam sejak sore hari berkumpul memadati halaman pesantren yang diasuh KHR Ahmad Azaim Ibrahimy untuk sekedar dapat mengikuti acara bersholawat untuk bangsa itu lebih dekat dengan lokasi acara.

image

Ribuan umat Islam (syekhermania) sudah memadati lokasi sejak sore hari

Acara yang digelar Sabtu (03/10/2015) dimulai pukul 19.00 itu diawali dengan sambutan Pengasuh Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo KHR Ahmad Azaim Ibrahimy dan langsung dilanjutkan dengan pembacaan sholawat untuk bangsa bersama Habib Syech. Sontak saja gemuruh sholawat yang diikuti oleh seluruh hadirin membuat Sukorejo bergetar dan hanyut dalam kekhusu’an.

image

Para pecinta sholawat memutih dan hanyut dalam kekhusu'an

Sholawat untuk Bangsa.

Dalam sambutannya Kyai Azaim Ibrahimy menyampaikan bahwa digelarnya acara bersholawat untuk bangsa bersama Habib Syach kali ini adalah untuk kebaikan dan kesejahteraan bangsa.
“Bangsa Indonesia mayoritas Islam, menjaga bangsa Indonesia berarti menjaga umat Islam, menjaga umat Islam berarti menjaga umat Sayyidina Muhammad SAW” kata cucu Kyai As’ad itu.

image

KHR. Ahmad Azaim Ibrahimy saat memberikan sambuta

Menurut Kyai Azaim, even akbar bersholawat untuk bangsa bersama Habib Syech tersebut didasari keinginan kuat untuk mengulang sejarah yang pernah ditoreh para ulama terdahulu di pondok Pesantren yang di asuhnya itu.  Karena di pesantren yang didirikan KH. Syamsul Arifin tersebut setidaknya ada dua peristiwa penting dan bersejarah yakni dikembalikan Nahdlatul Ulama (NU) kepada Khittah 1926 dan diterimanya Pancasila sebagai asas tunggal negara Indonesia.

“Di tempat ini adalah tonggak sejarah ketika perjuangan zaman pra kemerdekaan hingga Indonesia merdeka, bahkan di detik-detik negara ini nyaris tercabik-cabik, disintegrasi,  maka pesantren ini kembali menjadi tonggak sejarah kembalinya NU kepada khittah 26. Di sini pula para ulama sepakat menerima Pancasila sebagai asas tunggal negara kesatuan Republik Indonesia” Ungkap Kyai Azaim.

Posted on 4 Oktober 2015, in Agama, Sosial and tagged , , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: