9 Muharram Disunnahkan Puasa (Tasu’a), Ini Dalilnya

image

SERAMBIMATA, Hari ini, 9 Muharram 1437 H sebagian umat Islam berpuasa. Bukan karena hari ini adalah hari Kamis  dimana Nabi biasa berpuasa, tapi juga karena pada tanggal ini umat muslim mengenalnya dengan puasa tasu’a atau puasa 9 Muharram. Benarkah Nabi Saw pernah berpuasa pada satu hari sebelum puasa As Syura ini?

Baiklah, marilah kita ingat kembali pelajaran dasar tentang pembagian sunnah dalam Islam. Segala sesuatu yang berasal Nabi Saw  biasa kita kenal dengan istilah Sunnah yang terbagi pada tiga katagori perkataan (qauliyah), perbuatan (fi’liyah) dan ketetapan (taqririyah).

Taqririyah merupakan sikap diam Nabi atau bentuk persetujuan Nabi atas perbuatan atau perkataan para sahabat, baik yang dikerjakan dihadapan Nabi maupun dikerjakan tidak dihadapan Nabi.

Selain dari Qauliyah, Fi’liyah, dan Taqririyah, juga dikenal Sunnah Hammiyah, yaitu sesuatu yang dikehendaki (diinginkan) Nabi lalu disampaikan kepada para sahabat sehingga sahabat itu mengetahui, tetapi beliau Saw belum sempat melaksanakan.

Sunnah Hammiyah dapat dikatakan sebagai rencana Nabi Saw yang belum sempat dilaksanakan.  Contohnya seperti puasa tanggal 9 Muharram atau puasa Tasu’a. Dalil tentang puasa ini terdapat pada hadist dari Abdullah bin Abbas RA yang dishahihkan oleh Imam Muslim.

عن  عَبْدَ اللَّهِ بْنَ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا ، يَقُولُ : حِينَ صَامَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمَ عَاشُورَاءَ وَأَمَرَ بِصِيَامِهِ ، قَالُوا : يَا رَسُولَ اللَّهِ ، إِنَّهُ يَوْمٌ تُعَظِّمُهُ الْيَهُودُ وَالنَّصَارَى ، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : ” فَإِذَا كَانَ الْعَامُ الْمُقْبِلُ إِنْ شَاءَ اللَّهُ ، صُمْنَا الْيَوْمَ التَّاسِعَ ” ، قَالَ : فَلَمْ يَأْتِ الْعَامُ الْمُقْبِلُ ، حَتَّى تُوُفِّيَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ .
“Ketika Rasulullah Saw berpuasa pada hari ‘Asyuro dan memerintahkan puasa ‘Asyuro, para sahabat bertanya: “Wahai Rasulullah, sesungguhnya hari ini diagungkan oleh Yahudi dan Nashara”. Rasulullah berkata: “Apabila berjumpa pada tahun depan, Insyaallah, kita akan berpuasa pada hari ke-9 (Tasu’a)”. Tapi tidak sampai tahun berikutnya, Rasulullah Saw. sudah wafat.” (HR. Imam Muslim).

Itu artinya, puasa 9 Muharram atau puasa Tasu’a memang tidak pernah dikerjakan Rasulullah tapi sempat direncanakannya untuk dilaksanakan pada tahun berikutnya. Hal itu karena sebelum keinginan berpuasa itu dilaksanakan Rasululllah telah wafat.

Didalam Syarahnya, Imam Nawawi menyebutkan pendapat Syafi’i dan para pengikutnya, Ahmad, Ishaq dan ulama lainnya, ”Dianjurkan berpuasa pada hari ke-9 dan ke-10 sekaligus karena Nabi saw berpuasa pada hari ke-10 dan beliau saw telah berniat untuk berpuasa pada hari ke-9.

Sebagian ulama mengatakan bahwa bisa jadi sebab dari berpuasa pada hari ke-9 yang disertai hari ke-10 adalah agar tidak tasyabbuh (menyerupai) orang-orang Yahudi yang hanya berpuasa pada hari ke-10, dan hadits diatas mengisyaratkan hal ini. (Shahih Muslim bi Syarhin Nawawi juz IV hal 121)

Posted on 22 Oktober 2015, in Agama and tagged , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: