70 Tahun Resolusi Jihad, Momentum Tolak Ajaran Yang Mengganggu Kedaulatan NKRI

image

SERAMBIMATA, Pengajian Kebangsaan dalam memperingati 70 Tahun Resolusi Jihad NU di Ponpes Salafiyah Safiiyah Sukorejo Situbondo, Sabtu 24 Oktober 2015, menjadi momentum penolakan terhadap berbagai paham atau ajaran yang berpotensi mengganggu kedaulatan NKRI. Selain itu juga penolakan terhadap fenomena bangkitnya ajaran PKI.

Hal itu disampaikan oleh pengasuh Pondok Pesantren Salafiyah Safi’iyah Sukorejo, KHR Ahmad Azaim Ibrahimy,  di hadapan ribuan hadirin yang memadati pengajian kebangsaan yang dihadiri para Ulama, Kiai, para masyayikh dan jajaran TNI tersebut.

Senada dengan  Kiai Azaim, komandan DenPOM V /Brawijaya Malang Letkol CPM, M. Sawi menyampaikan tentang pentingnya mempertebal dan meningkatkan upaya kemanunggalan antara TNI dengan rakyat. “Negara akan kuat jika ini kita lakukan. Bersama kiai, TNI terhormat, berakhlakulkarimah dan dicintai rakyat,” ujar M.Sawi.

Komandan DenPOM V /Brawijaya Malang yang merupakan alumni Ponpes tersebut pada tahun 1989 silam dengan penuh semangat juga menyinggung peran strategis segitiga emas Nahdhatul Ulama (NU), Jombang, Bangkalan, dan Sukorejo dalam menjagaa kedaulatan NKRI

“Indonesia itu ibarat gadis cantik dipersimpangan jalan yg mnjadi rebutan negara2 asing. Dan tujuan mereka dlm rangka ingin mghancurkan Indonesia. Jika ingin mghancurkan Indonesia, maka hancurkan dulu TNI POLRI. Jika ingin mghancurkan TNI POLRI, maka hancurkan dulu intelejennya. Jika ingin mghancurkan intelejennya, maka hancurkan dulu umat Islam. Jika ingin mghancurkan Islam, maka hancurkan dulu NU. Jika ingin mghancurkan NU, maka hancurkan dulu Jawa Timur. Jika ingin mghancurkan Jawa Timur, maka hancurkan dulu segitiga emas NU, Jombang, Bangkalan dan Sokarajjeh”. Tegas M. Sawi dengan penuh semangat.

Sementara itu, sekretaris Pesantren Ahmad Fadhoil menjelaskan bahwa kegiatan yang dikemas dalam Pengajian kebangsaan itu bertujuan untuk merefleksikan semangat resolusi Jihad yang dicanangkan di Surabaya pada 22 Oktober 1945 oleh NU, ulama se-Jawa-Madura yang dimaksudkan mempertahankan kemerdekaan RI atas gangguan kolonialisme.

Ia juga menjelaskan perihal alasan ketidakhadiran Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo, menurutnya ia tidak bisa hadir karena pada saat yang bersamaan harus melaksanakan instruksi Presiden dan Wapres serta jajaran kementerian termasuk menkopulhukam terkait bencana kabut asap. “Ada hal yang mendesak perihal bencana kabut asap saat ini,” pungkas sosok yang kesehariannya dipanggil Lora Fadhail itu.

Posted on 25 Oktober 2015, in Agama, Sosial and tagged , , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: