Kyai Azaim: Kita Sedang Mengalami “Ketelanjangan” dari Jati Diri Sebagai Bangsa yang Besar

image

Emha Ainun Najib dan KHR Ahmad Azaim Ibrahimy Ngaji Bareng di Kab. Bondowoso Jawa Timur

SERAMBIMATA –  Sehari setelah acara Pengajian Kebangsaan memperingati 70 Tahun Resolusi Jihad di Pondok Pesantren Salafiyah Syafiiyah Sukorejo Situbondo, KHR Ahmad Azaim Ibrahimy langsung meluncur ke Kabupaten Bondowoso untuk bergabung dengan acara ngaji bareng Emha Ainun Najib (Cak Nun)  yang diselenggarakan oleh Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Bondowoso Jawa Timur.

Satu panggung bersama Cak Nun dan musik Kyai Kanjengnya, Kyai Muda yang juga hobbi menulis puisi itu mengemukakan bahwa saat ini kita mengalami “ketelanjangan” dari jati diri sebagai bangsa yang besar.
    
“Kita sekarang butuh baju karena kita telanjang dari jati diri kita. Kita membutuhkan keyakinan kita ini siapa, yang lahir di bumi Nusantara ini,” kata Pengasuh Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo, Situbondo, Jawa Timur, Senin din hari (26/10/2015)
    
Dikutip dari AntaraJatim, pada pengajian yang juga dimeriahkan dengan kelompok musik Kiai Kanjeng tersebut, Kyai Azaim mengupas pesan Walisongo untuk memberi sandang pada yang telanjang, memberi makan pada yang kelaparan dan lainnya.
    
“Kita sekarang sedang telanjang dan kedinginan oleh adanya musibah, bukan hanya musibah asap, tapi musibah hati. Kalau tadi ada puisi Rembulan Pingsan di Kota Jakarta (karya WS Rendra), maka bulan itu adalah cermin hati kita,” kata cucu dari ulama terkemuka almarhum KH As’ad Syamsul Arifin ini.
    
Menurut dia, “cermin” dari bangsa Indonesia saat ini sedang buram, bahkan gelap sehingga tidak bisa menangkap, apalagi memantulkan cahaya yang mencerahkan untuk perjalanan kehidupan ke masa depan.
    
“Untuk membersihkan cermin yang buram itu perlu alat. Cermin yang merupakan hati kita perlu dibersihkan dengan istighfar. Istighfar bukan diam menyadari kesalahan, tapi maju atau hijrah menuju ke yang lebih baik. Hijrah itu bergerak ke depan,” uja cucu kyai Asad itu.
    
Mengenai pesan Walisongo agar memberi makan pada mereka yang lapar, ia menjelaskan bahwa hal itu bukan sekadar lapar fisik, tapi rohani. Demikian juga dengan anjuran memberi tongkat pada orang buta. Hal itu lebih menunjuk pada yang buta hatinya.
    
Sementara Emha Ainun Nadjib yang akrab disapa Cak Nun juga mengingatkan agar bangsa Indonesia tidak perlu berangan-angan meniru kemajuan yang dicapai oleh negara yang saat ini disebut maju, seperti Amerika Serikat, Jepang, Korea dan lainnya.
    
“Jangan pikir Amerika dan Korea atau Jepang itu lebih maju. Apanya yang maju? Di sana susah. Di sana tidak bisa berutang pada tetangga, sementara di Indonesia Anda punya segalanya. Kalau susah kita punya wiridan, kita bisa tahajjud, sementara di luar larinya ke dugem,” katanya.
    
Cak Nun mengajak bangsa Indonesia untuk lebih percaya diri sebagai bangsa yang besar dan mendapatkan anugerah khusus dari Allah.
    
“Kita ini memiliki mental yang luar biasa, termasuk urusan nekat. Di luar negeri tidak ada istilah nekat. Hanya kita yang memiliki,” katanya disambut tertawa peserta pengajian.

Sumber AntaraJatim.com

Posted on 27 Oktober 2015, in Agama, Budaya and tagged , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: