Nyata! Durhaka Kepada Ibunya, Siswi SMP berubah Wujud Jadi Ular Berkepala Anjing

image

Foto illustrasi

SERAMBIMATA – Legenda Malin Kundang yang dikutuk jadi batu karena durhaka kepada ibunya seharusnya menjadi pelajaran berharga bagi anak-anak muda agar berhati-hati bersikap kepada kedua orang tua yang telah melahirkan dan membesarkannya. Bukankah Allah sudah mengingatkan dalam KitabNya agar jangan sekali-kali menghardik mereka, “falaa takullahumaa uffin walaa tanharhumaa wakullahumaa kaulan karimaa”.



Nyatanya di zaman modern ini masih saja ada Kisah mirip Malin Kundang.  Kejadian itu terulang kemarin  di Dusun Sigambal, Desa Pinang Awan, Kec. Torgamba, Labuhan Batu Selatan. Seorang siswi SMP mendadak berubah wujud usai menendang kepala ibunya yang lagi sholat.
Gadis belia itu menjelma jadi ular berkepala anjing. Hingga akhir November kemarin, kabar itu menggemparkan warga di sana. Tapi anehnya, banyak warga setempat termasuk perangkat desa, kompak tutup mulut soal identitas gadis durhaka dan ibu malang itu
Alasannya, mereka takut kualat atau tertular kena kutukan. Karena itu, beredar kabar: ibu dan anak itu telah diungsikan ke sebuah lokasi rahasia di Medan. Itu dilakukan demi menghindari kedatangan ratusan orang dari  berbagai daerah yang ingin melihat anak durhaka itu.Kebenaran kisah heboh ini kemarin dibeber UT, seorang warga di lokasi kejadian. Ia memperlihatkan rekaman dari handphone yang menggambarkan sesosok gadis telah berubah wujud menjadi binatang. Pengakuan UT,  rekaman itu diambilnya sendiri. Dalam rekaman, terlihat jelas seekor ular berkepala anjing dengan posisi meliuk.
Anehnya, ular berkepala anjing itu memiliki 2 tangan menyerupai biawak, juga memiliki rambut putih panjang.  Tayangan dalam rekaman, sambil berputar keliling, ular berkepala anjing itu terdengar mengeluarkan jeritan dan  isak tangis sembari berurai air mata. Banyak warga yang menyaksikan merasa prihatin sekaligus ngeri melihatnya.

Menurut UT, gadis durhaka yang masih duduk di bangku kelas 2 SMP itu, dalam kesehariannya berperangai  buruk dan sering melawan orang tuanya yang hanya bekerja mocok-mocok, sesekali mencari upahan kerja kepada para tetangga dan kerabatnya. UT bercerita. “Suatu hari,” ucap UT tanpa mau menyebut pasti tanggal  kejadiannya, “gadis belia itu merengek minta dibelikan sepedamotor Yamaha Mio kepada ibu kandungnya.
Karena merasa disepelekan dan diacuhkan sang ibu yang sedang sholat, dia tiba-tiba menendang kepala ibunya  ketika sedang bersujud.”

Inilah awal petaka itu. Saat itu juga, wajah gadis itu sontak berubah wujud menjadi anjing kurus. Seluruh badan  dan kakinya lalu berubah menjadi ular. Ketika sang ibu menyelesaikan sholatnya, kontan dia menjerit histeris dan  menangis meraung-raung melihat puteri kesayangannya telah berubah wujud. Hingga akhir November lalu, Kapolsek Torgamba, AKP Tampubolon, enggan berkomentar soal kabar heboh yang menggemparkan wilayahnya. Bahkan menurutnya, tidak terjadi apa-apa di wilayah hukumnya.

Kejadian heboh ini berbeda dengan legenda Malin Kundang. Kalau kutukan bagi malin kundang, terjadi usai  ibunya berseru kepada Allah. Tapi kalau kutukan bagi anak durhaka yang hebohkan Labuhan Batu ini, akibat Allah langsung yang berseru. Kun fayakun. Jadi maka jadilah. Demikian penilaian spritualis Ki Ageng Awaluddin.
Menurutnya, perubahan wujud sang anak menjadi berkepala anjing akibat unsur api lebih mendominasi diri atau  qorin si anak.  Unsur itu pula yang membuat Iblis dan syetan banyak mengendalikan hidupnya.
“Hanya Allah yang dapat menjawab, kematianlah nantinya yang mampu merubah wujudnya kembali, itu pun tak  lepas atas kuasa Allah,” ujar Ki Ageng soal kebenaran kisah itu.
Pun begitu, menurutnya, kisah Rahasia Illahi ini bukan tak mengandung pesan penting, terutama untuk ulama.
“Nyatakanlah kebenaran itu secara Islamiah, atas pengajaran terhadap sikap anak terhadap orang tua, alim  ulama, guru atau sesama, karena hal itu tak terlepas peran alim ulama, dari apa yang dilihat para anak-anak. Ini  juga menandakan alam sudah tua dan situasi saat ini kembali kepada kehidupan dan peradaban yang tak  mengedepankan moral serta menenggelamkan sendi-sendi kebenaran agama,” kata Ki Ageng sambil  mengingatkan: surga itu memang ada di bawah telapak kaki ibu. “Jadi semuanya itu adalah laknat Allah yang  terjadi kepada anak durhaka itu,
Semoga kita semua menjadi anak yang SHOLEH dan SHOLEHAH..!!!  Mohon Sebarkan artikel ini ke semua temanmu, supaya semuanya tidak ada yang menjadi anak durhaka pada orangtuanya, Terlepas dari benar atau tidaknya kisah ini, kita bisa ambil pelajaran supaya JANGAN DURHAKA pada orang tua, karena banyak contoh, Malinkundang, Sampuraga, dan lain-lain. Silahkan dibully kalau tidak suka, tapi kita hanya ingin menekankan supaya “JANGAN JADI ANAK DURHAKA”. Terimakasih bagi yang mau menyebarkan.

sumber: reportaseterkini.com

Posted on 28 Oktober 2015, in Agama, Hikmah and tagged , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: