Mengenal Haji Rasul, Tokoh Wahabi yang Cinta Damai Kedepankan Intelektual Tanpa Kekerasan

Haji-Rasul

Dr Abdul Karim Amrullah atau Haji Rasul

Serambimata.com Gerakan pemurnian Islam yang dilakukan kelompok aliran Wahabi selama ini dikenal identik dengan aksi frontal bahkan tak jarang berujung pada kekerasan. Mereka tak segan untuk membit’ahkan, mensyirikkan hingga mengkafirkan kelompok Islam lainnya yang dianggap tidak sepaham dengan mereka. Bahkan di berbagai kasus, kelompok yang mengusung ajaran Muhammad bin Abdul Wahab ini tak segan untuk mengeluarkan kekuatan fisik dan kekerasan.

Namun tahukah anda, ternyata di belahan Nusantara ada seorang tokoh Wahabi yang sama sekali berbeda cara dalam menyebarkan ajarannya, dia adalah Haji Rosul. Meski keturunan pahlawan Paderi, perjuangan Haji Rasul memurnikan ajaran Islam tidak menggunakan kekuatan fisik yang frontal dan meledak-ledak seperti gerakan Paderi. 

Mengenal sosok Haji Rasul 

Namanya Dr. Haji Abdul Karim Amrullah (lahir dengan nama Muhammad Rasul di Nagari Sungai Batang, Maninjau, Agam, Sumatera Barat, 10 Februari 1979 – meninggal di Jakarta, 2 Juni 1945 pada umur 66 tahun), ia lahir dari rahim seorang ibu bernama Siti Tarsawa

Ayahnya Muhammad Amrullah gelar Tuanku Kisai cucu dari Tuanku Pariaman, ulama kenamaan yang usai perang Paderi (1803-1838, versi lain 1821-1837) menetap di lereng bukit sekitar danau Maninjau.

Kepada Rasul, Tuanku Kisai tak bosan-bosan menceritakan romantisme perjuangan leluhurnya, sewaktu perang Paderi. Juga cerita masa-masa Tuanku Pariaman memimpin pengajian di masjid Muaro Pauh.  Bahwa dulu, leluhurnya tempat bertanya, terutama soal-soal agama.

Saban malam, tidak kurang seratus orang labai (ustadz) datang berguru Tuanku Pariaman. Puluhan dama (pelita) menerangi masjid.

Berguru

Usia 10 tahun, selain kepada ayahnya, Rasul juga mengaji Al-Qur’an di Barung-Barung Belantai, Koto Sabaleh, Tarusan, Pesisir Selatan kepada Tuanku Haji Hud dan Tuanku Faqih Said.

Usia 13 tahun, Rasul diserahkan ayahnya kepada Tuanku Sutan Muhammad Yusuf di Sungai Rotan, Pariaman untuk belajar kitab fiqih Minhaj Al-Thalibin-nya Imam Nawawi serta tafsir Jalalain.

“Sepulang dari Sungai Rotan dalam usia 16 tahun, ia diantarkan ayahnya ke Mekah untuk berguru kepada Syaikh Ahmad Khatib Al-Minangkabawi, putra Minang yang jadi imam besar Masjidil Haram, pada 1894,” tulis Tamrin Kamal dalam Purifikasi Ajaran Islam Pada Masyarakat Minangkabau.

Saat menyerahkan Rasul ke Syaikh Ahmad Khatib di Mekah, sebagaimana diceritakan Buya Hamka dala  buku Ayahku,Tuanku Kisai menekankan, “sebelum dapat belum boleh pulang!”

Sekadar catatan, Rasul–lebih dikenal Haji Rasul, Inyiak Rasul, Inyiak De Er–adalah ayah Buya Hamka.

Jembatan Besi

Tujuh tahun Rasul berguru di tanah Arab. Pada 1901, begitu kembali ke Maninjau, dia malah berhadapan-hadapan dengan pemuka thariqat naqsyabandiyah yang tak lain ayahnya sendiri.

Kala itu, Naqsyabandi menjadi perbincangan serius di Mekah. Bahkan Syeikh Ahmad Khatib Al-Minangkabawi menulis kitabIzharu Zuqhal Al-Kazibin, yang menentang keras tariqat tersebut.

Rasul yang kini lebih karib disapa Haji Rasul menghindari konfrontasi dengan ayahnya. Dia memilih pergi memimpin pengajian di Surau Jembatan Besi Padang Panjang.

Meski keturunan pahlawan Paderi, perjuangan Haji Rasul memurnikan ajaran Islam tidak menggunakan kekuatan fisik yang frontal dan meledak-ledak seperti gerakan Paderi, Melainkan dengan gerakan intelektual murni.

Persamaannya dengan kaum Paderi hanya pada aliran Wahabi yang dibawa Haji Miskin, Haji Sumanik dan Haji Piobang ke Minangkabau, 1803.

Disebut aliran Wahabi karena ketiga haji itu berguru kepada Syaikh Muhammad bin Abdil Wahab di Mekah. Aliran ini bertumpu pada Al-Qur’an dan hadist.

Dipimpin Haji Rasul, pengajian di surau itu harum hingga negeri seberang. Orang-orang datang belajar agama tidak hanya dari selegoran Minangkabau. Banyak juga yang jauh-jauh datang dari Tapanuli, Aceh, Bengkulu, Malaya, Siam dan Siak.

Dari Siak paling banyak. Sampai-sampai semua orang yang belajar agama, di ranah Minang disebut urang siak–hingga hari ini. Sebutan urang siak ini lebih kurang serupa dengan santri di tanah Jawa.

Di tangan Haji Rasul pula surau itu menjelma jadi sekolah Sumatera Thawalib yang di kemudian hari diakui sebagai sekolah modern Islam pertama di negeri yang hari ini bernama Indonesia.

Sumber JPNN

Posted on 17 November 2015, in Agama and tagged , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: