Temuan FSGI, UKG Banyak Masalah

UKG

Serambimata.com –  Sejak 27 November lalu, Uji Kompetensi Guru (UKG) yang dilaksanakan Kemendiknas berakhir, namun demikian dalam kegiatan yang sempat dikhawatirkan dapat mempengaruhi pembayaran tunjangan profesi guru tersebut ditemukan banyak masalah.

Beberapa masalah tersebut ditemukan Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI).  Sekretaris Jenderal  (Sekjen FSGI), Retno Listyarti mengaku menemukan beberapa masalah itu di 29 kota/kabupaten di 10 provinsi selama pelaksanaan UKG berlangsung.

“Meskipun Pemerintah telah memberikan Pedoman UKG 2015 secara detail dan rinci tentang bagaimana UKG dilaksanakan di lapangan, ternyata apa yang ada di dalam Pedoman tidak terlaksana sepenuhnya dengan baik. Pantauan FSGI dari  29 kota/kabupaten di 10 provinsi sejak dilaksanakannya UKG sampai berakhirnya menemukan beberapa persoalan di lapangan yang perlu mendapatkan perhatian dari Pemerintah,” ujar Retno kepada wartawan, Jakarta, Selasa (1/12).

1.Ada yang memungut biaya UKG

Retno menerangkan, pihaknya memperoleh laporan biaya pungutan dari pelaksanaan uji coba UKG hingga pelaksanaan UKG. Di Sulawesi Utara, seluruh guru diminta biaya Rp 50 ribu untuk bisa mengikuti UKG. Padahal pelaksanaan UKG tidak diperkenankan untuk memungut biaya apapun.

2. Tempat pelaksanaan UKG yang sangat jauh

Retno juga menjelaskan, lokasi UKG online di beberapa daerah ternyata mempersulit para guru. Letak UKG Online sangat jauh dari kediaman para guru. Sehingga, tambah dia, terdapat beberapa guru yang terpaksa harus mengeluarkan biaya transportasi sebanyak Rp 300 ribu. Bahkan, terdapat guru yang harus menginap karena jauhnya lokasi UKG tersebut.

3. Banyak data guru yang tidak terverifikasi 

Selanjutnya, Retno mengatakan, banyak guru yang tidak terverifikasi data-datanya. Maka itu, merejka pun tidak tercatat sebagai peserta UKG. Kondisi ini bisa terjadi karena berbagai alasan, salah satunya, perbedaan data guru akibat pindah tugas.

4. Banyak guru yang meninggalkan jam pelajaran karena penundaan

Sekjen FSGI ini juga mengutarakan terdapat penundaan pelaksanaan UKG di Bima.  Perubahan jadwal ini membuat guru meninggalkan jam pelajaran lebih banyak dari yang telah ditentukan.

5. Keterbatasan sarana

Di samping itu, dia juga menerima laporan adanya guru yang terpaksa membawa laptop masing-masing karena keterbatasan sarana di Bima, Nusa Tenggara Barat (NTB). “Keenam, masalah teknis yang tiba-tiba listrik mati, offline, dan tidak bisa login kembali,” kata Retno.

Kondisi ini terjadi di Jakarta Utara dan Cikarang, Jawa Barat. Para guru juga terpaksa mengabaikan kegiatan pembelajaran di kelas. Sehingga, tambah dia, banyak kelas yang ditinggalkan para gurunya.

6.  linearitas tingkat sekolah dan bidang mata pelajaran

Selain itu, menurut Retno, terjadi pula linearitas tingkat sekolah dan bidang mata pelajaran. Misal, dia melanjutkan, guru musik di kelas atas SD terpaksa mengerjakan materi kelas bawah. Kemudian terdapat juga guru budidaya perikanan mengerjakan uji kompetensi seni budaya.

7. Ditemukan per”jokian”.

Selanjutnya, Retno menjelaskan ihwal ditemukannya jasa Joki di Pandeglang, Banten. Guru yang sudah sepuh ini terpaksa membayar jasa joki karena tidak tahu mengaplikasikan komputer.

Bagaimanan dengan pelaksaan UKG di tempat anda ? adakah masalah yang sama? atau justru ditemukan masalah lainnya.

Sumber Republika.co.id

Posted on 4 Desember 2015, in Pendidikan, Tak Berkategori and tagged , , , , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: