Belajar Toleransi dari Nabi Muhammad SAW

image

Serambimata.com – Ketika waktu kebaktian tiba, beberapa orang delegasi Nasrani Najran langsung berdiri menghadap ke timur dan melakukan kebaktian di Masjid. Para sahabat terkejut dan heran dengan apa yang mereka lakukan. Ada terbesik dalam hati mereka untuk melarangnya. Namun seketika itu pula Nabi sontak berkata, “Biarkanlah mereka”. Kisah ini dituturkan Ibnu Hisyam dalam Sirah al-Nabawiyah.

Sikap Nabi ini merupakan cerminan dari misi Islam kerahmatan yang diembannya. Dalam al-Qur’an disebutkan, “Tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam”(QS: al-Anbiya ayat 107). Kata “semesta alam (‘alamin) di sini pemaknaanya tidak berati dikhususkan untuk orang Islam (lil muslimin) saja dan manusia pada umunya, namun ia memberikan efek kasih sayang kepada seluruh ciptaan Tuhan. Selama dia masih bisa dikategorikan makhluk Tuhan, maka tidak alasan untuk tidak menyangi dan mengasihinya.

Berdasarkan hal ini, perbedaan agama tidak membatasi Nabi SAW untuk senantiasa menghargai dan menghormati orang yang berbeda keyakinan dengannya. Bahkan fasilitas ibadah semisal masjid pun beliau pinjamkan kepada tamu yang berbeda agama dengannya. Adapun konflik dan perperangan yang terjadi di masa Nabi, sebagian besar disebabkan oleh faktor perbedaan agama, tetapi ada aspek lain yang mendorong kedua belah pihak berperang, seperti pembatalan perjanjian atau ancaman stabilitas keamanan.

Kiai Ali Mustafa Yaqub dalam bukunya Islam Between War and Peace menyatakan “Religion is not a reason for battle (agama bukan penyebab perang)”. Salah satu argumentasinya adalah fakta sejarah menunjukan Nabi Muhammad SAW memiliki mertua yang beragama Yahudi. Nama mertua Nabi itu adalah Huyay bin Akhtab al-Nadhari dan putrinya bernama Shofiyah, yang kemudian dijuluki Umm al-Mu’minin (ibu orang-orang beriman) setelah masuk Islam dan dinikahi Nabi SAW. Sekalipun mertua Nabi tetap setia dengan keyakinanya, Nabi SAW tidak pernah memeranginya karena alasan beda agama.

Dalam hadis riwayat ‘Aisyah dijelaskan, Nabi SAW pernah menggadaikan baju perangnya kepada seorang Yahudi dengan nilai tiga puluh sha’ gandum. Riwayat itu menyebutkan, Nabi SAW tidak sempat menembus gadaian itu sampai beliau wafat. Berdasarkan riwayat ini, dapat dipahami Nabi SAW semasa hidupnya berinteraksi dengan siapapun, baik muslim maupun non-muslim. Sekalipun beliau ditugaskan untuk menyebarkan misi agama, namun tidak pernah ditemukan fakta dakwa agama disampaikan dengan paksaan dan kekerasan.

Sebenarnya Nabi sudah memberikan tauladan dan kearifan dalam menyikapi perbedaan agama. Beliau adalah maha guru toleransi beragama. Ia tidak hanya berbicara dalam tatararan wacana, tapi sudah mempraktekkannya dalam banyak hal. Fakta sejarah menunjukan, kebanyakan sahabat masuk Islam bukan karena merasa terancam dan terpaksa, tetapi lebih kepada kesadaran dan ketakjuban melihat etika dan kearifan yang ada pada diri Nabi Muhammad SAW.

Menghormati dan menghargai perbedaan memang tidaklah mudah. Setiap orang pasti memiliki ego, ambisi, dan kecenderungan untuk mengajak orang agar sesuai dengan keyakinan dan pikirannya. Oleh sebab itu, ego dan sikap ambisius itu perlu dinetralisir dan diminimalisir dengan belajar pada kearifan dan tauladan yang sudah dicontohkan Nabi SAW semasa hidupnya.

Oleh: Hengki Ferdiansyah. Penulis adalah mahasiswa Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah dan Alumni Pesantren Ilmu Hadits Darus-Sunnah. Saat ini bekerja sebagai peneliti hadits di el-Bukhari Institute.

Posted on 20 Desember 2015, in Agama and tagged , , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: