Mufti Mesir Minta Abaikan Fatwa Wahabi dan Serukan Memperingati Maulid Nabi

image

Mahasiswa, tokoh agama dan masyarakat Mesir turun ke jalan untuk merayakan Maulid Nabi Muhammad SAW

Serambimata.com – Semakin terang-terangan kelompok anti maulid Nabi menolak dan mengharamkan perayaan kelahiran Nabi Muhammad SAW, semakin keras pula para pecinta maulid menentangnya. Di berbagai negara di belahan dunia Kelahiran Nabi Muhammad dirayakan sangat meriah dan diikuti oleh jutaan Umat Islam, bahkan ada sebagian yang menyerukan agar merayakan Maulid sebagai salah satu bukti kecintaan dan kegembiraan atas kelahiran Nabi akhir zaman Muhammad SAW.

Bertepatan dengan hari kelahiran Nabi Muhammad dan minggu persatuan Islam, kantor Dar al-Fatwa Mesir membolehkan kaum muslimin untuk merayakan peringatan hari kelahiran Nabi Besar Muhammad Saw, dan juga meminta mereka untuk mengabaikan dan menolak fatwa Takfiri Wahabi yang menganggap hal itu sebagai bid’ah dan sesat.

Dilansir dari situs berita “Middle East Online”, Dar al-Fatwa Mesir telah mengeluarkan pernyataan resmi, pada Senin (21/12), yang menyebutkan bahwa peringatan hari kelahiran Nabi Muhammad “boleh secara hukum syariat”. Bahkan dianggap “termasuk dari salah satu amalan terbaik dan ibadah terbesar”, karena mencerminkan “sukacita dan kecintaan kepada Nabi Saw”.

Pernyataan itu dikeluarkan setelah memantau Kantor Fatwa Salafi Wahabi yang mengharamkan perayaan keagamaan, seperti Maulid. Dimana salah pemimpin Salafi, Said Abd Azim, baru-baru ini mengharamkan perayaan kelahiran Nabi dengan dalih bahwa itu merupakan bid’ah dan sesat.

Dalam menanggapi fatwa tersebut, Dar al-Ifta Mesir mengatakan bahwa kecintaan kepada Nabi merupakan salah satu bagian dari tonggak keimanan, dan menekankan bahwa perayaan hari kelahiran Nabi Muhammad itu diperbolehkan secara hukum syariat karena itu merupakan pilar pertama.

Dar al-Ifta Mesir juga menjelaskan bahwa “mayoritas ulama, sejak abad keempat hijriah, telah bersepakat akan legalitas perayaan maulid Nabi Saw, dimana menghidupkan kembali malam-malam maulid dengan melakukan berbagai jenis ibadah, membagikan makanan, membaca Al-Quran dan doa serta melantunkan puisi dan pujian terhadap Rasulullah Saw”.

Selain itu, para ulama senior di negara-negara Islam menyerukan untuk mengabaikan dan menolak Fatwa ekstrim Wahabi, yang dikeluarkan oleh beberapa tokoh garis keras Salafi rezim Saudi yang mengharamkan perayaan hari kelahiran Nabi.

Tokoh Agama dan Rakyat Mesir Turun ke Jalan Peringati Maulid Nabi Muhammad

Hanya berselang beberapa hari setelah seruan mufti Mesir dikeluarkan, ribuan mahasiswa Al-Azhar Kairo dan para tokoh Sufi serta rakyat Mesir lainnya turun ke jalan dan berjalan kaki dalam sebuah konvoi dari Masjid Saleh al-Jaafari, melewati Al-Azhar Street, menuju ke masjid Al-Hussein untuk peringati perayaan maulid Nabi Muhammad SAW.

Dikutip dari kantor berita FNA, di masjid Hussein yang terletak di pusat Kairo tempat diadakannya perayaan besar yang bertepatan dengan maulid Nabi Muhammad SAW yang mendapatkan pengawasan ketat dari keamanan Mesir, dimana sejumlah besar siswa Al-Azhar dan para ulama serta masyarakat ikut ambil bagian di dalamnya, hadir pada kesempatan itu mantan Mufti Mesir Shaikh DR. Ali Gomaa Mohamed Abdel Wahab dan Sheikh Ahmed Omar Hashem yang merupakan salah satu anggota Ulama Senior dan anggota Akademi Riset Islam, juga hadir disitu Sheikh Yassin Thami pelantun lantunan qasidah Islami.

Perayaan maulid itu disiarkan oleh televisi pemerintah Mesir secara langsung, dalam sambutannya Sheikh Ali Gomaa, mantan Mufti Mesir menyampaikan ucapat selamat kepada umat Islam atas hari kelahiran  Nabi Muhammad SAW, ia juga menyerukan perlunya menjaga persatuan nasional dan Islam.

Dar al-Fatwa Mesir mengeluarkan pernyataan mengenai peringatan perayaan hari kelahiran Nabi Muhammad SAW, mengatakan bahwa “apa yang dilakukan oleh mereka yang memperingati maulid Nabi di beberapa tempat di Mesir dengan cara berjalan kaki bersama dengan membawa spanduk berisikan slogan-slogan agama serta melantunkan puisi pujian atas Nabi, tidak ada yang salah di dalamnya selama tidak ada yang bertentangan dengan syariat dan selama tidak menganggu kepentingan umum”.

Dari berbagai sumber

Posted on 27 Desember 2015, in Agama and tagged , , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: