Ngaji Pada Peristiwa Gerhana Matahari Hari ini Bersama Cak Nun

image

Serambimata.com – Gerhana Matahari Total baru saja berlalu dari pandangan jutaan manusia, suasana haru biru mewarnai peristiwa alam yang fenomenal dan jarang terjadi itu. Ada bersorak gembira, takjub atas kuasanya seraya bertakbir dan bertahmid, hingga tak menyia-nyiakan momen langka itu dengan mengabadikannya. Namun, sudahkah kita mengambil pelajaran dan hikmah darinya?

Bukankah Allah sudah mengingatkan agar manusia berfikir dan merenung pada setiap tanda-tanda kekuasaanNya. “Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar ada tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang memahaminya (menggunakan akal).” (QS.An-Nahl:12)

Seperti diketahui, gerhana matahari terjadi ketika matahari ditutupi oleh bulan. Sementara gerhana bulan terjadi ketika bulan ditutupi oleh bumi.

Bagi budayawan Emha Ainun Najib (Cak Nun), peristiwa itu unik karena fokus penyebutan ternyata pada yang ditutupi, bukan pada yang menutupi. Orang-orang menyebut “gerhana matahari” meskipun yang menutupi adalah bulan.

“Yang disebut oleh sejarah dan ilmu pengetahuan adalah yang ditutupi bukan yang menutupi. Jadi matahari adalah objek sedangkan rembulan adalah subjek,” katanya saat tampil bersama grup musik Kiai Kanjeng di kawasan Pantai Terentang, Kecamatan Koba, Kabupaten Bangka Tengah, Bangka Belitung, Selasa (8/3) malam.

Sosok yang dikenal dengan Kiai Kanjeng itu lalu menafsirkan bahwa yang dicintai oleh Allah adalah yang ditutupi, yang dikenang oleh sejarah secara abadi adalah mereka yang ditindas dan dianiaya. Sementara yang menutupi, yang menganiaya dan menindas, akan mengalami kehancuran.

“Sayyidina Ali bin Abi Thalib berkata, kun madhlûman wa lâ takun dhâliman. Kalau harus memilih, jadilah orang yang dianiaya jangan jadi orang yang menganiaya. Jadilah orang yang ditutupi jangan jadi orang menutupi,” paparnya pada acara malam penyambutan gerhana matahari total itu.

Di hadapan ribuan hadirin, Cak Nun juga mengajak warga dan Pemerintah Daerah setempat untuk tidak menjadikan paristiwa sebagai tujuan utama momen gerhana. Menurutnya, tujuan primer dari fenomena gerhana adalah meningkatkan rasa syukur kepada Sang Pencipta.

“Mari memperpanjang ruku’, memperpanjang sujud. Artinya, memperpanjang kontemplasi kita kepada Allah subhânahu wata’âlâ,” serunya.

Cak Nun melantunkan lagu-lagu dan shalawat di atas panggung bersama istrinya, Novia Kolopaking, disaksikan para pejabat Kabupaten Bangka Tengah. Menjelang gerhana matahari total, Rabu (9/3) pagi, kawasan Pantai Terentang yang disulap mirip pasar dan arena pameran menyedot ribuan pengunjung dari berbagai daerah.

Sumber NU Online

Posted on 9 Maret 2016, in Agama and tagged , , , , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: