Fundamintalis Kuasai Organisasi Kampus, Perguruan Tinggi Diminta Waspada

image

Serambimata.com – Ada perkembangan yang mengkhawatirkan yang terjadi di dunia kampus yang bila dibiarkan akan sangat berbahaya bagi pembentukan mental mahasiswa. Lebih dari itu, NKRI dipertaruhkan akibat gerakan-gerakan sistematis yang mempengaruhi mahasiswa pada pemahaman radikal.

Karenanya, perguruan tinggi semestinya lebih waspada dan mengintegrasikan nilai bela negara pada pendidikan tinggi. Mahasiswa, baik di perguruan tinggi keagamaan dan perguruan tinggi umum, rentan terhadap rekrutmen gerakan radikal. Organisasi kampus pun saat ini tak lagi dikuasai aktivis dari organisasi arus utama seperti Nahdlatul Ulama, Muhammadiyah, atau Himpunan Mahasiswa Islam, tetapi cenderung dikuasai fundamentalis.

Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan dan Pendidikan Pelatihan Kementerian Agama Prof Abdul Rahman Mas’ud, beberapa waktu lalu di Jakarta, memaparkan, dalam disertasi mahasiswanya diketahui kerentanan dan pola rekrutmen mahasiswa untuk gerakan radikal. Hal ini disampaikan dalam seminar Pertahanan dan Bela Negara yang diselenggarakan Universitas Pertahanan di Kementerian Pertahanan, Jakarta. Hadir sebagai pembicara kunci Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu. Pembicara lain adalah Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Muhammad Nasir dan tenaga profesional Lemhannas, Mayjen (Purn) Abdul Wahab Mokodongan.

Dalam riset 2009, kata Mas’ud, metode rekrutmen terdiri dari aktivis keagamaan yang menjadi ikon penggerak, metode untuk menjaga kekhilafahan, dan metode dakwah dan jihad. Rekrutmen menjadi mudah karena ada pemahaman keagamaan yang kaku dan kerap salah paham.

Menristek dan Dikti menambahkan, Asistensi Agama Islam (AAI) sering dibelokkan sehingga ideologi Pancasila semakin ditinggalkan dan radikalisme menguat. “Tolong diawasi betul sebab AAI ini kerap dibelokkan. Lebih kacau lagi jika dosen agama memberikan nilai lebih untuk mahasiswa yang ikut AAI tetapi tidak bertanggung jawab jika ada informasi asimetris,” ujar Nasir.

Mengingat mahasiswa adalah teladan dan bela negara adalah hak serta kewajiban warga negara, kata Rektor Unhan Letnan Jenderal I Wayan Midhio, sewajarnya jika bela negara masuk dalam kurikulum pendidikan tinggi.

Pendidikan tinggi, kata Ryamizard, semestinya membentuk karakter mahasiswa menjadi orang yang pandai merasa, bukan menjadi orang yang merasa pandai. Salah satu cara adalah mengembalikan ideologi Pancasila sebagai pegangan hidup warga negara, termasuk mahasiswa.

Sumber: Kompas.

Posted on 13 April 2016, in Agama and tagged , , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: