Subhanallah! Mbah Maimun Ungkap Rahasia Di Balik Tanggal, Bulan dan Tahun Kemerdekaan RI

image

Serambimata.com – Pengasuh Pondok Pesantren Al-Anwar Sarang, Rembang, Jawa Tengah, KH. Maimun Zubair, Mengungkap rahasia kebesaran Allah dibalik tanggal, bulan dan Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia, 17-8-45.  Menurut Ulama sepuh yang akrab dipanggil Mbah Maimun itu, angka tersebut menunjukkan keiatimewaan Indonesia hingga Allah memperingatkan kemerdekaan Indonesia dengan angka 17, 8, dan 45.

Mustasyar PBNU itu menegaskan, bangsa Indonesia adalah benar-benar bangsa yang terpilih.  Tidak ada di permukaan bumi orang Islam terbanyak seperti Indonesia. Hal itu disampaikan Mbah Maimun dalam sebuah acara pengajian, Kamis (14/4) malam di Desa Gandrirojo, Kecamatan Sedan, Kabupaten Rembang, Jawa Tengah.

Menurut Mbah Maimun, rangkaian angka 17, 8, dan 45 adalah angka sholat yang menjadi salah satu kewajiban Umat Islam.
“Ini angka sembahyang, sembahyang angka yang harus diketahui yaitu tujuh belas, delapan, dan empat lima. Kalau tidak tahu ini tidak sah shalatnya,” terangnya.

Ia juga mengatakan, bahwa dalam lambang garuda pancasila terdapat dua sayap dengan jumlah bulu 17 di kanan, dan 17 disebelah kiri. Ia menjelaskan lambang angka 17 ini merupakan jumlah rukunnya shalat. Rukun tersebut adalah (1) niat (2) takbiratul ihram (3) berdiri (4) membaca al-fatihah (5) rukuk (6) thumakninah dalam rukuk (7) iktidal (berdiri bangun dari rukuk) (8) thumakninah dalam iktidal (9) sujud dua kali (10) thumakninah dalam sujud (11) duduk diantara dua sujud (12) thunakninah dalam duduk diantara dua sujud (13) membaca tasyahud akhir (14) duduk (ketika membaca) tasyahud akhir (15) membaca shalawat kepada Nabi Muhammad SAW dalam duduk tasyahud akhir (16) (membaca) salam (17) tertib (mengerjakan secara berurutan).

Tujuh belas yang kedua, lanjut Mbah Moen, merupakan jumlah rakaat shalat sehari-semalam. Yakni Mahgrib tiga rakaat, Isya empat rakaat, Subuh dua rakaat, Dzuhur empat rakaat, dan Ashar empat rakaat.

Sedangkan angka delapan menjelaskan sebagai tolaknya neraka dan sebabnya masuk surga. Mbah Maimun menjelaskan tentang tujuh penolak neraka yang ada dalam anggota sujud  meliputi: jidat, kedua tangan, kedua lutut, dan kedua kaki.
“Tujuh ini sebagai penolak neraka, karena pintu neraka ada tujuh,” ujarnya.

“Ditambah satu lagi, jika kita ingin masuk surga harus ingat sama Allah. Jadi jumlahnya genap delapan, karena delapan ini merupakan jumlah pintu surga,” terang kiai yang kini berusia 91 tahun tersebut.

Terakhir ia menjelaskan tentang angka empat lima, bahwa setiap orang Islam harus membaca syahadat empat kali, dan lima kali. Malam empat kali, Maghrib dan Isya. Sedangkan siang hari lima kali, Subuh, Dzuhur, dan Ashar. “Jadi ini menunjukkan bahwa negara Islam itu tidak ada, yang ada adalah negara mayoritas Islam, yakni Indonesia,” tutupnya.

Sumber NU Online

Posted on 18 April 2016, in Agama and tagged , , , , , . Bookmark the permalink. 9 Komentar.

  1. HADEHH….SATU LAGI KETOLOLAN ANDA.
    SEJAK KAPAN TIDAK SAH NYA SHOLAT (BUKAN SEMBAHYANG) DI PUTUSKAN DARI TAHU ATAU TIDAKNYA ANGKA ANGKA TERSEBUT? TOLONG JELASKAN AYAT MANA ATAU HADIS RASULLULLAH (BUKAN HADIS KH) YANG MANA YANG MENJELASKAN HAL TERSEBUT?

    Suka

    • Orang sholat/sembahyang harus tahu syarat dan rukunnya sholat, bila tdk tahu… bisa tidak sah sholatnya. Dan jumlah rukun sholat diingatkan oleh tanggal kemerdekaan RI.
      Yg dimaksud bukan tidak sah sholatnya karena tidak tahu rahasia dibalik tanggal kemerdekaan, tapi tdk tahu rukun sholat.
      Sekarang yg tolol siapa? Kaji dulu sebelum berkomentar, agar tidak diketahui kalau anda GAGAL PAHAM!.

      Disukai oleh 1 orang

    • anda bljr baca lagi

      Suka

    • anda bljr lg,, brani2nya nolol2in kyai

      Suka

    • Itu bukan tolol mas broo…itu pernyataan orang gila(innahu la majnun wamahuwa illa dzikrul lil alamin) yang sulit di pahami orang2 bodoh sekelas anda yang tidak tahu asal usulnya….hahahaha. jangan merendahkan harkat dan martabat para ulama yg justru dia adalah pewaris ilmu para nabi….

      Suka

  2. Anda tidak perlu menulis “SHALAT (BUKAN SEMBAHYANG)”, karena disini sudah jelas, kajian beliau dalam ruang lingkup agama islam bukan agama yg lain. Saya curiga, jangan2 anda tidak sembahyang. Cerminan dari orang yang sembahyang (dengan baik dan benar) ialah menghormati yg lebih sepuh, meskipun dia bukan dari GOLONGAN anda sendiri..

    Suka

  3. @adersa : seumur hidup, baru pertama kali ini saya jumpa orang yg berani bilang kasar ke ulama’ besar seperti abah maimun.

    semoga hidup nda bahagia dunia akhirat🙂

    Suka

  4. bagaimana pun ulama harus kita mulyakan.

    Disukai oleh 1 orang

  5. @ADERSA keren sekali.. anda.. saya salut dengan anda..
    ilmu anda sangat luas.. sehingga anda dapat memahami tulisan ini
    Dasar pemahaman anda sangat kuat sehingga menanyakan ayat dan hadist nya..
    Nyali anda luar biasa besarnya sehingga berani mengeluarkan kata2 yang begitu santunnya kepada ulama sebagai penerus nabi..

    berkhayal pun saya tidak punya nyali sebesar nyali saudara..

    Salam..

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: