Kumpulan Puisi Hans Tahun 2012

image

Serambimata.com – Bagi saya (Muhammaf Hanif atau di media lebih dikenal dengan Hans Muhammed) tahun 2012 yang lalu adalah tahun-tahun tersulit, ketika Tuhan menguji bahkan bisa jadi menghukum saya atas berjibun dosa yang saya lakukan. Sehingga tidak heran bila di tahun tersebut hingga dua tahun berikutnya saya banyak mengotori berlembar-lembar kertas dengan tumpahan kata picisan yang kusebut saja dengan ‘puisi’ meskipun jauh dari pantas disebut puisi. Meskipun telah usang, bagi saya sayang kalau dibuang.

“SAMUDERA DAMBA”

 
Kutitip damba pada luas samudra
Pada karang dan pasirnya
Kukidungkan gending hati
Agar anginnya menabur rindu
 
(Situbondo, 20 Agustus 2012, 21.41 WIB)

“DOSAKU SAMUDERA MAAFKU”
 
Bila khilafku seluas samudra
Kuingin jadi pasirnya
Dengan kesederhanaannya
Melabuhkan sampan, laut dan ombaknya
Tawaduknya adalah ma’afku untuk salah dan dosaku
Lahir bathin…
 
(Stb. 1 Syawal, 20 Agustus 2012, 00.34)

“MA’AFKAN”
 
Menyongsong hari yang Fitrah
Kuhanya punya setumpuk aksara
berjumpalitan di lempeng otak
merangkul patahan-patahannya
 
Selamat Idul Fitri
Maaf bila ada salah dan Alpa
Kosongkan dosa agar melukis surga
 
(Stb, 29 Ramadlan, 18 Agustus 2012, 12.42)

“ANDAI SAJA”
 
Andai saja
Beku lafalkan seru
akan terurai sajak biru
aksaranya terangkai dengan cahaya
 
harapku mengangkasa
di langit-langit mimpi tanpa puisi
datang saja tanpa panggilanku
hamparan pasirku telah menantimu
 
Andai saja… Rindumu merumah di hatiku…
 
(Stb, 28 Ramadlan, 17 Agustus 2012)
 
“SETIAMU DITELAN OMBAK”

Meneriakimu sudah tak perlu
Karena setiamu ditelan ombak
Tenggelam di dasar terdalam
 
Maka kubisikkan saja pada tepi malam
Tentang sejatinya cinta
Bersama zikir ilalang
 
(Stb. 27 Ramadlan, 16 Agustus 2012, 11.10)
 

“TUHAN KARIBKU”
 
Tuhan Engkau Karibku
Yang paling tahu berapa hela
Rindu kulukis di langit-Mu
Agar tak aus diterpa alpa menjelaga
 
Tuhan Engkau Karibku
Yang paling mengerti makna sepi
Yang terjuntai bertasbih
Di rumah hati berpasrah diri
 
Biarkan rasa tengadah
Menadah embun setia-Mu
Bagi dahaga jiwa
karena lama tak merangkul-Mu
 
(Stb, 26 Ramadlan, 15 Agustus 2012, 23.50)
 
 
“TUHAN…. AKU PADAMU”
 
Tuhan
Aku tak ingin letih diuji
Sampai nafas melahap sepi
 
Kukan mencari-Mu
Hingga melebihi lekukan gunung tertinggi
Lalu kurebahkan hati ini di Kasih-Mu
Sampai lelapku jadi laut-Mu
 
Membiarkan Jiwa bersampan-sampan
dalam sentuhan jemari-Mu
 
Tuhan
Terserah mau-Mu
Kau apakan saja keping cinta ini
Asal dalam indah Kuasa-Mu
 
(Stb. 24 Ramadlan, 13 Agustus 2012, 15.36
 

“SILAU GEMERLAPMU”
 
Keindahan malammu memang tak pantas dijamah pagi
Karena indahmu adalah gemerlap angkasa
Maumu adalah titah Cleopatra
Maka biarlah kagumku merumah di belukar hatimu
Menganyam mimpi yang tak terbeli
 
(Stb, 24 Ramadlan, 13 Agustus 2012, 03.12)

“LURUSLAH PERGI”
 
Penat ini terus menggambar pergimu
Dengan jemarimu yang tertinggal di lekukan rasa
Menyibak tabir sesat rimbamu
 
Luruslah Pergi
Tanpa menoleh pada Indah gemintang
Yang menyejarah indah
Dalam kisah jelata kita
Yang mengabdi pada setia
 
(Stb, 22 Ramadlan, 12 Agustus 2012, 10.55)
 

“PAGI BERDERAI”
 
Pagi berderai lagi
Udaranya puisikan pesan
tentang mentari sepi
Maka…
Sampaikan saja pada kesetiaan embun
di suci dedaun
Agar siang ajarkan damai
 
(Stb, 21 Ramadlan, 11 Agustus 2012, 10.02)

“YANG TERTINGGAL”
 
Yang tertinggal hanya gambar hatimu
Dalam penggalan waktu yang kau abai
 
Yang tertinggal hanya tetes rindu
Dalam nampan rasa tanpa pesta
 
Yang tertinggal hanya lukisan kita
Yang kutanggal di dahan-dahan jiwa
Tanpa agung setiamu…
 
(Stb, 20 Ramadlan, 12 Agustus 2012, 10.39)

MASIH SAJA
 
Yang tersisa hanya dengus hangatmu
Di tepian bujur sepi
Masih saja tertatih merangkul rindu
berpuisi tentang guguran bunga
di teras hati tanpa aksara
 
(Stb, 19 Ramadlan, 8 Agustus 2012, 10.19)

JANGAN JADI HANTU
 
Jangan jadi hantu
Pergilah… ikuti deru angin
Kuingin hirup rindu tanpa aromamu
 
Jangan jadi hantu
Cukup tak setiamu mengiris senja
Agar luka tak memerih lama
 
(Stb, 17 Ramadlan, 6 Juli 2012, 10.49)

KOTA SEPI
 
Ajari jiwa mengeja hangat matahari
Agar senyumnya tak beslah dirubung debu
Biarkan rindu meraba setia
Bersenda dengan rapuh waktu
Bersenggama dengan lobang hati
di sini…
di kota sepi
 
(Stb. 16 Ramadlan, 5 Agustus 2012, 12.10)

TARIAN GELISAH
 
Tarian gelisah adalah geliat sepi
Ketika setia tertatih merangkul sendiri
 
(Stb, 15 Ramadlan, 5 Agustus 2012, 11.05)

SETIA INI
 
Kujamu pagi dengan rindu
Yang sepi di altar kata
 
Setia yang terhina
Bersandar di letihnya membeku
 
Setia ini…
Adalah jelata rasa karena putihnya
 
(Stb, 15 Ramadlan, 4 Agustus 2012, 10.24)

DIAM INI
 
Diam ini adalah lautan samudra
Arus sakitnya karam di dasarnya
Menggerus rindu
Karangnya tak setia
 
Hanya jiwa arungi birunya
Tanpamu aku adalahnya pasirnya
 
(Stb, 13 Ramadlan, 2 Agustus 2012, 10.24)
 
MASIH SAJA SEPI

Detik-detik menari melukai
Merangkai anyaman hari dalam puisi
Hingga disuatu senja
Dalam ramai masih saja sepi
 
(Stb, 12 Ramadlan, 31 Juli 2012, 17.24 jelang buka puasa)
 

MENGHUNUS SETIA
 
Kisahmu dan kisah kita
Membakar pagi menggerus rasa
Membiarkan dedaunan meranggas
Akarnya menghunus setia
 
(Stb, 7 Ramadlan, 28 Juli 2012, 19.26)

KENANG
 
Garis-garis ikrarmu
Oleh rekah bibirmu dahulu
Menjadikan gelisah ini mendesah indah
Padamu majnunku jadi dawai
 
Saat gemerisik bisikmu menata remang kita
Hangat itu mereka-reka waktu
Hingga rindu lupa pada ujungnya
Lalu kandas dalam sejarah rasa
Sejak malam-malammu pongah
Tak setia pada jelata rasa
 
(Stb, 6 Ramadlan, 26 Juli 2012, 22.53)

“LAMPAUI MASA
 
Lampaui masa
Hadirmu menyesaki waktu
melawan deburan ombak dan hembusan pasir
 
Lampaui masa
Wajahmu menghadang takdir
Menebas alang-alang setiaku yang putih
 
Lampaui masa
Secawan rindu telah kau teguk
Dahagamu malang tubuhmu tergadai
di bibir waktu engkau tertelan
 
(Stb, 5 Ramadlan, 25 Juli 2012 jelang buka puasa, 17.27)

KARENA TAK SETIAMU
 
Biru rindu jadi abu
di hampar rasa membelukar jiwa
Bayangmu masih menari tak rapi
Mengikatku dalam jelata rasa
Karena tak setiamu yang memerih luka
 
(Stb, 25 Juli 2012/5 Ramadhan, 10.06)
 

TIMBUN SAJA
 
Timbun saja di butiran debu
Agar rindu tak bersajak di jejakmu
Biarkan kisah kita merumah di sekat rasa
Berdamai dengan badai
Merangkul ombak, karang dan sahara
 
(Stb, 24 Juli 2012/4 Ramadhan, 9.31)
 

AKHIR EPISODE KITA
 
Episode kita sudah tiada
sudah tak berlabuh di dermaga
Hempaskan saja pasirnya
Agar hanyut terhapus jejak rasa
 
(Stb, 23 Juli 2012, 12.20, 3 ramadhan)

“DI SUATU PAGI”
 
Di suatu pagi
Tiba-tiba aksaraku beterbngan menghunus sunyi
tak sempat menyulam rindu
yang samar tak bersisi
 
Di suatu pagi
Namamu tak lagi berlukiskan bunga
kutabur untuk sahaja rasa yang sederhana
Agar engkau tak bermain-main lagi
di pusara setia yang terkhianati
 
(Situbondo, 15 Juli 2012, 03.32)

 
CINTAMU

Cintamu telah kukabarkan pada badai
Agar dirangkulnya lepas di awan
Geletak namamu tak bisa kujumput lagi
Samar ditimbun butiran debu
 
(Stb. 14 Juli 2012, 8.57)

BERHARAP SYAFAATMU

Untukmu Sayyidina Muhammad…
Cintaku telah kutanggal di tumpahan keringat dan lipatan-lipatan kertas…
Hanya saat dayu sholawat…
Ada tumpahan sesal…
Mengapa tak sejak lama kumerindumu…
Maka, jumput aku dalam jatah syafaatmu…
Agar tak lumpuh jiwa menggapai tapakmu…
 
(Sukorjo, Haflah Qira’atuna, 9 Juli 2012, 12.34)
 

AMPUNI AKU
 
Rabb…
Nyanyian Alif-Mu saja…
Telah menimbun arti rindu
kecuali kerinduan pada jamah-Mu yang lembut…
Pangku cintaku agar jiwa lekat…
 Dalam dekap-Mu yang hangat…
Duuh Rabb..
Ampuni lenaku…!
 
(Sukorjo, Haflah Qira’atuna, 9 Juli 2012, 10.55)
 

MAGMA CINTAMU
 
Magma cintamu mendidih hati
Membakar rindu..
mencundangi rasa
yang jelata menggumuli setia
 
(Stb, 6 Juli 2012, 10.18)

TANPA SETIAMU
 
Di bumi ini gerimis tak lagi berasa
Rerimbunan hijau mengering
Sisakan belukar yang murung
Di ladang-ladang hati tanpa setiamu
 
(Stb, 5 Juli 2012, 09.54)
 

AKU DATANG

Kupulang menghimpun namamu dari tepian rasa…
Dengan sejumput rindu…
Aku datang
tapi siapa yg kan bukakan pintu suarga lara
 
(Pasuruan, 3 juli 2012, 15.45)

KAU MASIH SAJA

Dan di iringan mesin dan deru kota inipun, kau masih saja kemudikan hati ini..

(Bus kota sby, 3 Juli 2012, 06.56)

MASIH RINDU

Dari bising kota ini,
ada rindu yg tak habis dibagi waktu… Untukmu…
 
(Bungurasih sby, 3 juli 2012, 06.35)

KEINDAHAN MELUKAI

Merajut hari bersamamu
adalah keindahan yang melukai
Melukis jelata rasa
Yang terabai oleh tak setia
 
(Stb, 2 Juli 2012, 12.05)

SEBENTAR LAGI

Sebentar lagi kisah kita akan jadi catatan kaki
dalam letih sejarah dan roman picisan
 
(Sukorejo, 1 Juli 2012, 15.52)

KESEDERHANAAN RASA

Aku mencintaimu dengan sederhana
dalam kesederhanaan rasa
sesederhana-sederhananya apapun
yang membenamkanku dalam auramu yang sempurna
 
(Stb, 1 Juli 2012, 15.19)

DI SUATU PAGI
 
Kulangkahi saja malamku dengan gemulai hati
paginya kutemui masih sepi
Ternyata kamu masih melukis luka
Memerih hati…
 
(Sukrorejo, 1 Juli 2012, 6.35)

YANG TERSISA
 
Kugadaikan senyum
Kuobral tawa
dalam jamuan pagi dengan orkestra rindu
Kuteguk secawan hangat tubuhmu
yang masih tersisa di kerak-kerak sepi
 
(Stb, 30 Juni 2012, 09.36)

DIAMMU
 
Diammu adalah kabar dari angin
Tentang agungnya kesungguhan
dan indahnya keikhlasan…
 
(Stb, 29 Juni 2012, 20.28)

BERDAMAI DENGAN LUKA
 
Karena jemarimu setengah hati menjamah matahari
Maka sinarnya kuanyam saja dengan sepi
agar aku bisa berdamai dengan luka
berdamai dengan rindu yg tak sempurna
 
(Stb, 29 Juni 2012, 19.29)

BERAPA LAGI

Berapa aksara lagi harus kutata
Agar engkau paham memaknainya
 
(stb, 29 Juni 2012, 07.55)

“KARENA KISAH TAK SETIA
 
Di ruas-ruas tempat ini
Lekuk tubuhmu masih melukis kenang
Riwayat kita menyejarah
dalam lembar kusut yang rumit
 
Lalu tak setiamu melumat kisah
Hingga Rindu jadi abu
 
(Sukorejo, 27 Juni 2012)

HARAP

Memeras peluh
melumat penat
Agar waktu indah kupahat
 
(Stb, 26 Juni 2012, 12.17)

EKSOTISMU
 
Eksotismu adalah baju kebesaran
Yang tak mampu dijamah rindu
 
(Stb, 25 Juni 2012, 15.12)

“SESUAP RINDU
 
Dingin pagi masih mendekap kehilangan
Gigilnya menabuh perkusi sepi
Ada sesuap rindu manyapih matahari
Tapi perihku telah mengering
berdamai dengan guguran ranting
dan dedaunan
 
(Stb, 25 Juni 2012, 08.38)

PELAN-PELAN SAJA
 
Pelan-pelan saja
Kumasih ingin sapa pepohonan berangkulan
Berdansa dengan petikan angin dan ritme matahari
Melukis kulum senyummu
Dengan patahan-patahan kata dan serakan ranting yg merindu
 
(Stbndo-Bnyuwngi, 24 juni 2012, 08.17)

RUMAH HATI

Bila tak ada ruang untukku
Maka biarkan kutabung dalam rumah hatiku…
 
(Stb, 23 Juni 2012, 22.51)

“SELAMAT TINGGAL”
 
Selamat tinggal
Kuhantarkan kamu pulang
hingga ke serambi jumpalitan anganmu
 
Selamat tinggal
Kukremasi pergimu dengan kembang
melumuri tapakmu yang jalang
 
Engkau telah kultuskan mimpimu jadi Tuhan
hingga nalarmu telanjang
Menindih nurani
Melukai mata air
Menggali kuburmu sendiri di kegelapan…
Ah.. sudahlah… SELAMAT TINGGAL saja…
 
…. karena ku telah kuhabisan kata
 
(stb, 23 Juni 2012, 21.49)

NIKMATNYA LUKA
 
Pergimu adalah selaksa tak setia
bagi pagi memanah luka
Karena…
Tafakkurku masih menapaki jejakmu
Di bibir rasa dan jejal aksara
 
Paling cintamu bekukan rindu
melukis tirani tentang nikmatnya luka
 
(Stb, 23 Juni 2012, 6.37)

ABAIKAN SAJA
 
Jumput rinduku
Agar luruh rasa menelanjangi kata…
Dari pagi nyaris tak mampu menari
dan aku malu pada deru rindu
yang sembunyi mengais senyummu…
 
tapi abaikan saja
karena rinduku hanyalah butiran debu
 
(Stb. 22 Juni 2012, 20.44)

SEPIKU
 
Kukikis habis sepiku
atau kusimpan dalam senyummu
yang samar di remang malam
 
(Stb, 21 Juni 2012, 20.36)

RUMAH ITU
 
Rumah itu adalah istana
Bagi pagi yg tak bertahta
Biarkan rindu jadi tamanmu
dengan setia rasa menabur kata
 
(Stb, 21 Juni 2012, 8.49)

“ZIKIR JELATA RASA
 
Bila sepi menari…
Kuanyam saja dengan jemari belati
Sambil menadah embun yg tak meberiku kabar
pada fajar yang memerih luka
 
Ah… abaikan saja gemerincing kalbu
yang berzdikir dengan jelata rasa
Agar gaunmu tak ternoda oleh rindu yang mengkasta
Meski telah kutirakati dengan kesederhanaan kata
 
(Stb, 20 Juni 2012, 20.24)

TAK MAMPU KUMAKNAI
 
Tebaran aromamu pada pelapah kata
tak mampu kumaknai dengan jelata rasa
 
(Stb, 19 Juni 2012, 21.35)

MALAM YANG TERABAI
 
Rasa berlalu-lalang di titian pagi
Lambaikan malam yang terabai
Tanpa sinfonimu mimpi berlalu
Tapi lembutmu telah jadi nafas
Walau mentari terengah menapakimu
 
(Stb, 19 Juni 2012, 06.40)

AROMAMU
 
Aromamu membelah durja
Pada tebing-tebing sepi kamu ada
Bila bekuku jatuh pada indahmu
maka tolong aku melahap rasa
 
(stb, 18 Juni 2012, 12.40)

MENEGUKNYA TANPA PESTA

Ikat saja penatku
Pada patok-patok mimpi
Agar utasnya tak melilit hati
 
Sepi ini sudah jadi dawai
Dan aku meneguknya tanpa pesta
 
(Stb, 17 Juni 2012, 20.20)

 
AKU TERHIBUR

Di kerumunan sepi
Aku terhibur
karena engkau wahai para penambang cita
para pencerah di ruang-ruang reputasi
 
(Stb, 16 Juni 2012, with my beloved students)

 
“SEMBUHLAH PEJUANG”

Engahan nafasmu
Membelah-belah cemasku
Akan pasrahmu pada sakitmu yg memerih
Pulihlah…
Agar buru nafasmu kembali menari
dalam juntai waktu
Sembuhlah Pejuang…
Agar degubku bertabuh damai
berdansa dengan semangat juangmu
Menghabiskan sisa-sisa waktu kita
 
(RS. dr. Abd. Rahem, 16 Juni 2012)
**utk pamanku H. Fauzi Alco, yg sdng terbaring lemah**

BERENANGLAH

Berenanglah di telagaku
Karena engkau telah jadi kicau bangau
Dalam luas sepi…
 
(Stb. 14 Juni 2012)

RINDUKU

Rinduku sudah beslah di rantingmu yg patah
 
(stb, 12 Juni 2012, 21.30)

TARIAN HATI
 
Tarian hati melepas pagi
dengan helaan nafas tawakkal
dan denyut syukur yang teratur
Kamu ada atau tiada
adalah zikir sepi menghunus mimpi
 
(Stb, 13 Juni 2012, 06.15)

JENTIK SUARAMU

Engkau remas malam-malamku
dengan jentik suaramu
Meleleh pagi
Melambai sepi
Arunglah lautku dengan nafirimu
agar waktu detakkan puisi
 
(Stb. 12 Juni 2012)

BILIK HARI
 
Gerimis tersenyum
Menghibur sepi di bilik hari
 
(Stb. 11 june 2012)

BILA KAU BUNGA
 
Bila kau bunga…
Segarkanlah pagiku…

(stb, 9 Juni 2012)

 
“RINDU YANG TERBELI

Gerakmu masih menguasai pagi
tapi setiamu tak bisa kueja lagi
di ceceran aksara tak bermakna
yang hilang di lahap gersang
karena rindumu sudah terbeli
(Situbondo, 8 Juni 2012)

MERANGKUL KEHILANGAN
 
Tertatih merangkul kehilangan
Biarkan Jiwa bersenggama dengan rasa
yang berceceran di dustamu bergelombang
pecahkan saja karang itu…!
dan biarkan aku bersampan-sampan
dengan peri sepi…
(Situbondo, 7 Juni 2012)

PUISI
 
Puisi bukan hitam putih
tidak bisa dimaknai dengan mata telanjang
 
(Stb, 6 Juni 2012)

 
“SETIAMU JADI ABU”

Di cahaya jendela itu sudah tak ada Rona
hanya butiran debu merabunkan makna
Setia yang melahap cahaya
Hingga jejakmu bergantikan abu

(Situbondo, 6 Juni 2012)

SEPERTI BATU DAN KERIKIL
 
Kita seperti batu dan kerikil
Terkapar sepi di ruas raga
di pinggir-pinggir jalan dan di sudut-sudut ruang
Sesalmu hanya di kata
Tapi tak setiamu telah mencumbui luka

(Situbondo, 5 Juni 2012)

KARENA TAK SETIA

Cintamu sudah terkapar di rerimbunan
Cantikmu jadi belantara
Lembutmu memerih belati
Karena tak setia pada alang-alang
yang tunduk pada mimpi

(Situbondo, 4 Juni 2012)

RUMAH INI
 
Rumah ini telah jadi puing
Menimbun Mata air cinta
yang kering di reruntuhan
karena kesetian sudah tak setia
pada badai yang menulis luka

(Situbondo, 3 Juni 2012)

GADAIKAN SAJA
 
Guguran bunga suarakan sepi
hempas pelepah-pelepah rasa
yang gamang menadah janji
jiwamu memapah lemah pada jasadmu
cintamu koma…
 
Lalu…
Pergi saja pada samudra
Gadaikan tubuhmu pada butiran debu
Puaslah menjamah setia
dan nafas melahap buihnya
 
(Situbondo, 31 Mei 2012)

POHON CINTA
 
Tapak jejakmu menduri hati
di sini… di lembayung waktu
yang tak habis membagi rindu
dulu… saat suci melukis daun
di pohon-pohon cinta yang kau abai

(Sukorejo, 30 Mei 2012)

JEJAKI HATI
 
Kumulai jejaki hati dengan gerus gelombang
Mengajak gemericik air agar luruh
bersanding dengan pagi
berdamai dengan matahari
Untuk setia pada kesetiaan

(Situbondo, 29 Mei 2012)

BELUKAR HATI

Pagi ini fajar tak menyapaku lembut
padahal sepanjang malam ilalang berdendang
di belukar hati yang berpuisi sepi

(Situbondo pagi, 29 Mei 2012)

KARENA HARAPMU

Itu karena kamu terlalu sayang…
Hingga engkau tak mau aku kekurangan…
Itu karena kamu berharap aku seperti dewa…
Hingga engkau pergi disaat aku dirasa tak sempurna…
 
(Situbondo, 28 Mei 2012)

INDAHNYA LUKA
 
Daun-daun tak lagi menadah embun
karena tangkainya telah luluh
lembarnya berguguran dan layu
Kini… hanya berharap kepada mendung
agar sejuknya bercerita tentang indahnya luka
(Situbondo, 27 Mei 2012)

PENYEGAR LARA
 
Pagi masih menahan rasa agar tak sedih
karena malam tak bernyanyi
Tapi biarlah sedih jadi bait puisi
menjadi kuntum penyegar lara karena malam telah pergi
 
(Situbondo pagi, 25 Mei 2012)

KETIKA KAU PERGI
 
Kau patah-patahkan kayu cinta bertahta
kau jamah ludahmu dalam serak-serak palsu
Ketidak setiaan jadi lagu
puisiku bisu… kau abaikan teriakku
lalu engkau pergi sambil melahap hati
dan darahnya berderai di sudut-sudut luka

(Situbondo, 24 Mei 2012)

JEJAKMU
 
Jejakmu kian pupus tak berbekas
Menghujat pagi yang tulus

(Stbondo, 23 Mei 2012)

TAK ADA SISA

Sudah tak kau sisakan aroma dawaimu
Yang dulu berdansa di angkasa hati
meluluhku dalam peti setia
aku sepi.. tapi dengan rembulan engkau menari
 
(Situbondo, 22 Mei 2012, 11.55)

SUARAKAN SAJA
 
Suarakan saja pada cantikmu yang angkuh
Biarkan setia bernyanyi pada sakitnya karena pergimu
hari-hari akan melagu
belajar melukis tawakkal cinta pada batu
 
(Situbondo, 20 Mei 2012)

DEMI RINDU
 
Biarlah puisi indahku tersimpan rapi di sudut paling rahasia
Ini demi rindu yang melangit
Untukmu ku kata-katai hatiku dengan mantra Tuhan
Agar diamku bertahan
 
(Situbondo, 19 MEi 2012)

MAUMU
 
Maumu…
Tak bisa kuterjemahkan dengan bunga
Tak mampu kulukis dengan durja yang meraja
Hanya sunyi berlayar di lautmu yang keruh
Rinduku bernyanyi ditepinya
 
(Situbondo, 17 Mei 2012)

DAMAI BERSAMA AYAH-BUNDA

Ada damai di sepanjang tapak hati bernyanyi
Berkesah pada sejumput tulus yang tak terhitung
Disini bunda tak pernah aus mengelus emosi
Di rumah ini ayah masih memanjat malam melangit do’a
Jiwaku berenang dengan sampan-sampan guru dan raja
Bermanja dengan kata
menghibur jengah dengan tarian cinta
 
(Sukorejo, 16 Mei 2012)

AIR MATA BIOLA
 
Kapan pagi akan menyeru ramah
pada malam yang memanggilnya lemah
hanya jiwa-jiwa yang luluh pada fajar
sujud itu lelap
tapi hati bernyanyi dengan air mata biola
 
(Situbondo, 16 Mei 2012)

ARAHMU TAK BERKATA APA-APA

Kemana angin hembuskan tanda
Arahmu tak berkata apa-apa
Hanya maumu hinggap di lobang-lobang hati
abaikan putih yang berjendela
Padahal di sebrangnya indah taman pitaloka

PUTIHMU MENGHILANG

Lalu, kau patah-patahkan indahnya rasa
hingga tak berbentuk wajahnya rindu
tak berbekas yang dulu jalan setapak
dan putihmu menghilang di semak-semak

WAKTU YANG TERABAI
 
Bagaimana kuadukan pada pagi…
Bila malam melahap tepinya yang sepi…
tentang waktu yang terabai…
dan hati yang diam dalam riak gelombang…

TAPI….
 
Aku tak bisa apa-apa…
Aku hanya bisa mengatakan apa yang aku rasa…
Aku cinta tapi aku luka…
Aku rindu tapi aku lara..

MENCOBA BERTAHAN
 
Matahari bertahan di tengah badai…
Menggapai malam yang tepiannya rapuh..
Jejaknyapun sudah lupakan janji…

Puisi-puisi APRIL 2012

AKU DILUKAI
Kepak sayapmu berduri…
Engkau terbang… Aku dilukai..

SIAPA TAHU
 
Sahabat pagi menghela nafasnya yg jengah…
Seperti tarian… cintamu menghujat matahari…
Sehingga jiwa-jiwa merayap lemah…
Siapa tahu masih ada ombak yang merindu…

PADAHAL
 
Dinding tempat bersandar masih diam…
Lantai tempat berpijak masih tak ramah…
Atap-atap rumahpun menatap angkuh…
Sampai ke jalan-jalan setapak diludahi…
Hingga putih terlumuri abu…
Padahal sudah kuusap tubuhku dengan kembang tujuh rupa…

BERPUISI DENGAN DERAI
 
Hari-hari tak berhenti menggugat…
Tak peduli pagi yang menuntut hati…
Tubuh bernyanyi… fikir menari…
Abaikan kesetiaan berpuisi dengan derai…
 
Ditemani Matahari…
Kutata hati…
Agar pagi menyapa ramah…
dan Tuhan melumatku dalam CintaNya yang indah…

PADA SEGALA MAUMU
 
Kan kubiarkan kau menari… menjamah…
pada segala maumu yang tak indah…

TELAH BERCECERAN
 
Suci cinta telah berceceran di syahadat hati…
Karena engkau jengah di surga jiwa
Yang kita bangun di atas sumpah…

KUSEDEKAHKAN SAJA
 
Kusedekahkan saja hatiku…
Daripada tergadai di emperan waktu…

MENCINTAIMU
 
Mencintaimu seperti mesiu…
Mengancam…
Mencabik-cabik…
dan Melukai…

KITA
 
kita sudah berada dalam redup…
yang tersisa hanya ikhtiar untuk mencari pintu keluar…

UNTUKMU

Dan… Untukmu…
jemariku menghitung-hitung rindu…
Karenanya aku sepi…

KUSELINGKUHI HATIMU

Lalu…
Kuselingkuhi hatimu dengan basmalah…
agar berkah…

KUINGIN
 
dan… ingin kujamah hatimu
dengan segala sisa yang ada…
 
Ingin nikmati malam bersamamu…
Menghela nafas…
Tumpahkan rindu…
dan berzdikir akan keindahan Tuhan yang ada padamu…

Posted on 21 Mei 2016, in Budaya and tagged , , , , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: