Islam di Amerika Makin Diterima, Idul Fitri Dijadikan Hari Libur

Serambimata.com – Di tengah maraknya Islamphobia diberbagai negara akibat aksi teror yang kerap terjadi dengan mengatasnamakan Islam, tidak sedikit juga kabar baik tentang agama yang diusung Nabi Muhammad Saw ini. Tidak hanya tentang pesatnya perkembangan umat Islam di negara-negara Eropa tapi juga kabar tentang makin banyak masyarakat dunia yang mengenal Islam sebagai agama rahmatan lil alamin. Salah satunya adalah tentang kegembiraan masyarakat Muslim Amerika karena lebaran di negeri Paman Sam itu dijadikan hari libur.


Jika di negara yang penduduknya mayoritas Muslim seperti Pakistan, mentapkan Idul fitri sebagai pekan libur nasional sejak bertahun-tahun lamanya dan di Indonesia mendapat jatah dua hari libur nasional bisa dibilang wajar, tapi bagaimana bila di  beberapa kota di Amerika baru-baru ini menetapkan Idul Fitri dan Idul Adha sebagai hari libur. Di Eropa malah belum ada kebijakan negara tentang ini meski setiap pemerintahan negara-negara di Eropa memberi penghormatan dengan cara berbeda-beda.


Penetapan libur juga belum lama, untuk pertama kalinya dalam sejarah berdirinya negara Amerika Serikat sejak tahun 1776 lalu, baru pada Kamis 24 September 2015 Pemkot New york memutuskan meliburkan sekolah-sekolah untuk menghormati hari raya umat Islam Idul Adha 1436 Hijriya. Artinya belum terlalu tersosialisasi apalagi kota lain belum melakukan hal yang sama. Pada tahun 2016 ini, baru saja diumumkan Idul Fitri dan Idul Adha sebagai ‘public holyday’.

Sebelum ada kebijakan libur pada hari lebaran di Amerika, perayaan lebaran memang tidak semeriah di Asia karena Idul Fitri sebelumnya bukan hari libur nasional. Saking ‘flat-nya’ terkadang umat Islam di negara Paman Sam ini tidak tahu persis waktu masuknya Idul Fitri. Memang pada saat shalat Idul Fitri tampak ribuan umat Islam keluar rumah untu meninaikan shalat berjaah, kemudian bersalam-salaman, lalu kembali sepi.

Selain digilas kesibukan kerja hingga tidak ada penyambutan khusus terhadap datangnya hari lebaran, di Amerika memang belum mentradisi. Hal ini karena sebagian besar muslim Amerika adalah imigran dan pendatang yang dalam waktu tertentu kembali ke tanah air masing-masing.

Untuk mengetahui datangnya Ramadhan dan 1 Syawal biasanya hanya diperoleh melalui masjid dan komunikasi antar komunitas muslim melalui sarana telekomunikasi seperti telepon maupun internet berupa email atau website.

Setelah mengetahu masuknya tanggal 1 Syawal, biasanya akan bangun pagi-pagi, sarapan kemudian berangkat ke masjid, ballroom hotel atau lapangan untuk Shalat Id dengan mengenakan pakaian beragam sesuai asal pemakainya, misalnya yang dari Arab akan akan berjubah, yang dari Asia mengenaka stelan kemeja dan lainnya.

Selesai shalat, dilanjutkan dengan saling mengucapkan Happy Eid atau Eid Mubarak antar sesama jemaah Shalat Id, para kenalan dekat dan kaum kerabat, bersalam-salaman. Tidak ada ‘bedug’ apalagi takbir keliling. Tidak ada tradisi makan bersama. Selesai shalat, silaturahim kemudian kembali ke aktivitas masing-masing. Lebaran di Amerika seperti usai melaksanakan shalat jumat di tanah air. Meriah sejenak lalu hilang sepi karena penduduk kembali menyebar.
Meski demikian, biasanya pemerintah setempat memberi penghormatan kepada umat Islam yang berlebaran. Misalnya, Empire State Building di New York City, Amerika Serikat lampu-lampunya disetel memancarkan lampu-lampu berwarna hijau sebagai penghormatan terhadap hari raya Idul Fitri. Seperti yang mereka lakukan pada hari raya Idul Fitri sejak tahun 2007.

Demikian juga di Eropa, rata-rata perayaan lebaran di negara-negara Eropa yang memiliki komunitas muslim sedikit jauh dari kemeriahan. Di Eropa Idul Fitri juga bukan hari libur resmi, maka muslim di negara ini harus tetap bekerja atau sekolah sebagaimana hari biasanya.

Untuk dapat melaksanakan lebaran, umat Islam  di Eropa biasanya berusaha mengambil cuti di hari lebaran agar tetap bisa mengikuti Shalat Id dan berkumpul dengan sesama muslim di masjid, kemudian berkumpul bersama keluarga di rumah.

Meskipun tradisi dan kemeriahan menyambut lebaran atau hari raya Idul Fitri, berbeda antara satu negara dengan negara lainnya atau satu tempat dengan tempat lainnya, namun yang pasti esensi memperingati atau merayakan Idul Fitri adalah sama. Yakni, membuka kesucian diri dan merayakan kemenangan melawan nafsu.

Sumber: Gomuslim.com

Posted on 10 Juli 2016, in Agama and tagged , , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: