Akhirnya, Festival Seni Budaya dengan Segala Keamburandulannya Putuskan Para Jawaranya ?

Peserta MAN 2 saat menunggu antrian pemberangkatan

Serambimata.com, Situbondo – Sehari sebelum saya mendapat bocoran tentang para pemenang festival seni budaya kabupaten Situbondo 2016, dua kali saya telpon panitia selain SMS. Hal itu saya lakukan untuk memastikan apakah kontingen saya masuk enam besar atau tidak. Bukan karena kepedean, saya hanya ingin mendapat jawaban dari rasa penasaran saya, siapa tahu murid-murid saya yang saat itu tampil ala kadarnya karena kelelahan menunggu diberangkatkan dari pukul 10 pagi hingga menjelang maghrib masih jadi pertimbangan para juri.

Siapa tahu juga, Ketidak sigapan dan ketidak konsistenan panitia pada saat pemberangkatan yang menjadi sebab amburadulnya pelaksanaan festival seni budaya dalam rangka HUT RI ke-71 justru menjadi keberuntungan bagi beberapa peserta yang tampil di petang hingga malam hari. Meskipun kami menyadari peserta yang tampil di akhir-akhir sudah tidak beruntung karena sudah tidak lagi disaksikan Bapak dan Wakil Bupati yang sudah meninggalkan tempat sebelum waktunya. Tidak hanya itu, murid-murid kami yang sudah menyiapkan diri berhari-hari untuk dapat memukau penonton dan merebut hati para juri di garis start tak bisa lagi dilakukan karena panitia seakan sudah menyerah dengan kondisi peserta lainnya yang berebutan hingga memenuhi tempat di depan tribun yang ditempati para pejabat dan para juri. Akibatnya kami tidak bisa perform atau unjuk kebolehan selama beberapa menit sebagaimana yang disosialisasikan panitia sebelumnya untuk mendapatkan tambahan point dari juri.

Kesempatan 3 menit untuk perform bagi setiap peserta tidak bisa dimanfaatkan karena situasi dan kondisi tak memungkinkan

“Duh, hilang sudah kesempatan pertama saya untuk menampilkan karya sekolah kami” keluhku dalam hati di tengah suara pengeras suara pemandu acara yang menyuruh barisan kami agar cepat-cepat meninggalkan start karena ada kontingen lainnya di belakang kami.

“Hmmm ini lagi si pemandu acara, sudah tahu kami tidak dapat jatah tampil seperti peserta-peserta sebelumnya masih diperlakukan begini, pakek diusir-diusir segala”. Hati saya terus berkata-kata dengan kecewa di antara kerumunan penonton yang sudah mulai sepi.

Pelan-pelan saya amati para pemenang  yang diputuskan para juri di salah satu laman group WA yang saya ikuti sambil pikiran berjalan-jalan ke sepanjang jalan yang dilalui pawai karnaval, ketika saya mondar-mandir di sekitar garis start untuk melihat langsung siapa saja yang diberangkatkan di awal. Tidak hanya memori tentang nomor urut peserta yang tidak berlaku lagi saat itu, tapi otak ini sedikit merekam siapa saja peserta yang berkesempatan berangkat pada siang dan sore hari karena mereka kebetulan sejak pagi lebih dekat dengan garis start meskipun mendapatkan nomor buntut.

“Bukankah peserta yang menjadi pemenang ini kebanyakan berangkat sebelum petang?”. Tanyaku dalam hati sambil menatap deretan nama-nama pemenang dengan penuh curiga.

“Laa ini, malah tampilannya biasa saja, bahkan ada yang menggunakan beberapa kendaraan melebihi batas maksimal yang ditentukan panitia, tapi kok bisa masuk 6 besar ya?”. Kukernyitkan dahi sambil berharap su’udzdzon saya itu tidak terbukti.

Aturan yang menyebutkan tidak boleh menggunakan lebih dari dua kendaraan

 

Uneg-uneg di hati itu belum terjawab, teman-teman di grup WA saya justru menguatkan kecurigaan dari keamburadulan pelaksanaan event mulia memperingati Kemerdekaan bangsa ini.

“Itu yang dapat juara katagori hijau tampilnya tidak luar biasa kok”, komentar salah satu teman saya.  “Iya mereka berangkat sebelum matahari terbenam.. dan nomernya tua-tua..”, yang lain menimpali. Bagai gayung bersambut, komentar teman-teman dan pikiran buruk saya semakin menemukan jawabannya ketika saya lihat hasil jepretan kamera handphone yang kebetulan sempat menangkap salah satu peserta yang masuk di deretan juara. Di foto tersebut terlihat mobil rode empat yang didandani apa adanya dengan beberapa lembar bendera dan orang-orang di atasnya.

Penampakan kendaraan peserta yang menjadi salah satu pemenang terlihat biasa dan apa adanya

Nama-nama jawara pilihan juri itu terus saya baca, di paling atas ada SMU 2 Situbondo, berturut-turut SMK 2 Situbondo, Dinas pertanian, Disperindag, SMU 1 Asembagus dan dipaling buntut  Dinas PU Binamarga. Itu untuk kategori hijau (dinas dan sekolah. Sedangkan untuk katagori merah (kecamatan) urutan pertama ditempati kecamatan Panarukan, disusul Sumbermalang, Arjasa, Asembagus, Panji dan Mlandingan. Sementara rasa lelah karena berhari-hari mempersiapkan kontingen saya agar tampil sempurna masih belum hilang sepenuhnya di tubuh ini, pikiran terus menjelajah ke seluruh kesemrawutan pelaksanaan pawai seni budaya meskipun sudah usai dua hari yang lalu itu.

Salah satu tampilan peserta yang berusaha memenuhi tuntutan tema tentang potensi daerah

Sejak kanak-kanak saya diajarkan untuk legowo menerima kenyataan seberapapun pahitnya. Karenanya saya berusaha menerima keputusan apapun yang diputuskan juri festival budaya yang diikuti oleh lebih dari 50 peserta itu. Tapi ketika melihat secara sadar dan terang benderang terhadap proses pelaksanakan yang amburadul, semrawut dan inkonsistensi, hati ini masih ngedumel tak mampu membendung kekecewaan. Apalagi disetiap saya mengingat seluruh usaha dan kerja keras tim dan siswa dalam menyiapkan semuanya serta pengorbanan mereka hingga tak sempat sholat Dhuhur dan Ashar bahkan Maghrib, makin menancab sedih ini.

Ah, mungkin para juri memang tak punya pilihan ketika harus memutuskan 6 peserta  terbaik diantara sekian banyak peserta yang ikut ambil bagian. Dan mungkin saja mereka hanya melihat yang terbaik hanya ada di siang dan sore hari. Sedangkan yang tampil di petang dan malam hari adalah peserta yang tambil di luar harapan karena tenaganya telah terkuras habis oleh terlalu lama menunggu dan berdesak-desakan di garis start. Juri sudah tak mungkin melihat indah dan bagus disaat mereka tampil di kegelapan tanpa kelap-kerlip lampu yang dimainkan. Beberapa peserta yang terkesan terabaikan sudah kehilangan harapan di saat tak ada semangat lagi karena penonton mulai sepi. Jadi, mana mungkin di apresoliasi.
——–

Catatan kecil usai penentuan pemenang Festival Seni Budaya HUT RI ke 71 Kab. Situbondo, 16 Agustus 2016.

Posted on 16 Agustus 2016, in Budaya and tagged , , , , . Bookmark the permalink. 3 Komentar.

  1. lah kami memang sederhana pak…. tapi kami berusaha menampilkan sesuai kriteria penilaian… kami menggunakan 1 mobil dan memang tak nampak hiasan sama sekali… karena sesuai apa yg bapak posting bahwasanya mobil hanya untuk sound system… dan kami bangga kepada siswa-siswi kami.. karena beberapa busana yg kami kenakan merupakan hasil dari siswi sendiri jurusan tata busana…. dan yg paling akhir kami keberatan foto kami di posting demikian… sama.. kami juga kecewa dan prihatin dengan manajemen panitia… Insya Allah kedepan bisa lebih baik… mari kita dukung bersama….

    Suka

  2. Maaf saya hanya orang awam dan bukan orang situbondo , tapi menurut saya berita ini GAK SEIMBAMG. Hanya dilihat dari sisi “peserta yang kalah dan penonton”. terkesan curhat .

    Suka

  3. palang,,,,, se penting kita bangga di Indonesia Khususnya di Situbondo. Situbondo milik kita.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: