​Bukan Alumni Bukan Pula Lulusan Pesantren Tapi Kecintaan pada Al Quran dan Pesantren Sungguh Keren. 

Serambimata.com, Situbondo – Namanya Sugeng Sanjaya, keseharianya lebih akrab dipanggil Bang “Alis Putih” karena rambut, kumis, jenggot hingga alis matanya berwarna putih, meskipun putih kumis dan jenggotnya selama ini saya tak pernah melihatnya karena selalu dicukur rapi.  

Sekitar dua bulan terakhir ini ia bergabung di sebuah perkumpulan Khatmil Qur’an dan pembacaan Ratibul Haddad khusus alumni dan simpatisan Pondok Pesantren Salafiyah Syafiiyah Sukorejo setelah iseng saya ajak ia bergabung pada kegiatan rutin setiap malam Selasa  secara anjangsana itu. 
“Pak sugeng, ada kegiatan rutin khotmil Qur’an khusus alumni dan simpatisan pondok pesantren Sukorejo, bergabung yuuk setiap malam Selasa”, ajak saya tanpa sengaja dalam sebuah pertemuan yang diadakan tanpa sengaja pula. 
Di luar dugaan, pensiunan BKKBN itu bukannya menolak, ia justru berterimakasih kepada saya karena diajak bergabung pada kegiatan tersebut. “Siap mas, saya senang dan terimakasih sudah diajak pada kegiatan yang sangat bagus dan bermanfaat seperti itu, apalagi berhubungan dengan pesantren Sukorejo”, Jawab pak sugeng dengan suaranya yang renyah penuh sumringah. 

Pak Sugeng diantara jamaah pengajian khotmil Qur’an

Malam ini, Senin malam Selasa, 29 Agustus 2016, pria yang masih aktif di dunia siaran di salah satu radio milik pemerintah itu menjadi tuan rumah kegiatan khotmil Qur’an dan pembacaan Rawatibul Haddad. Ada kekaguman di hati saya ketika saya melihat semangat yang tak pernah surut di usia senjanya. Kecintaannya pada Al Qur’an dan Pesantren Sukorejo bahkan membuat saya malu meskipun sejak kanak-kanak dibesarkan dan ditempa ilmu agama di Pondok Pesantren yang kini diasuh KHR Ahmad Azaim Ibrahimy itu. 

Kegiatan Khatmil Qur’an dan rawatibul haddad di rumah pak Sugeng Sanjaya

Pak Sugeng Sanjaya si Alis Putih adalah sosok luar biasa. Bagi saya, ia adalah panutan dan motivator. Bagaimana tidak, di tengah kesibukannya sebagai penyiar radio dan usaha cuci motor yang dirintisnya sejak memasuki masa pensiun ia masih meluangkan waktunya untuk Al Qur’an, Pesantren dan masjid. Untuk ketiga hal itu kecintaan dan pengabdiannya sungguh begiti Dalam soal masjid, pak sugeng tidak hanya aktif sebagai ta’mir di salah satu masjid di kampungnya tapi juga aktif bersama saya sebagai pengurus Dewan Masjid Indonesia (DMI) Situbondo dan Lembaga Ta’mir Masjid Nahdlatul Ulama (LTM-NU) Cabang Situbondo. 
Pak Sugeng Sanjaya adalah sosok dari sedikit pria yang terus berikhtiar menghabiskan waktu-waktunya untuk menjadi husnul khotimah di usia senjanya. 

“Lalu, bagaimana dengan saya yang  berumur jauh lebih muda?”, tanyaku dalam hati, sambil menghela nafas panjang, menghitung-hitung kealpaan yang menumpuk di sepanjang waktuku yang banyak tersia-sia.
———- 

Catatan dari kegiatan rutin Khotmil Qur’an dan pembacaan Rawatibul Haddad Alumni dan simpatisan Pondok Pesantren Salafiyah Syafiiyah Sukorejo.

Senin, 29 Agustus 2016, 23.30 wib.

Posted on 30 Agustus 2016, in Sosial and tagged , , , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: