Hari Ini Ribuan Peserta Ikuti Napak Tilas Nasional Perjuangan Kiai As’ad 

Serambimata.com –  Ribuan santri, alumni, wali santri dan simpatisan Pondok Pesantren Salafiyah Syafiiyah Sukorejo Situbondo hari ini, Senin hingga Selasa, 14-15 November 2015 akan ikut ambil bagian dalam acara Napak Tilas Nasional Jejak Perjuangan Seorang Ulama’ besar Jawa Timur yang baru saja dianugerahi gelar Pahlawan Nasional dan Bintang Mahaputra, KHR As’ad Syamsul Arifin. 

Menurut jadwal, peserta akan diberangkatkan pagi ini pukul 08.oo WIB dari Pondok Pesantren Raudlatul Ulum Sumber Beringin, Sukowono, Jember oleh Pengasuh Pondok Pesantren Salafiyah Syafiiyah Sukorejo Situbondo, KHR Ahmad Azaim Ibrahimy. Dari lokasi Start, Napak Tilas Nasional perjuangan Kiai Asad kali ini para peserta akan menempuh perjalanan sekitar 50 km  hingga berakhir desa Curah Damar kecamatan Silo kabupaten Jember. 

Route yang akan dilalui merupakan jejak perjuangan Kiai As’ad dalam mengusir penjajah Jepang di desa Grahan, kecamatan Silo, Jember. Menurut catatan sejarah, saat itu Desa Garahan menjadi markas serdadu Jepang untuk Jember bagian timur. Kiai As’ad selaku Komandan Hizbulloh Kawasan Timur Indonesia, berinisiatif untuk mengusir mereka sejauh mungkin. Maka Kiai As’ad dan sejumlah kiai serta petinggi tentara Hizbulloh berkumpul di Pondok Pesantren Raudlatul Ulum, Sumberwringin, Kecamatan Sukowono terkait rencana itu. Konon, pesantren yang ketika itu diasuh oleh  Kiai Umar tersebut, sejak lama menjadi markas perjuangan melawan penjajah.

Pada hari yang telah ditentukan, berangkatlah Kiai As’ad dan rombongan menuju markas Jepang di Desa Garahan. Desa Garahan sendiri terletak sekitar 45 kilometer ke arah tenggara dari Pondok Pesantren Raudlatul Ulum yang menjadi start gerilya. Mereka berjalan kaki melewati arah selatan. Sampai di Desa Sumberwaru, tepatnya di rumah Kiai Sholeh, sekitar 5 kilometer dari start, Kiai As’ad dan rombongan berhenti. Di situ Kiai  As’ad berembuk, mencari cara yang tepat untuk menghadapi serdadu Jepang.

Setelah dirasa cukup berkoordinasi, Kiai As’ad dan rombongan kembali melanjutkan perjalanan. Namun sekitar 4 kilometer kemudian, Kiai As’ad dan rombongan kembali berhenti, tepatnya di  Pesantren Sayyidul Ali, Desa Sukorejo, Kecamatan Sukowono. Saat itu pesantren tersebut diasuh oleh KH. Syarkowi. Menurut saksi sejarah, di tempat ini  Kiai As’ad dan rombongan  hanya singgah satu malam, namun semalam suntuk mereka membaca rotibul haddad.

Keesokan harinya, Kiai As’ad dan rombongan bergerak menuju Desa Garahan. Tapi perjalanan belum begitu jauh, serdadu Jepang sudah menunggu di sungai Kramat. Mereka mencegat Kiai As’ad, hingga pertempuran pun tak bisa dihindari. Atas pertolongan Allah, Kiai As’ad berhasil memaksa mereka lari terbirit-birit, menyelinap dalam kelebatan hutan.

Posted on 14 November 2016, in Sosial and tagged , , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: