Iklan

Nasihat Kiai Azaim Kepada Para Guru dan Murid

KHR Ahmad Azaim Ibrahimy bersama Jama’ah Sholawat Bhenning

Serambimata.com – Seperti sebelum-sebelumnya, acara pengajian Sholawat Bhenning selalu dipenuhi oleh masyarakat yang ingin bersholawat bersama dan menyimak pesan-pesan menyejukkan Kiai muda bersahaja, KHR Ahmad Azaim Ibrahimy. Antusiasme masyarakat terhadap cara Dakwah cucu KHR. Asad Syamsul Arifin itu semakin lama semakin besar, hal itu terlihat dari makin banyaknya masyarakat yang berbondong-bondong hendak mengikuti pengajian yang digagas sekitar dua tahun terakhir ini.

Rupanya menyampaikan pesan-pesan agama sambil menyertakan musik hadrah dan puji-pujian kepada Nabi SAW dalam satu panggung lebih mudah diterima oleh Masyarakat.  Tidak hanya itu, kemasan dakwah yang ditampilkan semakin menarik lantaran juga diselipkan puisi yang syarat akan pesan yang dibacakan oleh para penyair profesional. Sehingga masyarakat semakin tersentuh dan tak beranjak dari tempat acara hingga pengajian usai. 

Tapi, ada yang sedikit berbeda pada pengajian Sholawat Bhenning yang digelar di desa Mojosari, Kecamatan Asembagus, Situbondo, pada Jumat lalu 17 Februari 2017. Di dalam pengajian yang dimulai sekitar pukul 19.00 WIB itu tak hanya dipadati lebih banyak Umat Islam, tapi juga pesan-pesan menyejukkan dari Kyai Azaim yang banyak ditujukan kepada para guru dan murid,  seiring dengan tema yang diusung malam itu “Haul Akbar, Zdikir Cinta, Rindu Rasulku, Rindu Guruku”. 

Antusiasme masyarakat mengikuti Pengajian Sholawat Bhenning di Mojosari

Di tengah-tengah ribuan Umat Islam, Pengasuh ke-4 Pondok Pesantren Salafiyah Syafiiyah Sukorejo itu mengingatkan bahwa  guru itu rezeki dan pemberian Allah, karenanya seorang murid harus bersyukur kepadaNya ketika memiliki seorang guru yang bersambung kepada Rasulullah SAW.

 “Punya guru itu rezeki, itu pemberian(fadhol) dari Allah. Perbesarlah syukur kita, ketika mempunyai guru yang yang memiliki sambungan dengan Gusti Kanjing Nabi Muhammad SAW, sehingga kita bertauhid dengan benar, tidak salah. Aqoid yang 50 itu ada gurunya, dan ada yang bertanggung jawab. Makanya kenalilah guru kita”, pesan Kiai Azaim. 

Khusus kepada yang berprofesi guru, lulusan Ma’had Rushaifah, Mekkah al Mukarromah asuhan Abuya Sayyid Muhammad Alwi Al-Maliki itu juga berpesan agar tidak sombong dalam menjalankan profesinya sebagai pendidik. Bahkan harus banyak mendo’akan murid-muridnya. 

“Ketika seorang guru diberi izin oleh Allah memberikan syafaat kepada muridnya, maka jangan sampai guru menjadi tinggi hati, bisa jadi muridnya yang akan memberikan syafaat kepada gurunya. Saya teringat dengan dawuh Mbah Maimun, beliau mengatakan kalau mengajar, jangan terlalu dibuat berat berpikir (ekaghebey sossa)  terutama kepada murid yang nakal (misalnya), sehingga seolah olah anak ini harus berhasil di didik oleh kita, siapa kita? Urusan hidayah itu dari Gusti Allah SWT. Tugas kita hanyalah mengajar, perkara ia mau menerima ilmu kita. Ini tentunya setelah dengan melakukan ikhtiyar semaksimal mungkin, ternyata masih saja  ada murid murid kita yang nakal, maka doakan murid itu, barang kali dia yang akan memegang dan menarik tangan kita, menyelamatkan dari jatuh ke api neraka. Inilah yang seharusnya ada dalam batin seorang guru. Jangan kemudian merasa dirinya menjadi ustadz/ustadzah, kemudian ia menyatakan kalau dirinya pasti selamat, maka sesungguhnya ia diam-diam telah menyimpan kesombongan pada muridnya”, jelasnya.

Akhirnya, Kiai Azaim berharap agar seorang murid dapat menjadi murid sejati dengan mendo’akan guru-gurunya dan menjaga silaturrahim dengannya bahkan kepada keluarganya.

“Murid yang sejati adalah murid yg mampu menyerap batin gurunya. Tanda murid sejati adalah setidaknya ia selalu mendoakan gurunya. Kemudian mendoakan agar aib gurunya tertutup. Sebab seorang guru bisa selamat sebab doa murid. 

اللهم استر عورة شيخى او استاذى

Dilanjutkan dengan selalu menjaga silaturahmi dengan keluarga guru dan santrinya.

Semoga kita termasuk dari golongan guru yang tidak tinggi hati dan mampu menjadi murid sejati, Amiin. 

Iklan

Posted on 22 Februari 2017, in Agama and tagged , , , , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: