Iklan

Tuduhan Munafik dan Larangan Menshalati Janazah Muslim

Spanduk larangan menshalati dan menguburkan janazah pendukung cagub tertentu (Foto: Arrahmah.info & porosindonesia.com)

Serambimata.com – ​Kabar penolakan shalat Janazah seorang nenek bernama Hindun di masjid yang tak jauh dari rumahnya beberapa waktu lalu menjadi viral di berbagai media. Bukan tanpa sebab, menurut berita yang berkembang, penolakan janazah yang meninggal dunia pada Selasa (7/3) lalu itu karena semasa hidupnya al Marhumah diketahui menjadi pendukung dan mencoblos cagub DKI Jakarta yang dianggap kafir dan telah menista agama. 

Tentu, peristiwa yang memunculkan reaksi beragam dari berbagai kalangan tersebut terjadi seiring dengan maraknya spanduk menolak dan larangan menshalatkan jenazah pendukung atau pemilih penista agama. Spanduk tersebut ditujukan kepada para pendukung pasangan Basuki Tjahaja Purnama ( Ahok) dan Djarot Saiful Hidayat yang menjadi pasangan calon Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta. 

Mereka berdalih, larangan menshalati janazah muslim yang mendukung cagub tertentu itu merupakan perintah agama yang melarang mensholati kaum munafiq. Salah satu tanda kemunafikan itu adalah memilih pemimpin kafir. 

Larangan menshalati janazah karena tudingan munafik ini mengingatkan pada peristiwa serupa yang terjadi pada saat Presiden RI pertama, Ir Soekarno wafat. Pada saat itu, seorang tokoh dan ulama besar, Buya Hamka diminta menshalati jenazah tokoh yang lebih dikenal panggilan Bung Karno itu. Sebagian pihak mencegah Buya Hamka dengan alasan Bung Karno itu Munafik dan Allah telah melarang Rasul menshalati jezanah orang Munafik (QS al-Taubah:84). Buya Hamka menjawab kalem, “Rasulullah diberitahu sesiapa yang Munafik itu oleh Allah, lha saya gak terima wahyu dari Allah apakah Bung Karno ini benar Munafik atau bukan.” Maka Buya Hamka pun menshalati jenazah Presiden pertama dan Proklamator Bangsa Indonesia.

Apa yang ditunjukkan Buya Hamka saat itu sungguh mencerminkan sikap ulama yang shalih. Beliau sadar bahwa memberi label terhadap orang lain merupakan hak prerogatif Allah. Ciri-ciri Munafik yang disebutkan dalam al-Qur’an seharusnya membuat kita mawas diri, bukan malah digunakan untuk menyerang sesama Muslim, apalagi hanya karena perbedaan pilihan politik.

Kalaupin ada larangan kepada Rasulullah untuk menshalati jenazah orang Munafik itu karena doa Rasul maqbul (pasti diterima) jadi tidak selayaknya Rasul turut mendoakan kaum Munafik. Akan tetapi para sahabat yang lain tetap menshalatkan orang yang diduga Munafik karena para sahabat tidak tahu dengan pasti mereka itu benar-benar Munafik atau tidak. Rasul hanya menceritakan bocoran dari langit tentang siapa saja yang Munafik kepada sahabat yang bernama Huzaifah. 

Bocoran yang diterima langsung dari Rasulullah kepada Huzaifah tidak pernah dibocorkan kepada siapapun, termasuk kepada  Umar bin Khattab yang mendesaknya. Sehingga Umar tidak ikut menshalati jenazah ketika dia diam-diam melihat Huzaifah tidak ikut menshalatinya, tetapi Umar sebagai khalifah tidak pernah melarang sahabat lain untuk ikut menshalati jenazah tersebut.
Kitab Aqidah Thahawiyah yang menjadi pegangan ulama salaf mengingatkan kita semua: 

لا ننزل أحد منهم جنة ولا نارا، ولا نشهد عليهم بكفر ولا شرك ولا بنفاق ما لم يظهر منهم شيء من ذلك، ونذر      سرائرهم إلى الله تعالى. 

“Kami tidak memastikan salah seorang dari mereka masuk surga atau neraka. Kami tidak pula menyatakan mereka sebagai orang kafir, musyrik, atau munafik selama tidak tampak lahiriah mereka seperti itu. Kami menyerahkan urusan hati mereka kepada Allah ta’ala”.



Itulah cerminan kehatia-hatian para ulama salaf menilai status keimanan orang lain. Apa yang tampak secara lahiriah bahwa mereka itu shalat, menikah secara Islam, berpuasa Ramadan, maka cukup mereka dihukumi secara lahiriah sebagai Muslim, dimana berlaku hak dan kewajiban sebagai sesama Muslim, seperti berta’ziyah, menshalatkan dan menguburkan mereka. Masalah hati mereka, apakah ibadah mereka benar-benar karena Allah ta’ala itu hanya Allah yang tahu. Itulah sebabnya Buya Hamka tidak ragu memimpin shalat jenazah Bung Karno. 

Imam al-Ghazali juga telah mengingatkan kita semua dalam kitabnya Bidayah al-Hidayah:

‎ولا تقطع بشهادتك على أحد من أهل القبلة بشرك أو كفر أو نفاق؛ فإن المطلع على السرائر هو الله تعالى، فلا تدخل بين العباد وبين الله تعالى، واعلم أنك يوم القيامة لا يقال لك: لِم لمَ تلعن فلانا، ولم سكت عنه؟ بل لو لم تعلن ابليس طول عمرك، ولم تشغل لسانك بذكره لم تسأل عنه ولم تطالب به يوم القيامة. وإذا لعنت أحدا من خلق الله تعالى طولبت به،

“Janganlah engkau memvonis syirik, kafir atau munafik kepada seseorang ahli kiblat (orang Islam). Karena yang mengetahui apa yang tersembunyi dalam hati manusia hanyalah Allah SWT.  Jangan pula engkau ikut campur dalam urusan hamba-hamba Allah dengan Allah SWT. Ketahuilah, bahwa pada hari kiamat kelak engkau tidak akan ditanya : ‘mengapa engkau tidak mau mengutuk si Anu? Mengapa engkau diam saja tentang dia?’ Bahkan seandainya pun kau tidak pernah mengutuk Iblis sepanjang hidupmu, dan tidak menyebutnya sekalipun, engkau pun tidak akan ditanyai dan tidak akan dituntut oleh Allah nanti di hari kiamat. Tetapi jika kau pernah mengutuk seseorang makhluk Allah, kelak kau akan dituntut (pertanggungjawabannya oleh Allah SWT)”.

KH. Afifuffuddin Muhajir : Selama Berstatus Muslim, Janazahnya Wajib Dishalati.

Wakil Ketua LBM PBNU, KH. Afifuddin Muhajir menyatakan tidak sependapat dengan larangan menshalati janazah seorang muslim. Pengarang kitab Fathul Mujibil Qorib itu  memandang bahwa di dalam aqidah Ahlussunnah wal Jama’ah, orang muslim tetap dihukumi muslim sepanjang tidak benar-benar meyakini atau melakukan hal-hal yang menyebabkan dia keluar dari Islam.

Dosen Lembaga Ahli Fiqih, Ma’had Aly Pondok Pesantren Sukorejo itu menambahkan, dosa besar apapun yg dilakukan orang muslim, selain syirik dan hal-hal lain yg bertentangan dengam rukun iman tidak membuatnya menjadi kafir, sehingga kalau dia meninggal tetap wajib dishalati.

“Oleh karena itu, saya tidak sependapat dengan fatwa atau sikap sebagian kalangan yang menjadi kendala bagi terlaksananya shalat janazah atas mayit muslim yg menjadi pendukung Ahok meski ada keyakinan tentang tdk bolehnya muslim memilih pemimpin non muslim. Wallahu a”lam“, tulis tokoh yang pernah menjabat Katib Syuriah PBNU masa khidmat 2010-2015 di akun facebook pribadinya.

Iklan

Posted on 15 Maret 2017, in Agama and tagged , , , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: