Iklan

Kiai Azaim Ungkap Kedahsyatan Lainnya dari Ratibul Haddad 

KHR Ahmad Azaim Ibrahimy saat menyampaikan tausiahnya

Serambimata.com – Malam itu menjadi moment yang begitu istimewa bagi ratusan alumni dan simpatisan Pondok Pesantren Salafiyah Syafiiyah (P2S2) Sukorejo Situbondo. Mereka yang tergabung di beberapa perkumpulan Khotmil Qur’an dan Ratibul Haddad dari tiga kecamatan meliputi Panji, Mangaran dan Kapongan tampak antusias berkumpul jadi satu di kediaman salah satu alumni di desa Curah Jeru kecamatan Panji, Jusrihadi. Bagaimana tidak, malam itu, Senin (15/05/2017) Pengasuh ke-4 P2S2, KHR. Ahmad Azaim Ibrahimy direncakan hadir di tengah-tengah mereka. 

Satu jam para alumni membaca wirid Ratibul Haddad sebagai bacaan pembuka yang dilanjutkan dengan bersama-sama membaca Al Qur’an, sosok yang ditunggu-tunggu akhirnya tiba. Para jamaah pun serentak berdiri menyambut kedatangan sang guru. Dengan kendaraan khas Innova warna putih, cucu Kiai As’ad itu langsung turun dari mobilnya dan berbaur dengan para alumni usai seluruh yang hadir menyalaminya. 
 
Beberapa saat kemudian,  Pria yang akrab dipanggil Kiai Azaim itu hanyut dalam lantunan Al Qur’an bersama ratusan alumni dan simpatisan pesantren yang diasuhnya. Sebelum akhirnya acara dilanjutkan dengan Tahlil, do’a Khotmil Qur’an dan ditutup dengan Tausiyah oleh Kiai Azaim. 

Kiai Azaim di tengah-tengah alumni dan simpatisan P2S2

Dalam tausiyahnya ia berpesan agar setiap membaca Ratibul Haddad menambahkan niat untuk melawan dan memberantas kejahatan, kemaksiatan dan kemungkaran. Karena wirid tersebut tidak hanya berfungsi sebagai perisai dalam membentengi diri dari berbagai gangguan jahat dari jin dan manusia tapi juga terbukti dapat melawan dan memberantas perbuatan mungkar, kemaksiatan bahkan aliran-aliran sesat dan menyimpang. 

Dalam suasana hening oleh kekhidmatan dan rasa penasaran para alumni dan simpatisan yang hadir, Kiai Muda kharismatik itupun mulai berkisah. 

“Ada salah satu alumni asal Lumajang Jawa Timur yang bercerita tentang kondisi yang sangat parah oleh kemaksiatan dan kemungkaran di daerahnya. Mulai dari perjudian, pelacuran, narkoba begitu nyata terlihat dengan maraknya warung dan pertokoan yang dijadikan tempat tumbuh suburnya kemungkaran dan kemaksiatan”, kisah Kiai Azaim tanpa menyebutkan nama alumni tersebut.

Tentu saja, masyarakat sangat resah dengan apa yang sedang terjadi di lingkungannya, termasuk salah satu alumni Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo itu. Hingga akhirnya ia berinisiatif untuk istiqomah membaca wirid Ratibul Haddad yang menjadi bacaan wajib di pesantren tempat dulu ia menimba ilmu agama. Tak lupa ia menyelipkan niat memberantas kemaksiatan membaca wirid tersebut.

“Singkat cerita, setelah sang alumni itu istiqomah membaca ratibul haddad, atas kuasa Allah banyak toko-toko, warung yang dijadikan tempat transaksi narkoba, pelacuran dan perjudian satu-persatu mulai tutup. Bahkansalah satu wanita yang bekerja di tempat tersebut mengaku tidak betah karena tubuhnya merasakan panas setiap melakukan kemaksiatan”, Kiai Azaim melanjutkan kisahnya. 

Tidak hanya di Lumajang, Jawa Timur. Kejadian hampir sama juga terjadi di Sumenep Madura. Bedanya, di daerah yang ada di ujung pulau Madura tersebut adalah munculnya aliran sesat. Menurut pengakuan salah satu alumni P2S2, satu persatu  pengikut aliran sesat akhirnya keluar semenjak dirinya rutin membaca Ratibul  Haddad yang diniatkan untuk menghancurkan aliran sesat yang terjadi di daerahnya. 

“Di Sumenep pun demikian, ada alumni yang menyampaikan kalau di daerahnya sudah aman dari aliran sesat yang sempat bikin resah masyarakat sekitar semenjak ia istiqomah membaca rawatibul haddad dengan  niat yang ditanamkan untuk melawan aliran-aliran yang merasahkan”, tambah lulusan pesantren Al Haramain Mekkah itu. 

Karenanya, murid Sayyid Muhammad Al Maliki itu menghimbau agar agar setiap membaca Ratibul Haddad tidak lupa manambahkan niat melawan dan menyembuhkan segala bentuk kejahatan, kemungkaran dan kemaksiatan di lingkungannya masing-masing, baik dibaca yang perorangan maupun berkelompok. 

“Termasuk di Situbondo, tambahkan niat setiap membacanya untuk malawan apapun yang berpotensi menggangu kesatuan dan kenyamanan masyarakat”, harap Kiai Azaim sambil seraya menyinggung kembali tentang bahaya Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) yang sempat menyita perhatian publik. 

Sebelum mengungkap tentang kehebatan Ratibul Haddad, Kiai yang baru saja luncurkan bulu Antologi Puisi karangannya itu menyampaikan tentang seputar fadhilah dan keutaman Khotmil Qur’an. 

“Tradisi Khatmil Qur’an yang dibaca secara berjama’ah bersama-sama seperti ini dahulu dimulai dari tradisi para Masyayih dan para Ulama’ Hijaz Mekkah dan Madinah, termasuk pembacaan sholawat dengan menggunakan media biji-bijian dan kerikil, dan tradisi pembacaan qosidah. Kemudian tradisi tersebut dibawa ke Indonesia oleh para ulama diantaranya KHR, Syamsul Arifin dan KHR Asad Syamsul Arifin. Para ulama itu adalah orang-orang yang sanad keilmuanya bersambung hingga ke Rasulullah SAW”, papar Kiai Azaim. 

Di ujung tausiahnya, ia tak lupa mengingatkan tentang pentingnya menghidupkan kembali tradisi qasidah tarkhib Ramadhan, seperti qasidah dan ucapan-ucapan selamat menyambut datangnya Ramadhan. Hal itu penting selain untuk syi’ar Islam juga dimaksudkan agar lebih bersemangat menghadapi dan menjalani ibadah di bulan Ramadhan. 

Seperti diketahui, selain Al Qur’an yang menjadi bacaan wajib bagi santri,  Ratibul Haddad juga menjadi salah satu wirid dan bacaan rutin bagi mereka.  Di Pondok Pesantren yang sudah berusia lebih dari satu abad tersebut ada tiga awrad (wirid) yang selama ini menjadi benteng dari Pesantren Salafiyah Syafiiyah Sukorejo. Ketiganya adalah awrad utama yang saling mengokohkan yakni ratibul haddad, burdah dan tarhim.

Bahkan pada acara reuni alumni yang diselenggarakan dalam rangka haul majemuk tahun lalu, cicit pengarang Ratibul Haddad, Habib Abdullah bin Muhammad al-Masyhur al-Haddar memberikan ijazah Ratibul Haddad kepada seluruh santri dan alumni yang hadir saat itu. 

cicit pengarang Ratibul Haddad, Habib Abdullah bin Muhammad al-Masyhur al-Haddar saat menghadiri Haul Majemuk tahun 2015 dan memberikan ijazah Ratibul Haddad

Sekitar pukul 20.30 acara Khotmil Quran, pembacaan Ratibul Haddad dan disempurnakan dengan Tahlil berakhir. Setelah menikmati jamuan, Kiai Azaim dan ratusan alumni satu persatu membubarkan diri. Kecuali beberapa alumni yang memilih bertahan di tempat acara dengan setumpuk persoalan yang didiskusikan, mulai dari soal himpitan ekonomi, tagihan rekening listrik yang makin tinggi hingga soal omelan istri. 
“Bacakan saja Ratibul Haddad”, nyeletuk ketua Khatmil Qur’an Al Ghiwari, Basri Fauzi, setengah berkelakar. (Hans)

Iklan

Posted on 16 Mei 2017, in Budaya, Sosial and tagged , , , , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: