Iklan

Dampak FDS Mulai Terasa! Siswa Madin dan Pesantren Berkurang

(foto: radarpena.com)

​Serambimata.com – Yang dikhawatirkan akhirnya benar-banar terjadi,  meskipun masih sebagian sekolah yang menerapkan peraturan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Permendikbud) nomor 23 tahun 2017 tentang hari sekolah, dampaknya sudah mulai terasa bagi madrasah diniyah dan pesantren. Tentu, hal ini berlaku bagi pesantren yang santrinya masih merangkap sekolah formal. 

Dampak kebijakan lima hari di sekolah mulai pagi hingga sore hari yang kemudian populer dengan FDS (Full Day School atau Five Days School) benar-banar terbukti. Di sejumlah daerah, banyak madrasah diniyah (madin) kehilangan siswa. Oleh karena itu, pemerintah dituntut untuk segera mencarikan solusinya.

Dilansir dari jpnn.com, pengelola Ponpes Al-Hikmah, Lampung, Muallimin yang juga menyelenggarakan TPA mengatakan selama ini siswanya ada 20 orang.
“Sepekan ini tidak ada satupun yang datang ke musala,” katanya saat ada pertemuan pengelola Madin di Bogor kemarin (10/8).

Ternyata setelah ditelusuri, SDN tempat anak itu sekolah, menerapkan sekolah lima hari. Menurut dia anak-anak pulang jam 15.00 dan tidak memungkinkan untuk bisa ikut TPA lagi. Padahal pendidikan TPA di tempatnya tidak hanya baca Alquran saja. Tetapi juga ada materi tajwid dan fiqih. Dia berharap TPA yang sudah jalan selama tiga tahun itu bisa aktif kembali melayani masyarakat.

Kondisi serupa juga terjadi di Indramayu. Pengurus Yayasan Assafi’iyah, Patrol, Indramayu Muhammad Hafifi mengatakan sebagian SDN di daerahnya sudah menerapkan sekolah lima hari. Akibatnya banyak Madin yang kehilangan siswa. “Kami sampai buka posko pengaduan FDS” jelasnya. Posko itu diharapkan bisa menampung keluhan pengelola Madin.

Hafifi sendiri mengelola Madin Takmiliyah Ma’arif dengan jumlah siswa 250-an anak. Untung di kecamatannya seluruh SDN masih memakai enam hari sekolah.
Jadi seluruh siswa madin di tempatnya masih utuh. “Tetapi di kecamatan tetangga seperti Loh Sarang dan Anjatan sudah lima hari sekolah,” jelasnya.

Ketua Rabhitah Ma’ahid Islamiyah (RMI), Abdul Ghofar Rozin menyebut laporan dan keluh kesah pengelola madrasah diniyah (madin) dan pondok pesantren masuk masuk ke meja RMI semenjak Permendikbud itu diberlakukan pada Juni lalu.

Rozin, sapaan akrabnya, menyebut beberapa contoh. Di Madin Nurul Huda, Soka, Poncowarno, Kebumen Jateng. Sejak kebijakan sekolah 5 hari dikeluarkan, para siswanya sudah tidak pernah terlihat di madin lagi. Dari laporan didapati bahwa para santrinya terlalu lelah karena pulang dari sekolah jam 17.00.

Di Madin Miftahul Ulum, desa Kedungjati, Kecamatan Sempor, masih di Kebumen, para santri yang berstatus siswa SLTA tidak bisa lagi hadir karena pulang ke rumah puku 16.30. “Pengajiannya dimulai pukul 16.00, mereka sudah lelah,” katanya.

Di Pondok Pesantren Darussalam Bandar Jaya Lampung, jumlah siswa menurun drastis sejak Juni. “Satu kelas habis tinggal 2 orang,” katanya. Selain itu masih ada beberapa laporan dari Semarang dan Banyumas.

Rozin menjelaskan bahwa para santri yang mundur rata-rata adalah mereka yang menempuh pendidikan formal sembari menempuh pendidikan di pesantren.
Karena ada beban tambahan di sekolah, mereka memilih meninggalkan pesantren. “Ada yang pamit sendiri, ada yang dipamitkan oleh orang tuanya,” katanya.

Menurut Rozin, meskipun pemerintah menetapkan bahwa permendikbud hanya akan berlaku sebagian, tapi kenyataannya, di daerah-daerah, para kepala Dinas Pendidikan maupun Kepala-Kepala sekolah sangat bersemangat untuk mewujudkannya tanpa memikirkan dampak terhadap madrasah diniyah.

Sesuai Pasal 2 Permendikbud Nomor  23 Tahun 2017 Tentang Hari Sekolah atau tentang Lima Hari Kerja Di Sekolah (Sekolah Senin-Jumat), dinyatakan bahwa

1) Hari Sekolah dilaksanakan 8 (delapan) jam dalam 1 (satu) hari atau 40 (empat puluh) jam selama 5 (lima) hari dalam 1 (satu) minggu.

(2) Ketentuan 8 (delapan) jam dalam 1 (satu) hari atau 40 (empat puluh) jam selama 5 (lima) hari dalam 1 (satu) minggu sebagaimana dimaksud pada ayat (1), termasuk waktu istirahat selama 0,5 (nol koma lima) jam dalam 1 (satu) hari atau 2,5 (dua koma lima) jam selama 5 (lima) hari dalam 1 (satu) minggu.

(3) Dalam hal diperlukan penambahan waktu istirahat sebagaimana dimaksud pada ayat (2), Sekolah dapat menambah waktu istirahat melebihi dari 0,5 (nol koma lima) jam dalam 1 (satu) hari atau 2,5 (dua koma lima) jam selama 5 (lima) hari dalam 1 (satu) minggu. (4) Penambahan waktu istirahat sebagaimana dimaksud pada ayat (3) tidak termasuk dalam perhitungan jam sebagaimana dimaksud pada ayat (1).

Iklan

Posted on 13 Agustus 2017, in Pendidikan and tagged , , , , , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: