Iklan

Menghalalkan Segala Cara Ala Malaysia

(gambar: youtube.com)

Serambimata.com – Target menjadi juara halal dan sah-sah saja dalam sebuah pertandingan, bahkan untuk memompa semangat para petanding, target itu harus tertanam kuat untuk mencapai target yang diharapkan. Tapi bagaimana bila untuk mencapai tujuan itu dilakukan dengan menghalalkan segala cara, bahkan dilakukan dengan sangat vulgar dan terang-terangan?. 

Ibarat peribahasa menepuk air di dulang, terpercik muka sendiri. Itulah kira-kira gambaran yang terjadi di ajang Sea Games 2017 di Kuala Lumpur Malaysia kali ini. Sang tuan rumah ajang dua tahunan itu begitu berambisi jadi juara. Seperti tak ingin kehilangan momentum, Malaysia menggunakan jurus aji mumpung dengan tak menyia-nyiakan kesempatan selagi menjadi tuan rumah. Maka segala daya upaya dilakukan agar menjadi juara umum dengan mendulang emas sebanyak-banyaknya meskipun harus kehilangan muka dan wibawa sebagai penyelenggara. Benar saja, Sea Games 2017 baru dimulai, Malaysia langsung menebar teror terutama kepada negara yang serumpun denganya, Indonesia. Berawal dengan ditemukannya pemasangan bendera Indonesia terbalik di buku souvenir panduan Sea Games 2017 bikinan Malaysia. Bahkan, konon tak hanya di buku panduan, tetapi juga di berbagai media informasi Malaysia, bendera merah putih dipasang terbalik. Fakta ini membuat sulit untuk mengatakan sebuah ketidak sengajaan. Apalagi track record Malaysia selama ini menjadi negara yang paling sering menghina Indonesia. 
Tentu saja ulah Malaysia ini bikin geram rakyat Indonesia, tak ketinggalan Menpora Imam Nahrowi berkali-kali menyampaikan kekecewaan dan kekesalannya. Namun, belum usai kekesalan publik oleh pemasangan bendera merah putih terbalik, kembali ditemukan kesalahan pada buku panduan di halaman 40 yang memuat data negara-negara yang menjadi juara umum Sea Games. Di halaman tersebut, tertulis Indonesia menjadi juara umum Sea Games tahun 2011 saat Indonesia menjadi tuan rumah. Saat itu, Indonesia meraih 182 medali emas, 151 perak dan 145 perunggu. Namun, pada bagian gambar bendera, yang semestinya adalah gambar bendera Indonesia, justru yang dipasang adalah gambar bendera Thailand. Dan pada bagian urutan kedua, dimana ditempati oleh Thailand, justru yang dipasang adalah bendera Indonesia.

Sungguh sangat kecil kemungkinan kalau kesalahan itu terjadi karena sebuah kebetulan atau ketidak sengajaan. Bahkan apa yang terjadi secara beruntun di Sea Games 2017 membuktikan kalau Malaysia telah merencakan semuanya dengan rapi, terstruktur, masif dan sistematis. Tujuannya bisa ditebak, tidak lain agar amarah rakyat Indonesia khususnya kontingen kontingen Indonesia terpancing dan terprovokasi. Malaysia meyakini, bila tak mampu mengendalikan emosi maka Indonesia akan kehilangan konsentrasi untuk mendulang emas sebanyak-banyaknya. Malaysia bahkan sudah menyiapkan wasit untuk melakukan aksi serentetan kecurangan yang diharapkan dapat melincinkan pencapaian kemenangan meskipun harus merugikan lawan. Hal itu terlihat dari dua pertandingan yang melibatkan juri asal Malaysia dan Singapura, yakni sepak bola dan sepak takraw. 

Aroma kecurangan pada dua pertandingan itu sangat terasa. Meskipun Indonesia menang tipis atas Timur Laste pada laga ketiga cabang sepak bola, namun keputusan aneh dikeluarkan oleh wasit asal Malaysia. Tanpa alasan yang jelas, pemain Indonesia, Evan Dhimas yang menjadi korban kebrutalan pemain Timur Laste justru mendapatkan kartu kuning. Tak urung, keputusan wasit itu tentu sangat merugikan kesebelasan Indonesia karena pemain yang berjuluk Lionel Messi Indonesia itu tidak bisa tampil pada laga berikutnya menghadapi Vietnam akibat akumulasi kartu kuning. 

Teror mental terhadap Indonesia terus berlanjut. Kecurangan wasit asal Singapura yang ditunjukkan di cabag sepak takraw saat melawan tuan rumah, Malaysia membuat tim Indonesia Walk Out dari lapangan karena berkali-kali dicurangi wasit dengan menganulir servise Indonesia meskipun saat itu Indonesia telah unggul di atas Malaysia 16 – 10.

Belum cukup, teror malaysia semakin terlihat jelas dan semakin mencoreng wajahnya sendiri ketika tak tersedianya makan malam bagi kontingen sepak bola Indonesia. Aksi ini benar-benar tak bisa diterima, bagaimana mungkin pihak hotel tak menyediakan makan malam untuk tamu bahkan peserta sea games yang seharusnya mendapat service lebih. Nalar sederhanapun akan mengatakan tidak mungkin semuanya terjadi begitu saja dan tidak terencana. Tujuannya terbaca jelas, tuan rumah ngin membuat kontingen Indonesia tak kuat menahan amarah, akibatnya mereka tidak fokus dalam bertanding  bahkan bisa jadi mereka pulang lebih cepat alias WO dengan alasan terus dicurangi dan diintimadasi.
 
Lalu pertanyaannya, mengapa Indonesia yang menjadi sasaran, bukan Thailand, singapora atau Vietnam yang juga menjadi saingan berat tuan rumah Malaysia? Jangan-jangan ini ada hubungannya dengan jadwal Indonesia yang akan menjadi penyelenggara Asian Games 2018 di Jakarta dan Palembang. Lho kok…? 
Saya menangkap pesan bahwa Malaysia seakan hendak mengatakan, jika Indonesia gagal menjadi juara di sea Games Malaysia 2017 bagaimana mungkin bisa bersaing di Asian Games tahun 2018, la wong di Sea Games saja sudah tak mampu. Di sini jelas ada target agar mental Indonesia jatuh sejatuh-jatuhnya.

Di sisi lain, sikap Malaysia yang membabi buta ini bisa jadi sebagai bentuk sikap kesal bahkan dendam kusumat kepada Indonesia karena sudah tidak bisa lagi bebas memindahkan patok-patok perbatasan semenjak Presiden Jokowi membangun infrastruktur yang layak di perbatasan, baik berupa jalan mulus beraspal serta pintu gerbang yang megah dan elegan.

 Ini juga sekaligus menjadi pelajaran penting bagi Indonesia untuk tidak melakukan hal sama ketika menjadi tuan rumah di ajang kompetisi apapun, termasuk pada even Asian Games 2018 mendatang. Tak ada tempat untuk berbuat nakal dan curang hanya demi meraih gelar meskipun menjadi tuan rumah akan banyak peluang dan kesempatan. Cukuplah berikhtiar maksimal untuk sukses menjadi pemenang dan sukses penyelenggaraan dengan cara-cara sportif dan elegan. Lebih baik kalah terhormat dari pada menang tapi menjadi pecundang. 

Pesan Menpora di laman resmi Kemenpora berikut ini patut direnungkan: 

“Olahraga mengajarkan kita banyak hal tentang makna menghargai kejujuran dan keadilan.Itulah kenapa lahir kata sportivitas yang menggambarkan makna kata olahraga itu sendiri,”.

Salam,

Oleh: Hans Muhammed

Iklan

Posted on 22 Agustus 2017, in Sport and tagged , , , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: