Iklan

Kepincut NU, Cornelius AW Putuskan Mu’allaf di Tengah Islamophobia

Ariyanto Wibosono bersama Rois Aam PBNU, KH. Ma’ruf Amin

Serambimata.com – Menyimak perjalanan seorang ahli manajemen terkemuka, Cornelius Ariyanto Wibisono yang akhirnya memutuskan mu’allaf karena kepincut Nahdlatul Ulam’ (NU) mengingatkan pada kisah Almarhum KH. Hasyim Muzadi semasa hidupnya. Saat ia pernah bercerita tentang pertemuannya dengan pentolan FPI, Habib Rizieq. Dalam pertemuan itu Kiai Hasyim bertanya kepada Habib Rizieq “ya Habib, berapa orang non muslim yang telah Antum muallafkan?”. 
“Tidak ada Kyai, lha mereka saja takut ketemu saya”, jawan Habib Rizieq.

Atas jawaban Habib Rizieq itu, Kiai Hasyim Muzadi langsung menimpali “Datanglah ke pesantren saya, tiap bulan ada orang non muslim bersyahadat masuk Islam, tanpa saya membawa pentungan”.

Baca:

(Video) KH. Hasyim Muzadi: Tiap bulan di pesantren ada non muslim yang masu@k Islam

Sosok yang akrab dipanggil Ary itu kepincut untuk memeluk Islam  karena ia mengenal keramahan Islam yang ia rasakan di NU terutama setelah ia bersinggungan dengan orang-orang NU. Meskipun pria yang pernah bekerja di markas besar sebuah perusahaan rakasasa minyak, Chevron itu mengaku tidak mudah menjalani masa-masa mengenal hingga menjatuhkan pilihan hatinya kepada Islam.

Resiko harus meninggalkan kebiasaan-kebiasaan dan komunitas lamanya, bahkan dijauhi orang-orsng dekatnya harus ia hadapi. Meskipun menurut Ary tantangan itu tak seberapa dibanding gelombang islamophobia yang menjadi tantangan terbesarnya. Karena dalam pandangannya, Islam Indonesia yang sejak dahulu terkenal ramah, sudah terjangkiti oleh wabah Islam-marah. Sebuah wabah yang berhasil meluluh-lantakkan peradaban-peradaban luhur Islam di banyak negara di Timur Tengah hingga Afrika.

Namun fenomena Islamophobia tak mematikan cahaya hidayahnya. Tekadnya menjadi muslim semakin kuat justru ketika  ia bersinggungan dengan buruh yang terkena program PHK saat dirinya menjabat sebagai manajemen perusahaan. 

Direktur Pengembangan Bisnis Liga Santri Nusantara (LSN) itu mengaku sangat terkesan  dengan kaum Nahdliyin, “Saya merasa beruntung sekali ketika saya mendapatkan hidayah, saya oleh Allah langsung diperkenalkan dengan lingkungan Nahdlatul Ulama. Kenapa saya merasa nyaman ber-NU ketika ber-Islam? Karena NU memegang prinsip moderat, adil, harmoni, dan respect. Mereka memilih esensi ketimbang terjebak pada bungkus formal,” tutur Ary

Hingga sekarang, sudah dua tahun lamanya Ariyanto Wibisono memeluk Islam. Ia meraih gelar MBA dalam bidang Human Resources Management dari Phoenix University Arizona Amerika Serikat. Setelah kuliah dua tahun, Ary tinggal selama delapan tahun di negeri Paman Sam. Ia bekerja di markas besar sebuah perusahaan rakasasa minyak, yakni Chevron. Selanjutnya ia bekerja dua tahun di sebuah perusahaan multinasional lainnya di Thailand.

Ketika kembali ke tanah air, ia diserahi jabatan di top management di kantor Chevron Indonesia. Saat itu perusahaan multinasional tersebut sedang melakukan perampingan pekerja di beberapa lini jabatan kerja. Salah satunya menimpa unit kerja perusahaan minyak tersebut di Riau.
Alih-alih membela pihak perusahaan, Ary malah melakukan pembelaan terhadap buruh-buruh yang terkena program perberhentian kerja dari perusahaan. 
Inilah awal persentuhannya yang intensif dengan komunitas Muslim. Sekitar 300-an karyawan yang ia bela ternyata tergabung dalam sebuah serikat buruh, yakni Sarikat Buruh Muslimin Indonesia atau dikenal dengan mana Sarbumusi.

Sebagaimana diketahui, Sarbumusi merupakan sayap buruhnya Nahdlatul Ulama, sebuah ormas keagamaan terbesar di Indonesia, bahkan di dunia. Sarbumusi memang memiliki basis anggota yang signifikan di perusahaan minyak internasional tersebut.

Selama intensif membela kawan-kawan buruh tersebut, Ary mengaku mengalami peristiwa-peristiwa spiritual yang kemudian mengantarkannya untuk memeluk agama Islam. Di mata Ary, buruh-buruh itu bukan saja sedang melakukan apa yang disebut Karl Marx sebagai perjuangan kelas, mereka juga sedang mempertaruhkan keyakinannya bahwa mereka berada di sisi yang benar dan karenanya membuat mereka gigih berjuang. Kerasnya perjuangan mereka hingga kasus ini menjadi perhatian nasional. Fakta tersebut membuat Ary salut pada buruh-buruh NU itu, mereka tidak mau mundur sejengkal pun dari perjuangannya. 

Selain itu, Ary mengaku sangat terkesan ketika dirinya dipanggil untuk bergabung dengan Liga Santri dan kemudian didapuk menjadi Direktur Pengembangan Bisnis LSN. 

“Saya seperti bermimpi. Dulu saya kira PBNU itu serem dan sesuatu yang untouchable untuk orang biasa. Nyatanya sebaliknya, mereka sangat terbuka terhadap orang biasa seperti saya. Bahkan beberapa waktu lalu ketika saya sowan ke Rais Syuriyah NU Jawa Barat pun beliau menyebut saya bukan sebagai seorang mualaf lagi, tapi tingkatan sudah termasuk mukalaf. Tentu ini semakin memotivasi saya untuk ber-Islam dan ber-NU,” pungkas sosok yang kini menduduki Top Management di Holcim ini menutup percakapan.

Ariyanto Wibisono dalam perjalanannya kemudian tercatat sebagai pengurus teras di salah satu federasi dari Konfederasi Sarbumusi NU. 

Sumber: NU Online, muslimoderat.com

Iklan

Posted on 22 September 2017, in Agama and tagged , , , , , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: