Iklan

​Setara Institute: Masjid Kompleks Perumahan dan Kampus Sarang Radikalisme

(foto: nu.or.id)

Serambimata.com  – Kekawatiran terhadap fungsi masjid yang tidak lagi menjadi tempat yang menyejukkan serta lingkungan kampus yang tidak lagi kondusif karena menjadi sarang tumbuh suburnya radikalisme dan intoleransi diungkap oleh salah satu lembaga penelitian Setara Institut.

Dilansir dari cnnindonesia.com, dari hasil penelitiannya, Setara Institut berhasil mengungkap bahwa lokasi perumahan dan kampus dinilai menjadi sarang radikalisme dan intoleransi. Hal itu berdasarkan penelitian mereka terhadap ratusan masjid di Kota Depok dan Bogor sepanjang Agustus hingga Oktober.

Peneliti Setara Institute Sudarto mengikuti hampir setiap pengajian di masjid yang berada di kawasan Depok, masjid yang berada di dalam Universitas Indonesia (UI) dan Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Hidayatullah.

Berdasarkan penelitian tersebut, tercatat ada 529 masjid dan 927 musala di Depok. Jumlah itu terdiri dari masjid pemerintah atau BUMN, masjid donasi individu, masjid umum di perumahan dan masjid kampus.

“Saya ikut pengajian itu memakai celana cingkrang dengan jenggot yang panjang, supaya bisa masuk, karena sempat ada beberapa pengajian yang mengatakan kegiatan hanya untuk internal,” kata Sudarto saat diskusi di Kebayoran Lama, Jakarta Selatan, Rabu (1/11).

Sudarto mencatat narasi pengajian di setiap masjid yang ia kunjungi. Ia juga melakukan wawancara dengan ustadz dan jamaah pengajian. Ada sekitar 20 orang yang diwawancarai Sudarto.

Menurut Sudarto, ada dua macam masjid di perumahan, yaitu masjid yang dibangun masyarakat secara swadaya di perkampungan dan masjid yang dibangun di lingkungan perumahan.

Masjid swadaya masyarakat di perkampungan bercorak ajaran NU dan Muhammadiyah dengan materi taqwa, ibadah dan pembangunan bangsa. Meski terkadang terdapat narasi yang berhubungan dengan tema politik sepanjang tahun 2016 sampai 2017.

“Sedangkan masjid di lingkungan perumahan, mengembangkan narasi seruan jihad. Tema-tema perang yang mengobarkan semangat jamaah dan tentu saja hasutan-hasutan kebencian terhadap kelompok lain yang tidak sejalan,” kata Sudarto.

Selain masjid di perumahan, bakal radikalisme dan intoleransi muncul dari masjid kampus. Sudarto mencontohkan salah satu kelompok agama yang bernama Depok Islamic study Circle (DISC).  Kelompok itu membagi pengajian dalam dua kategori, yaitu umum dan eksklusif anggota.

“Dalam situs DISC, ada gambar otak dengan ulat serta lalat yang disimpulkan sebagai otak Jaringan Islam Liberal (JIL) yang harus dilawan. Mereka juga menganggap Ahmadiyah, Syiah, LGBT dan komunisme sebagai musuh Islam,” kata Sudarto.

Sudarto menilai Pemerintah Kota Depok tidak memiliki program atau anggaran khusus tentang deradikalisasi dan menganggap program tersebut hanya menjadi kewenangan pemerintah pusat.

“Peran Badan Nasional Pemberantasan Terorisme (BNPT), khususnya dalam deradikaliasai juga tidak cukup dikenal masyarakat,” kata Sudarto.


Kota Bogor

Peneliti Setara Institute M. Syauqillah melakukan penelitian di Bogor dari bulan Januari sampai Oktober 2017. Selain melakukan penelitian di pondok pesantren, ia juga melakukan penelitian di tempat-tempat yang diduga menjadi sarang teroris.

Selama penelitian, Syauqillah melakukan wawancara pada 30 orang yang terdiri dari mahasiswa, warga, ustaz, dan wali santri.

“Pemilihan Bogor sebagai salah satu kawasan penting bagi gerakan radikal karena argumentasi logistik dan akses. Pelatihan militer dapat dilangsungkan karena alam Bogor sangat mendukung, pendukung ISIS bisa bertahan hidup dengan cocok tanam,” kata Syauqillah.

Menurutnya, Bogor menjadi sarang radikalisme dan intoleransi karena sebagian masyarakat Bogor mendukung gagasan khilafah. 

Berdasarkan riset Setara Institute yang bertajuk Wajah Para Pembela Islam pada 2011, sekitar 46 persen warga BBogor menyatakan setuju dengan khilafah.
Untuk penelitian di pondok pesantren, Syauqillah tidak menyebutkan berapa pondok yang ia teliti. 

Ia hanya mencontohkan Pondok Pesantren Ibnu Ma’Sud yang menurutnya menjadi tempat belajar radikalisme.

“Pada 17 Agustus kemarin terjadi pembakarab umbul-umbul merah putih. Berdasarkan temuan kami dengan mewawancarai warga sekitar, itu disuruh ustadz yang mengajar, ini sudah salafi jihad,” kata Syauqillah.

Pesantren itu santer dibicarakan karena bocah pejuang ISIS bernama Hatf Syaifu Rasul yang nyantri di Ibnu Masud selama tiga bulan. Hatf merupakan anak dari teroris Syaiful Anam yang tewas di Suriah beberapa waktu lalu.

Syauqillah mengtakan Hatf sempat di bawa ke Poso, Sulawesi Tengah, untuk pelatihan sebelum ke Ibnu Ma’Sud. Kemudian di pesantren yang dikelola oleh Yayasan Al Urwatul Usro itu Hatf belajar menjadi petarung ISIS.
“Saya punya surat ibunda Hatf. Ibunya bangga dan mengakui Hatf mengalami pencerahan menemukan ideologi jihad di pesantren Ibnu Ma’Sud,” kata Syauqillah.

Bagaimana dengan daerah anda? Bila di Depok dan Bogor terungkap bahwa Masjid di kompleks perumahan dan kampus menjadi ladang tumbuh suburnya radikalisme dan intoleransi, bukan tidak mungkin hal serupa juga terjadi di daerah atau di lingkungan sekitar anda. Waspadalah…!!!

(Sumber: CNNindonesia.com)

Iklan

Posted on 3 November 2017, in Sosial and tagged , , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: