Iklan

Penceramah Tak Kuasai Agama Ramaikan Media, Terjadi karena Salah Kita

Serambimata.com – Munculnya salah seorang penceramah yang salah menulis ayat Al Qur’an di salah satu TV nasional, MetroTV menjadi puncak menjamurnya da’i yang sarat kontroversi. Sepintas memang menjadi kabar menggembirakan karena syiar Islam makin marak dihampir semua lini dan lapisan. Tapi sekaligus menjadi keprihatinan ketika ternyata para penceramah itu tak banyak menguasai ilmu agama kecuali pengetahuan yang pas-pasan bahkan menyimpang dari kebenaran.

Tak ayal, acara keagamaan, sang penceramah hingga televisi yang menyiarkan menjadi sasaran hujatan. Bangsa yang mayoritas berpenduduk muslim ini seperti kekurangan stock da’i dan tokoh-tokoh yang pantas jadi panutan. Mereka yang tampil terkesan dipaksakan yang penting dapat menaikkan rating dan pendapatan iklan, atau yang penting bertampang layak jual sedangkan kompentensi nomor sekian.

Pertanyaannya, mengapa para ustadz/ustazdah sekelas itu bisa tampil di sejumlah media bahkan televisi nasional? Menurut KH. Agus Ali Masyhuri, Pengasuh Pondok Pesantren Bumi Sholawat Sidoarjo, hal itu terjadi lantaran mereka memiliki jaringan. 
 

“Terjadinya peristiwa tersebut tentunya diawali dengan sebab. Mengapa mereka yang tidak kompeten ternyata mendapatkan tempat di televisi, termasuk media sosial? Karena mereka lebih progresif dan bergerak maju, sementara mereka yang memiliki  kemampuan diam saja” ungkap Kiai yang akrab disapa Gus Ali, Selasa (05/12/2017). 

Sembari menyampaikan permintaan maaf, Gus Ali mengajak agar jujur dengan sumber daya manusia sendiri. Menurutnya banyak kader NU yang memiliki potensi, namun tidak didukung dengan kemampuan lain

Apa faktornya sehingga mereka seperti itu? “Mungkin karena tidak ada yang bisa menyalurkan, atau memang tidak memiliki keinginan untuk maju,” urainya. Bisa juga lantaran telah merasa puas dengan yang dicapai saat ini. Mereka merasa puas di kampungnya, dengan keadaannya saat ini. “Padahal mereka keliru dalam menerjemahkan qona’ah,” tandasnya.

Kelemahan penguasaan terhadap media (termasuk media sosial) juga menjadi salah satu penyebab kenapa media gampang bisa dimasuki da’i-da’i yang tidak kompeten. 

“Padahal barangsiapa yang menguasai media, maka memiliki separuh kemenangan dalam pembentukan opini publik. Jadi opini di masyarakat itu bisa dibentuk,” terangnya.

Di akhir penjelasannya, Gus Ali mengajak nahdliyin untuk mawas diri, duduk merenung untuk mengevaluasi diri. “Bahwa SDM yang kita miliki sebenarnya cukup dan memadai untuk melakukan hal yang lebih baik dari mereka,” ujarnya.

Karenanya, Gus Ali mengajak semua pihak berbenah diri dan melakukan konsolidasi secara terukur dan terarah. Jangan sampai para kader pendakwah gagap teknologi atau gaptek, tidak mengerti aplikasi, juga media sosial, “Karenanya, hendaklah ada di antara kita yang berdakwah di sejumlah media,” pungkasnya.

 Sumber : pwnu.or.id 

Iklan

Posted on 7 Desember 2017, in Tak Berkategori and tagged , , , , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: