Iklan

Benarkan Hari Ibu Produk Kafir? Ini Sejarah Kelahirannya di Indonesia

Kongres pertemuan pertama di Jogjakarta tahun 1928

Serambimata.com – Momentum hari Ibu tahun 2017 kali ini agak berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Bukan karena kemeriahan atau keharuan bagi yang merayakannya tapi karena beredarnya video pernyataan ustadz Abdul Shomad yang lagi-lagi menuai pro kontra. Ustadz yang dikenal berawal dari unggahan video-video ceramahnya di youtube itu mengatakan, peringatan hari ibu merupakan budaya orang kafir.  Maka dengan menggunakan dasar sebuah hadist Nabi, ia menfatwakan orang yang merayakan hari ibu, baik mengucapkan atau memberikan hadiah kepada seorang Ibu tergolong kafir karena mengikuti tradisi kafir. 

Pernyataan ustadz Shomad tersebut disampaikan  menjawab pertanyaan jamaah pengajian tentang tradisi Hari Ibu dan hukum merayakannya.  Video tersebut  langsung menjadi viral bersamaan dengan momentum hari ibu yang dirayakan setiap tanggal 22  desember. Pertanyaannya, benarkan peringatan hari Ibu produk kafir?. 

Untuk menjawab perntanyaan tersebut, Serambimata mencoba menelusuri sejarah dan asal muasal peringatana hari ibu di Indonesia yang selalu dirayakan setiap tanggal 22 Desember. 

Hasilnya,  dilansir dari wikipedia.org, hari Ibu di Indonesia dirayakan secara nasional pada tanggal 22 Desember. Tanggal ini diresmikan oleh Presiden Soekarno di bawah Keputusan Presiden Republik Indonesia No. 316 Tahun 1959, pada ulang tahun ke-25 Kongres Perempuan Indonesia 1928. Tanggal tersebut dipilih untuk merayakan semangat wanita Indonesia dan untuk meningkatkan kesadaran berbangsa dan bernegara. 

Presiden Soekarno bersama peserta kongres perempuan Indonesia

Hari Ibu di Indonesia dirayakan pada ulang tahun hari pembukaan Kongres Perempuan Indonesia yang pertama, yang digelar dari 22 hingga 25 Desember 1928. Kongres ini diselenggarakan di sebuah gedung bernama Dalem Jayadipuran, yang kini merupakan kantor Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional di Jl. Brigjen Katamso, Yogyakarta . 

Kongres ini dihadiri sekitar 30 organisasi wanita dari 12 kota di Jawa dan Sumatera, antara lain, Boedi Oetomo, PNI, Pemuda Indonesia, PSI, Walfadjri, Jong Java, Jong Madoera, Muhammadiyah, dan Jong Islamieten Bond. Tokoh-tokoh populer yang datang antara lain Mr. Singgih dan Dr. Soepomo dari Boedi Oetomo, Mr. Soejoedi (PNI), Soekiman Wirjosandjojo (Sarekat Islam), A.D. Haani (Walfadjri).

Sekitar 600 perempuan dari berbagai latar pendidikan dan usia hadir dalam kongres Perempuan Indonesia Pertama ini. Organisasi-organisasi yang terlibat dalam penyelenggaraan itu antara lain: Wanita Utomo, Putri Indonesia, Wanita Katolik, Aisyah, Wanita Mulyo, perempuan-perempuan Sarekat Islam, Darmo Laksmi, perempuan-perempuan Jong Java, Jong Islamten Bond, dan Wanita Taman Siswa, demikian yang dicatat Susan Blackburn dalam Kongres Perempuan Pertama: Tinjauan Ulang (2007). 

Pelaksanaan kongres perempuan Indonesia di Jogjakarta

Kongres berawal dari semangat Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928. Tertular semangat pemuda, kaum perempuan terbakar semangatnya dan menyelenggarakan kongres. Kongres dimaksudkan untuk menggalang persatuan antarorganisasi yang saat itu cenderung bergerak sendiri-sendiri. Saat kongres yang ketiga di Bandung pada 1938, diputuskan tanggal 22 Desember sebagai Hari Ibu. Kemudian pada 22 Desember 1953 sekaligus peringatan kongres yang ke-25, Presiden Soekarno melalui Dekrit RI No.316 Tahun 1953 menetapkan setiap 22 Desember diperingati sebagai Hari Ibu.

Awalnya, Hari Ibu diperingati untuk mengenangkan jasa dan semangat kaum perempuan dalam memperjuangkan dan mengisi kemerdekaan. Namun dalam perkembangannya sekarang ini, Hari Ibu juga dirayakan untuk menghargai jasa ibu dalam berbagai hal, termasuk karier, urusan rumah tangga, dan kodrat alami sebagai ibu.

Sejarah peringatan Hari Ibu di Indonesia berbeda dengan peringatan Hari Ibu di negara-negara lain. secara umum belum ada peringatan Hari Ibu yang dilakukan secara bersama-sama di seluruh dunia. jadi mungkin kurang tepat kiranya ketika kita mengucapkan Happy World Mothers Day.

di Normegia peringatan Hari ibu dilakukan pada tanggal 14 Februari, sedangkan di Yunani tiap tanggal 2 februari, sementara di perancis diperingati tiap minggu ke dua bulan mei, di negara-negara Arab peringatan hari ibu dilakukan tiap tanggal 21 Maret, di Thailand peringatan hari Ibu didasarkan oleh ulang tahun ratu Sirikit yaitu tiap tanggal 12 Agustus.

Selamat Hari Ibu.

(Sumber: wikepedia.org, tirto.id, cnnindonesia, dan sumber lainnya)

Iklan

About serambimata

Terus menulis

Posted on 22 Desember 2017, in Budaya and tagged , , , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: