Iklan

Ternyata, tidak Semua “Tasyabuh” Diharamkan ?

Serambimata.com – Tiba-tiba istilah “tasyabuh” kembali ramai menjadi bahan perbincangan di media sosial. Tidak hanya karena menjelang perayaan Hari Natal, momentum perayaan Hari Ibu pun dikaitkan-kaitkan dengan produk non muslim (disebut kafir) sehingga ada salah satu ustadz kondang yang menfatwakan merayakan hari ibu juga dihukumi kafir karena dianggap tasyabuh (meniru/menyerupai orang kafir). Meskipun akhirnya terbantahkan oleh sejarah yang membuktikan bahwa Hari Ibu di Indonesia dicetuskan oleh Ibu-ibu Indonesia.

(Baca: Benarkah Hari Ibu produk kafir? Ini sejarahnya di Indonesia)

Lalu bagaimana sebenarnya “tasyabuh” dalam Islam? Apakah semua tasyabuh haram tanpa pengecualian? 

Ustadz Ma’ruf Khozin, Dewan Pakar Aswaja NU PWNU Jawa Timur, dalam tulisannya sebagaimana dilansir Dutaislam.com menjelaskan bahwa dalam banyak hal kita memang diperintahkan oleh Nabi Muhammad shalallahu alaihi wasallam agar tidak sama dengan orang di luar agama kita, khususnya Yahudi dan Nasrani. Misalkan masalah Salam seperti dalam hadis berikut:

« ﻟﻴﺲ ﻣﻨﺎ ﻣﻦ ﺗﺸﺒﻪ ﺑﻐﻴﺮﻧﺎ، ﻻ ﺗﺸﺒﻬﻮﺍ ﺑﺎﻟﻴﻬﻮﺩ ﻭﻻ ﺑﺎﻟﻨﺼﺎﺭﻯ، ﻓﺈﻥ ﺗﺴﻠﻴﻢ ﺍﻟﻴﻬﻮﺩ ﺍﻹﺷﺎﺭﺓ ﺑﺎﻷﺻﺎﺑﻊ، ﻭﺗﺴﻠﻴﻢ ﺍﻟﻨﺼﺎﺭﻯ ﺍﻹﺷﺎﺭﺓ ﺑﺎﻷﻛﻒ»

“Orang yang menyerupai dengan selain kami bukanlah termasuk golongan kami. Janganlah kalian menyerupai Yahudi dan Nasrani. Salam orang Yahudi adalah dengan isyarat jari. Dan salam orang Nasrani adalah isyarat dengan telapak tangan” (HR Tirmidzi)

Lalu apakah setiap ada kesamaan dengan agama harus ditinggalkan? Tidak juga, ulama kita memberikan 2 kriteria Tasyabuh yang tidak diperbolehkan. Syekh Ibnu Najim Al-Misri dari Madzhab Hanafi berkata:

ﺛﻢ ﺍﻋﻠﻢ ﺃﻥ ﺍﻟﺘﺸﺒﻴﻪ ﺑﺄﻫﻞ ﺍﻟﻜﺘﺎﺏ ﻻ ﻳﻜﺮﻩ ﻓﻲ ﻛﻞ ﺷﻲﺀ ﻭﺇﻧﺎ ﻧﺄﻛﻞ ﻭﻧﺸﺮﺏ ﻛﻤﺎ ﻳﻔﻌﻠﻮﻥ ﺇﻧﻤﺎ ﺍﻟﺤﺮﺍﻡ ﻫﻮ ﺍﻟﺘﺸﺒﻪ ﻓﻴﻤﺎ ﻛﺎﻥ ﻣﺬﻣﻮﻣﺎ ﻭﻓﻴﻤﺎ ﻳﻘﺼﺪ ﺑﻪ ﺍﻟﺘﺸﺒﻴﻪ ﻛﺬﺍ ﺫﻛﺮﻩ ﻗﺎﺿﻲ ﺧﺎﻥ ﻓﻲ ﺷﺮﺡ ﺍﻟﺠﺎﻣﻊ ﺍﻟﺼﻐﻴﺮ ﻓﻌﻠﻰ ﻫﺬﺍ ﻟﻮ ﻟﻢ ﻳﻘﺼﺪ ﺍﻟﺘﺸﺒﻪ ﻻ ﻳﻜﺮﻩ ﻋﻨﺪﻫﻤﺎ

Ketahuilah bahwa Tasyabuh (menyerupai) dengan Ahli kitab tidak makruh dalam semua hal. Kita makan dan minum, mereka juga melakukan hal itu. Keharaman dalam tasyabuh adalah (1) Sesuatu yang tercela (2) Kesengajaan meniru mereka. Sebagaimana disampaikan oleh Qadli Khan dalam Syarah Jami’ Shaghir. Dengan demikian jika tidak bertujuan menyerupai ahli kitab maka tidak makruh” (Al-Bahr Ar-Raiq 2/11)

Ketentuan kita melakukan sebuah peringatan disampaikan oleh Mufti Al-Azhar, Syekh Athiyyah Shaqr:

ﻓﺎﻟﺨﻼﺻﺔ ﺃﻥ ﺍﻻﺣﺘﻔﺎﻝ ﺑﺄﻳﺔ ﻣﻨﺎﺳﺒﺔ ﻃﻴﺒﺔ ﻻ ﺑﺄﺱ ﺑﻪ ﻣﺎ ﺩﺍﻡ ﺍﻟﻐﺮﺽ ﻣﺸﺮﻭﻋﺎ ﻭﺍﻷﺳﻠﻮﺏ ﻓﻰ ﺣﺪﻭﺩ ﺍﻟﺪﻳﻦ

Kesimpulan, peringatan dengan momen apapun selama baik, adalah boleh. Selama tujuan dibenarkan dan pelaksanaan berada dalam koridor agama (Fatawa Al-Azhar)

Kita pun telah tahu bahwa tujuan dalam hari Ibu adalah hal yang dibenarkan dalam Islam. Cara melaksanakan hal tersebut juga berupa sedekah, jamuan, dan cara lain yang tidak sampai melanggar hukum Islam.

Terlebih lagi masalah ini sudah difatwakan oleh Syekh Ali Jumat dari Mesir, seperti yang terdapat di FB Ust Nur Hasim. 

(Dutaislam.com)

Iklan

Posted on 23 Desember 2017, in Agama and tagged , , , , , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: