Iklan

Fenomena Banyaknya Orang Tak Berilmu Tapi Dianggap Alim dan Jadi Panutan

Serambimata.com –  Belakangan media sosial diramaikan oleh munculnya beberapa penceramah kontroversial. Tak hanya karena isi ceramahnya yang dangkal hingga terang-terangan melakukan kesalahan, tapi juga tak jarang juga dibumbuhi hujatan, umpatan, hinaan hingga ajakan untuk makar. Parahnya, mereka justru jadi rujukan dan panutan hingga panggilan ustadz bahkan Gus tak segan untuk disematkan. 

Alih-alih memberikan pencerahan kepada masyarakat, yang terjadi justru berdampak pada lahirnya sederet persoalan di tengah-tengah masyarakat.  Ujaran kebencian, hujatan yang berujung perselisihan dan perpecahan makin tumbuh subur. Masyarakat jadi ikut-ikutan mengkampanyekan anti pemerintah, anti nasionalisme bahkan tak mengakui pancasila hanya karena meyakini kebenaran ucapan  ustadz yang menjadi idolanya. 

Belakangan diketahui, mereka yang sudah terlanjur dipanggil ustadz bahkan Gus itu ternyata tak pernah mengenyam pendidikan di pesantren bahkan sebagian diantaranya tak lebih dari seorang mu’allaf yang hanya berbekal semangat keagamaan tapi minim keilmuan tentang Islam. Sementara banyak tokoh yang bertahun-tahun belajar agama dan tidak diragukan kedalaman keilmuannya justru tak banyak dikenal bahkan dianggap tidak ada karena tak rajin berceramah melalui youtube.

Fenomena apakah ini? 
Jauh sebelum fenomena ini muncul, semasa Al Marhum KH. Abdurrahman Wahid atau Gus Dur masih hidup, ternyata pernah mengisyaratkan bahwa akan tiba saatnya orang yang tidak pernah belajar di pesantren tetapi mereka dianggap sebagai orang yang alim dan dijadikan rujukan serta panutan. Hal itu diungkap oleh tokoh yang dahulu dikenal sangat dekat dengan Gus Dur, KH Maman Imanul Haq. 

Karenanya, Ketua Lembaga Dakwah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (LD-PBNU) itu mendorong kepada para santri untuk menulis kiainya sehingga kiprah dan peran guru-gurunya tersebut bisa diketahui khalayak umum.

Menurut Kiai muda yang akrab dipanggil Kang Maman itu, di era media sosial seperti saat ini, siapa saja bisa dengan mudah dipanggil ustadz. Cukup dengan pandai berceramah, maka akan dipanggil ustadz meskipun ilmunya tidak seberapa jika dibandingkan dengan kiai-kiai yang ada di pesantren.

Inilah saatnya para santri dan Kiai Pesantren untuk tidak ragu menguasai teknologi dan tidak elergi terhadap media sosial. Youtube, facebook dan lainnya harus dapat dimanfaatkan agar pesan dakwah-dakwahnya tersampaikan.  Ceramah-ceramah “menyesatkan” karena kasalahan dan kedangkalan ilmu dan pengetahuan serta ceramah berisi ujaran kebencian dan hoax harus dilawan dengan media pula agar masyarakat tercerahkan. 

Sumber: Duta Islam

Iklan

About serambimata

Terus menulis

Posted on 3 Januari 2018, in Agama and tagged , , , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: