Iklan

Ijtihad Politik Kiai Afifuddin Muhajir

KH. Afifuddin Muhajir dan syair kaeangannya untuk Khofifah Indar Parawansa

Oleh : Ahmad Husain Fahasbu

Serambimata.com – Secara mengejutkan, KH. Afifuddin Muhajir, wakil Pengasuh PP Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo belakangan terlibat aktif dalam dunia perpolitikan. Sebenarnya jika mengikuti dan membaca karya-karya Kiai yang disebut-sebut sebagai pengganti KH. M. A. Sahal Mahfudz tersebut pembaca tidak akan heran, sebab dalam banyak kesempatan ia memang sering berbicara tentang instrumen-instrumen dalam sebuah negara atau dalam term fikih disebut fikih Siyasah.

Ia sering berbicara di hadapan publik bagaimana relasi agama dengan negara, negara Pancasila, Mekanisme Pemilihan Pemimpin dan lain-lain. Semua hal tersebut dibedah oleh Kiai Afif dalam sudut pandang fikih dan usul fikih.

Namun tidak seperti yang terjadi belakangan ini, di mana penulis buku Fikih Tata Negara tersebut bahkan rela berdesakan dengan ribuan massa ketika mengantarkan pasangan Khofifah Indar Parawansa-Emil E. Dardak ke KPU Jawa Timur.

Bahkan sedari awal, Kiai Afif juga menjadi salah satu anggota tim 09 yang sedari awal mengkonsep pencalonan Khofifah hingga yang menentuakan siapa yang berhak menjadi calon Wakil Gubernur mendampingi ketua Muslimat NU itu.

Sebelumnya, perlu ditegaskan bahwa keterlibatan seseorang dalam dunia politik adalah hal yang lumrah. Tentang keterlibatan Kiai, Ibu Nyai, pengamat hingga orang melarat dalam dunia politik adalah biasa. Yang tidak biasa adalah menyalahkan dan merasa dirinya paling memiliki otoritas dalam urusan politik.

Kiai Afif sendiri–bahkan dari dulu–sering menyampaikan bahwa politik itu bukan hal yang tercela sebagaimana pandangan sementara orang. Kiai Afif mengutip pernyataan Syaikh Ibnu Uqail al-Hanbali yang menyatakan bahwa politik adalah segala aktivitas yang membuat manusia lebih dekat dengan kebaikan dan jauh dari kerusakan, meskipun tidak ditetapkan oleh Rasulullah Saw. Dan tidak pula berdasarkan wahyu.

Pernyataan di atas bisa dijadikan argumen bahwa politik bukanlah benda haram. Ia adalah sarana untuk mencapai tujuan yaitu bagaimana merealisasikan maslahat dan menjauhkan mafsadat dalam kehidupan.

Meskipun tak bisa dipungkiri, akhir-akhir ini kata politik memiliki konotasi yang negatif. Penilian seperti ini sebenarnya merupakan konsekuensi dari sikap beberapa oknum yang cenderung menghalalkan segala cara.

Dengan demikian, politik bukanlah benda “najis” melainkan ia benda yang “terkena najis” yang bisa disucikan kembali. Kita berharap keikutsertaan Kiai Afif dan tentu kiai-kiai yang lain mampu mensucikan najis tersebut.

Bagi Saya, Kiai Afif sangat menarik untuk diamati, sebab di samping tampil sebagai Kiai yang egaliter, l ow profile , ia juga seorang kiai-akademisi yang setiap pandangan dan tindak tanduknya selalu didasarkan pada teks-teks klasik, utamanya dalam ilmu fikih dan usul fikih. Sebuah ilmu yang memang sangat dikuasai oleh beliau.

Ketika sedari awal beliau turun langsung dalam hingar-bingar pesta demokrasi lima Tahunan ini, penulis makin penasaran, apa yang akan ditampilkan kepada publik terkait keterlibatannya dalam dunia perpolitikan? Tanpa menunggu lama, satu persatu rasa penasaran penulis terjawab.

Kiai Afif memberikan warna tersendiri dalam Pilkada Jatim kali ini. Betapa tidak, ia tanpa risih “berkampanye” dengan cara menulis syair-syair indah tentang jagoannya, Khofifah dan Emil.

Linimasa media sosial disemarakkan dengan gubahan-gubahan syair indah penulis Kitab Fath al-Mujib al-Qarib itu. Syair perdana yang kemudian menjadi awal dari perang syair dalam Pilkada Jatim ini adalah: ﻭَﺍِﺫْ ﺗُﺮِﺩْ ﺭِﺋَﺎﺳَﺔً ﻭَﻟَﻢْ ﺗَﻤِﻞْ # ﻓَﺎﺧْﺘَﺮْ ﺧَﻔِﻴْﻔَﺔً ﺍَﺧِﻲْ ﻣَﻊَ ﺍِﻳْﻤِﻞ ﺧَﻔِﻴْﻔَﺔْ ﺍِﻳْﻤِﻞْ ﺩَﺭْﺩَﺃ ﺻِﺪْﻗُﻬُﻤَﺎ # ﻣُﺴْﺘَﻴْﻘَﻦٌ ﻻَ ﺗَﺨْﺘَﺮَﻥْ ﻏَﻴْﺮَﻫُﻤَﺎ Jika anda menginginkan kepemimpinan dengan Penuh kejujuran, maka pilihlah Khafifah dan EmilKhafifah dan Emil Dardak kejujurannya tidak diragukan. Maka jangan memilih yang lain.

Dalam amatan penulis, Kiai Afif hendak menegaskan bahwa politik itu tidak selalu mengerikan dengan saling mengkafirkan, fitnah murahan dan sumpah yang didasarkan pada keserakahan. Di samping itu, apa yang dilakukan Kiai Afif makin mengukuhkan bahwa Jawa Timur ini adalah salah satu Provisi yang di dalamnya terdapat ribuan Pesantren.

Sungguh tidak elok jika satu kubu saling menjelekkan kubu yang lain. Lebih-lebih Pilkada kali ini, kemungkinan besar akan mempertemukan dua kader NU, dimana di masing-masing kubu sama-sama didukung oleh Kiai dan ibu Nyai.

Kampanye Kiai Afif juga lebih elegan dibanding dengan mereka yang kerapkali “membajak” Alquran atau hadis yang ditafsiri semaunya sendiri. Lalu hasil “pembacaan sederhana” itu dijadikan senjata untuk menyerang rival yang berseberangan.

Membuat syair-syair bahasa arab adalah salah satu tradisi Pesantren yang mungkin sudah tidak mendapatkan perhatian di internal pesantren sendiri. Sebab untuk membuat syair diperlukan satu perangkat yang amat sulit, yaitu mengusai ilmu Balagah. Di samping juga harus menguasai ilmu Gramatikal arab seperti Nahwu, Sarraf dan memiliki perbendaharaan bahasa arab yang cukup banyak.

Kehadiran Kiai Afif menjadi salah satu bukti bahwa masih ada Kiai yang mampu melakukan kampanye kreatif dengan menulis-menulis syair. Tentu kita berharap agar syair-syair pilkada ini sebagai langkah awal yang kemudian disusul syair-syair lanjutan yang bisa dibukukan dan dijadikan sebuah karya. Misalnya kelak Kiai Afif melanjutkan dengan menggubah syair tentang politik Islam, relasi agama dengan negara, negara Pancasila dan lain-lain.

Pendidikan politik untuk konteks saat ini harus terus digalakkan. Kampanye hitam (black campaign), money politic, jualan isu SARA seharusnya sudah selesai dan dihentikan. Lebih-lebih politisasi agama yang sungguh sangat merugikan utamanya terhadap agama itu sendiri. Umat sudah capek diberi tontonan yang memuakkan, sudah saatnya mereka diberi tuntunan dan pencerahan. Kiai Afifuddin sudah memulai bagaimana seorang yang dilahirnya dari rahim pesantren berkampanye. Ia sudah membuat “sunnah”, satu jalan baik yang semoga terus ditiru oleh yang lain.

Ala Kulli Hal, menjelang Pilkada akal sehat dan nurani sebaiknya dijaga. Sebab, tidak jarang, karena syahwat politik yang menggelora hingga ia bisa menghalalkan segala cara. Ingat! Pilkada itu pesta demokrasi bukan ajang caci-maki.


Penulis adalah Redaktur Pelaksana Majalah Tanwirul Afkar sekaligus Editor Buletin GAMIS periode 2015-2017. saat ini sedang belajar di lembaga kader Ahli Fikih dan usul Fikih Ma’had Aly Salafiyah Syafi’iyah Situbondo.

Tulisan ini sebelumnya dirilis geotimes.co.id

Iklan

About serambimata

Terus menulis

Posted on 26 Januari 2018, in Politik. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: