Iklan

MCA dan Pelajaran Penting dari Kehancuran Syuriah dan Libya

Serambimata.com – Wiranto geram dan meminta kepada kepolisian agar bekerja keras membongkar habis sindikat penyebar isu-isu provokatif yang mencoba mengacaukan negara dengan mengadu domba umat beragama. Menurut Menteri Koordinator Politik, Hukum dan Keamanan itu, mereka yang diketahui dari kelompok yang menamakan dirinya Muslim Cyber Army (MCA) menginginkan pemerintah gagal. Dan hasilnya akan dipetik pada pilpres 2019 mendatang.

Padahal negara sedang aman-aman saja, bahkan sedang giat-giatnya membangun, menyelenggarakan Pilkada dengan baik, sudah mempersiapkan pemilu dengan baik, lalu dikacau karena hanya ingin mengacau. Bila kekacauan itu terwujud berarti pemerintah telah gagal dan tak boleh dipertahankan bila perlu dikudeta di tengah jalan.

Memasuki tahun politik, wajar kalau situasi mulai memanas. Tapi kondisi ini jangan sampai dimanfaatkan oleh kelompok atau perorangan seperti MCA atau sejenisnya yang sengaja mendesain untuk mengacaukan Pilkada dan Pemilu yang sudah disiapkan dengan baik dengan penyebar isu-isu provokatif bahkan bohong atau hoax seperti kebangkitan Partai Komunis Indonesia (PKI) dan penganiayaan ulama serta penghinaan terhadap simbol dan tokoh negara.

Yang sangat disayangkan para penebar hoax, fitnah dan ujaran kebencian tersebut, menggunakan nama “Muslim” untuk melegalkan aksinya. Membawa embel agama dianggap paling ampuh untuk memuluskan rencana mereka dalam membuat kekecauan. Label di lekatkan di nama-nama grup MCA yang selama ini rajin menebar aksinya di medsos. Sebut saja The MCA Family, The Legend MCA, Srikandi Muslim Cyber dan sejenisnya. Group ini anggotanya ratusan, tersebar di seluruh indonesia.

Mereka meciptakan isu, memviralkannya, lalu teriak-teriak PKI bangkit. Mereka memprovokasi siapa saja dengan isu agama. Dengan menunggangi nama Islam mereka ingin Indonesia terpecah menjadi berkeping-keping.

Modus yang dilakukan MCA ini mengingatkan kita akan sebuah negara yang dikenal damai dan makmur tapi kini hancur lebur, Syuriah. Jauh sebelum negeri itu porak-poranda, ternyata diawali oleh munculnya kelompok yang memiliki motif dan cara kerja yang sama dengan MCA. Kerjaan mereka memprovokasi publik, memecah belah masyarakat Syuriah. Jika sudah berhasil, masuklah begundal sesungguhnya yang datang membawa senjata. Hingga akhirnya negara yang anggota masyarakatnya hidup dalam kedamaian dengan berbagai mazhab agama menjadi negara gagal hanya karena isu pertentangan Sunni-Syiah.

Setali tiga uang dengan Syuriah, Libya juga mengalami masalah yang tak jauh berbeda. Tugas memprovokasi publik di mainkan oleh HTI yang berhasil mendongkel Khadafi. Setelah pemimpin yang dikenal pemberani dan anti Amerika itu tumbang, ISIS atau Al Qaedah datang bagai hantu yang menyeramkan menebar teror dan memporak-porandakan, hingga akhirnya tamatlah masa depan Libya. Musnahlah harapan hidup layak di sana. Rakyat Libya yang tadinya hidup damai dan makmur, kini cuma bisa menangis di puing-puing kehancuran negaranya.

Sementara di Timur Tengah ISIS dan Al Qaedah makin lama makin terjepit. Pasukannya makin berkurang dan kalah di mana-dimana. Mereka yang juga meneriakkan khilafah makin minim dukungan. Bahkan Saudi Arabia yang diyakini sebagai menyandang dana mereka malah sibuk dengan reformasi bernegara. Ini akibat duit Saudi habis buat membiayai perang plus harga minyak yang tidak kunjung membaik. Negara yang tadinya puritan ini, bahkan khabarnya akan membangun pusat hiburan setara Las Vegas. Saudi juga akan menggelar festival jazz terbesar di Timur Tengah.

Menyadari posisinya yang makin terancam, ISIS atau Al Qaedah mencoba melebarkan sayap terornya ke negara-negara lainnya tak ketinggalan negara-negara di Asia yang dianggap bagus sebagai tempat baru untuk lahan berburu. Philipina menjadi sasaran pertama ISIS dan Al Qaeda lewat gerakan Abu Syayaf. Sayangnya di sana pun mereka gagal hingga akhirnya mereka mungkin mengincar Indonesia.

Sebagai negara dengan penduduk Muslim terbesar, Indonesia dinilai mudah dikompori karena sebagian masyarakat muslimnya masih kaku dan mengedepankan kekerasan di dalam beragama.

Pada tahap berikutnya, sindikat penyebar fitnah disiapkan untuk menghasut masyarakat dengan berbagai isu murahan. Orang-orang yang memiliki semangat buta dalam beragama serta memiliki hobi berselancar di dunia sosial media direkrut untuk dijadikan martir-martir penyebar fitnah, berita palsu (hoax) dan ujaran kebencian.

Mereka berfungsi tak ubahnya pengantin bom bunuh diri. Bedanya, jika bom bunuh diri mensasar korban fisik dengan korban berjumlah besar, maka pelaku penyebar fitnah dan hoax ini juga sedang meletakkan bom waktu di masyarakat. Dengan target, jika nanti bom itu meledak, dijamin jumlah korban akan jauh lebih banyak.

Modus operandinya sebenarnya tak begitu sulit dibaca. Dengan kabar hoax, fitnah dan ujaran kebencian yang disebar, masyarakat akan termakan fitnah, sehingga mereka dipastikan akan saling membenci dan curiga serta akan mudah terprovokasi.

Bila kondisi itu tercipta, lalu mereka akan menyulutnya sampai masyarakat makin terbakar hingga konflik horisontal benar-benar terjadi. Maka sampai di titik ini dampaknya akan jauh lebih besar dan menyakitkan dibanding sekedar bom bunuh diri. Tidak hanya itu kekacauan itu juga bisa sangat panjang sampai negara yang menjadi sasaran akan hancur lebur sebagaimana yang telah terjadi di beberapa negara di Timur Tengah.

Entah akan jadi apa wajah Indonesia bila para penghianat dan pengacau itu berhasil menjalankan misinya. Melempar fitnah, mengacaukan informasi, memompakan kebencian dan akhirnya mengobarkan konflik. Sungguh tak bisa dibayangkan.

Bersyukur sejauh ini Polri masih sigap melibas mereka. Kehadiran ormas NU dengan pasukan Ansor dan Banser yang menjadi andalanya, sedikit banyak menyulitkan ruang gerak mereka. Meskipun mereka tetap tak menyerah melawan dan muncul bertebaran di grup-grup facebook maupun WA. Mereka juga tiba-tiba ramai merubah nama grupnya bahkan membuang SIM Cardnya begitu berhasil diendus keberadaan bahkan satu persatu diciduk dan ditangkapi untuk mempertanggung jawabkan perbuatannya. Ini membuktikan kalau kehadiran meraka matang direncanakan, terorganisir dan terpantau sebagai sebuah sindikat untuk melakukan penghancuran.

Tak heran, bila isu kebangkitan PKI dan penyerangan terhadap Ulama dengan cepat viral bahkan di-share hingga puluhan ribu kali, itu karena memang telah desain dengan matang. Para pengikutnya bekerja dengan militansi perusak yang luar biasa.

Aksi jahat bagai sindikat ini harus dilawan bukan dengan diam apalagi ikut-ikutan mendukung dengan menviralkan. Melawan berita hoax dan ujaran kebencian harus dilawan dengan juga membagikan sebanyak-banyaknya berita-berita baik yang berisi ajakan cinta tanah air serta ajaran Islam yang mencerahkan dan mendamaikan.

Negeri ini masih sangat panjang perjalannnya untuk dinikmati anak cucu kita dengan penuh kedamaian dan ketentraman. Bila saat ini Indonesia adalah surga bagi kita, jangan jadikan ia neraka bagi generasi berikutnya hanya kekonyolan kita yang diam dan membiarkan aksi dan kejahatan mereka.

Iklan

About serambimata

Terus menulis

Posted on 5 Maret 2018, in Politik and tagged , , , , , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: