Iklan

Daily Archives: 6 Maret 2018

Sholawat Bhenning: Peresmian Masjid hingga Ijazah Do’a dari Kiai Azaim

Pengajian Sholawat Bhenning bersama KHR Ahmad Azaim Ibrahimy didampingi sejumlah tokoh di desa Lugundang, Situbondo

Serambimata.com – menghadiri pengajian Sholawat Bhenning tak hanya selalu menggugah kesadaran akan keagungan Nabi Muhammad SAW tapi juga selalu ada pesan penting, bahkan tak jarang pada jama’ah menerima ijazah do’a dan amalan dari KHR Ahmad Azaim Ibrahimy. Pesan-pesan sejuknya yang menentramkan ditambah lantunan sholawat dan qosidah sanjungan kepada kepada Nabi Akhir Zaman serta pesan bagi kehidupan, membuat ribuan jamaah yang terdiri dari pencinta sholawat Bhenning (Bhenning Mania) dan masyarakat sekitar betah berlama-lama mengikuti acara hingga tengah malam.

Senin malam (05/03/2018), jalan perempatan perbatasan dua desa, Talkandang dan Lugundang sudah mulai ramai dipenuhi Bhenning Mania sejak usai Sholat Maghrib. Di depan majid megah yang baru saja selesai direnovasi juga telah berdiri panggung besar tempat akan dilangsungkannya pengajian Sholawat Bhenning malam itu. Bagi masyarakat muslim Lugundang, malam itu menjadi saat yang istimewa tidak hanya karena menghadirkan Sholat Bhenning dengan ribuan pencintanya tapi juga akan diresmikannya masjid Baitul Hikmah oleh Pendiri Sholawat Bhenning, KHR Ahmad Azaim Ibrahimy.

Sekitar pukul 22.00 wib di sela-sela kekhidmatan para pencinta sholawat menikmati lantunan indah dan penampilan teater Islami yang disajikan Jam’iyah Sholat Bhenning , Sosok yang akrab dipanggil Kiai Azaim akhirnya tiba di lokasi acara. Cucu Pahlawan Nasional Kiai As’ad itu langsung di giring ke Masjid Baitul Hikmah untuk meresmikan masjid tersebut dengan pengguntingan pita. Sambil diiringi lantunan sholawat, do’a dan diawali dengan bacaan basmalah, Kiai Muda kharismatik itupun meresmikan masjid yang dibangun dengan arsitektur indah dan megah itu.

Usai meresmikan masjid, pengajianpun dimulai. Pesan-pesan hikmah diselingin sholawat dan qosidah berisi pesan dan mauidhah yang ditunggu-tunggu masyarakat dan Bhenning Mania, pelan disampaikan penuh kekhusu’an oleh Kiai Azaim mulai soal pentingnya masjid agar dimakmurkan hingga himbauan beliau agar masyarakat menjaga ukhwah dan persatuan.

“Adalah musibah kecil, keluar dari masjid sandalnya hilang, tapi musibah besar kalau sandalnya tidak pernah kelihatan di masjid”, kata Kiai Azaim disambut gerrrrr hadirin.

Di awal-awal ceramahnya, Pengasuh Pondok Pesantren Salafiyah Syafiiyah Sukorejo itu banyak berpesan agar masyarakat bersama-sama memakmurkan masjid yang ada dengan istiqomah melaksanakan sholat lima waktu dan kegiatan bermafaat lainnya di Rumah Allah itu. Ia menilai, kemakmuran suatu masyarakat bisa dilihat dari kemakmuran masjidnya. Kalau masjidnya makmur, maka masyarakatnya damai dan akur, ekonominya makmur bahkan taninya juga subur.

KHR Ahmad Azaim Ibrahimy saat meresmikan Masjid Baitul Hikmah Lugundang, Situbondo

Dengan mengenakan jubah putih berkalung surban hijau dan bunga melati yang dikalungkan panitia, Kiai Azaim juga mengajak untuk tidak enggan beramal jariyah. Ibarat biji buah, bila ditanam di tanah yang subur maka akan tumbuh besar dan berbuah lebat sehingga hasilnya akan bermanfaat buat dirinya, keluarganya bahkan lingkungannya.

“Saya mau tanya, apa ada biji lebih besar dari buah dan pohonnya? Tanyanya kepada hadirin.

“Tidak ada”, hadirin yang ada di depan panggung menjawab serentak.

“Biji sama dengan amal jariyah, meskipun ia kecil tapi akan tumbuh dan berbuah besar, maka tanamlah biji itu di tanah yang subur”, jelasnya sebelummeminta panitia menyebar kotak amal kepada hadirin agar bersedekah untuk masjid Baitul Hikmah yang baru saja diresmikan.

Sebelum acara diakhiri, Kiai Azaim juga berpesan agar umat Islam tidak bertengkar dan selalu menjaga kerukunan antar sesama. Karena dalam pandangannya, kalau hal itu terjadi maka Rasulullah SAW adalah orang tua seluruh umat Islam pasti sedih melihatnya.

“Umat Nabi Muhammad sama dengan umat para Nabi sebelumnya. Dan setiap nabi adalah orang tua bagi setiap umatnya. Kalau umatnya bertengkar maka berarti telah membuat sedih orang tuanya yakni para Nabi termasuk Rasulullah saw. Apakah kita akan jadi anak yang membahagiakan atau menyusahkan Nabi Muhammad SAW sebagai orang tua?, pesannya.

Maka, pada kesempatan itu, murid Sayyib Ahmad bin Muhammad Alawi Al Maliky itu mengijazahkan do’a agar Allah swt menutupi aib manusia sehingga tidak saling menghina karena aib itu.

اللّهُمّ استُر عَوْرَاتي، وَآمِن رَوْعاتِي ، اللّهُمّ احفظني مِن بين يديَّ، ومِن خَلْفِي، وعَن يَمِينِي، وعن شِمَالي، ومِن فَوقي، وأعُوْذُ بعظمَتِكَ أن أُغْتالَ مِن تَحْتِي

“Do’a ini dibaca dengan istiqomah setelah Sholat Subuh dengan harapan Allah menutup aib kita”, pesan Kiai Azaim sebelum menutup acara malam itu dengan do’a. (hans)

Iklan