Iklan

“Karena Aku Azaim adalah Fawaid” (Puisi Kiai Azaim untuk Pamandanya)

Serambimata.com – Tak ada panggung megah atau gemerlap lighting seperti pengajian Sholawat Bhenning sebelum-sebelumnya. Tapi bagi ribuan jama’ah terutama para pencinta Sholawat Bhenning (Bhenning Mania) pengajian Sholawat Bhenning yang dilaksanakan di halaman RA Nailatus Sa’adah, desa Gudang kecamatan Asembagus terasa sangat berbeda.

Suasana haru, isak tangis bahkan histeria para jama’ah mewarnai pengajian Sholawat Bhenning yang digelar Minggu (11/03/2018). Betapa tidak, para jama’ah yang hadir malam itu seakan diajak pada masa dimana Pengasuh ke-3 Pondok Pesantren Salafiyah Syafiiyah Sukorejo, Situbondo, Almarhum KHR Ahmad Fawaid As’ad masih hidup. Maklum, pengajian tersebut dilaksanakan dalam rangka Haul Almarhum Kiai Fawaid dan Malam Refleksi.

Suasana semakin mengharu biru, ketika KHR Ahmad Azaim Ibrahimy membacakan puisi yang khusus dipersembahkan untuk pamanda tercintanya itu. Puisi spontanitas dan disampaikan tanpa konsep itu, begitu menyentuh dan membuat jamaah yang hadir hanyut dalam sedih seperti terbawa kembali pada masa-masa perjuangan Almarhum yang dikenal tegas dan pemberani itu.

Berikut puisi yang dibaca Kiai Azaim, dan saya beri judul “Karena Aku Azaim adalah Fawaid” :

KARENA AKU AZAIM ADALAH FAWAID

Engkau yang aku tak bisa menyebut apa…
Aku tak bisa menyebut siapa sesungguhnya engkau…
Pamankah…?
Kakak seperguruankah…?
atau Ayahanda…?
Karena ibuku, yang merupakan kakak kandungmu adalah ibumu juga
yang dekapannya kepadamu, Aku rasakan kepadaku
yang Do’a pintanya kepada Allah tentangmu, juga aku rasakan tentangku
Huruf Hija’ iyah “Alif, Ba’, Ta'” , yang ia bacakan kepadamu,
ia bacakan juga kepadaku
Bahkan, takbirotul ihram hingga salam yang ia ajarkan kepadamu, diapun telah ajarkan kepadaku…
Engkau Pamanku, ataukah saudara seperguruanku…?

Pamanda…
Teringat ketika sore hari,
aku bermain bersama teman-temanku di halaman pesantren
Aku mulai menyusun Impian,
membangun Ka’bah, membentuk tanah menjadi Baitullah
Tiba-tiba engkau datang dengan kendaraan Dathsun
Engkau ajak aku pergi …

Sepertinya permainan itu telah menjadi nyata;
Ia, permainan itu telah menjadi nyata, ketika aku berada di samping Baitullah di kediaman guru di Rushaifah,
Aku sedang membangun impian-impian masa lalu itu
dan engkau datang menjemputku…

Pamanda… Pamanda…
Masih segar dalam ingatanku pamanda,
Ketika engkau mendekapku
kita berpose; kita berfoto bersama
dan kebersamaan itu hingga menjadi potret kenangan
KENANGAN ABADI DALAM BINGKAI HATI

Pamanda…
Masih teringat ketika engkau menyuruh
agar aku mendampingimu…
kita bersama-sama towaf

Towaf di miniatur Ka’bah depan masjid, di bulan Maulid Nabi
ketika Orang-orang sedang berkumpul, kita belajar bertowaf
Dan pelajaranmu itu aku kenang sepanjang hidup
Bahwa, SETIAP LANGKAH HARUS MENJADI IBADAH

Pamanda… Pamanda ….
Teringat ketika engkau menyuruh aku memakai kemiri yang dibakar
Kemiri yang dibakar itu, engkau suruh aku letakkan di wajahku
Kemiri gosong itu, engkau suruh letakkan di wajahku

Pamanda…
Hari ini kemiri itu telah tumbuh menjadi kumis dan jenggotku
Apakah engkau hendak mengajariku menjadi seorang lelaki?
Terima kasih pamanda…

Pamanda….
Ketika engkau merindukan ayahmu Aku juga merindukan pelukannya
Dan terakhir yang terkenang, ketika engkau berucap kalimat isyaroh
di kota suci Mekkah, sebulan sebelum kepergianmu
Engkau memandang langit dengan wajah bersinar
Engkau katakan kepadaku ” ENGKOK ABELIE KA PANGERAN”

Rasanya, tak perlu adanya ucapan selamat tinggal pamanda
Karena engkau tetap hadir…

Aku bingung….
Skapakah engkau pamanda?
Kakak atau Ayahanda?
karena wasiat terakhir Ibunda kepadaku
“SENGAK PAMANNA GHENTENA ABANA”

Aku masih tak tau bisa menyebut apa…
Pamanda Fawaid kah…?
Kakanda Fawaidkah…?
atau Ayahanda Fawaid…?
Aku tidak peduli, bagiku semua sama !
karena AKU AZAIM ADALAH FAWAID

Jika orang-Orang mengucapkan selamat tinggal pamanda,
maka aku mengucapkan selamat datang … Selamat datang…
Bimbing kami….bimbing kehidupan kami…
Perjuanganmu seberat apapun,
Insya Allah, semoga aku mampu meneruskannya; kedepannya

SELAMAT DATANG PAMANDA…
Selamat Datang
Al Fatihah…

Berikut videonya :

Iklan

About serambimata

Terus menulis

Posted on 12 Maret 2018, in Budaya and tagged , , , , , , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: