Iklan

Rasulullah Pernah Membunuh “Abi Sarah” karena Menghina Al Qur’an, Benarkah?

Salah satu artikel di media online kabarmakkah.com

Serambimata.com – Puisi Sukmawati yang membandingkan kidung dengan adzan serta konde dengan cadar menuai banyak protes karena dianggap menghina Islam. Akibatnya, dalil-dalil tentang perlunya tindakan tegas bagi yang dianggap menghina agama Islam hingga inisiatif untuk kembali melakukan aksi turun ke jalan jadi ramai di media sosial. Dalam aksina mereka tak hanya mengecam pelaku penghinaan tapi juga mencela orang-orang yang bersikap lembut dengan memaafkan.

Salah satu dalil yang dikemukakan untuk mendukung tindakan tegas terhadap penista agama Islam adalah tentang kisah Rasulullah SAW yang mengeksekusi Abi Sarah tanpa ampun karena telah menghina Al Quran. Dalil ini tak hanya dijadikan hujjah kelompok Islam garis keras bahkan juga dijadikan pegangan para orientalis dan para pembenci Islam. Khusus kelompok yang kedua ini diduga sengaja mengedarkan berita tentang kebengisan dan kekejaman Rasulullah. Tujuannya satu, mereka hendak membantah bahwa Rasulullah itu welas asih dan rahmat bagi semesta alam.

Yang sangat disayangkan di kalangan Muslim sendiri juga tak sedikit yang mengamini bahkan ikut menyebarkannya berbagai kisah “seram” dan “kejam” yang sebenarnya dapat mencederai keluhuran budi dan nama baik Rasulullah. Oleh karena itu, membaca kisah ini harus bijak dan perlu melengkapi literatur lainnya sebagai penyeimbang agar tetap dapat melakukan kritik konstruktif agar masyarakat tercerahkan.

Rais Syuriah Pengurus Cabang Internasional (PCINahdlatul Ulama Australia-New Zealand dan Dosen Senior Monash Law School. Prof. Nadirsyah Hosen, di dalam tulisanya, sebagaimana dilansir fiqhmenajawab.com, ia pernah mengkritisi tiga riwayat soal kisah pembunuhan terhadap penghina Nabi di sebuah artikel yang berjudul “Kekerasan terhadap Penghina Nabi, Bolehkah?”.

Pada kesempatan berikutnya, Nadirsyah Hosen mengaku pernah dikirimi kisah lain oleh seorang pembaca mengenai Abi Sarah yang semula penulis wahyu Nabi tapi kemudian mengubah wahyu yang Nabi terima dalam tulisannya dan melecehkan Nabi serta kemudian murtad. Dalam kisah yang diedarkan ini disebut bahwa Rasulullah mengeksekusi Abi Sarah saat Fathu Mekkah. Tentu diedarkannya cerita ini untuk menunjukkan sikap tegas yang harus diambil umat Islam terhadap penista al-Qur’an. Tapi benarkah kisahnya seperti itu?

Iapun melakukan pelacakan untuk menguji kebenarannya. Hasilnya menunjukkan bahwa kisah yang beredar itu tidak lengkap. Ia memulai temuannya dari Surat al-An’am: 93
وَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنِ افْتَرَىٰ عَلَى اللَّهِ كَذِبًا أَوْ قَالَ أُوحِيَ إِلَيَّ وَلَمْ يُوحَ إِلَيْهِ شَيْءٌ وَمَنْ قَالَ سَأُنْزِلُ مِثْلَ مَا أَنْزَلَ اللَّهُ

Dan siapakah yang lebih zalim daripada orang yang membuat kedustaan terhadap Allah atau yang berkata: “Telah diwahyukan kepada saya”, padahal tidak ada diwahyukan sesuatupun kepadanya, dan orang yang berkata: “Saya akan menurunkan seperti apa yang diturunkan Allah”.

Tafsir al-Thabari mengabarkan telah terjadi perbedaan pendapat siapa yang dimaksud dalam ayat di atas. Sebagian mengatakan ayat itu ditujukan kepada Musailamah. Sebagian lagi mengatakan ditujukan kepada Abdullah bin Sa’d bin Abi Sarah.

Nadirsyah Hosen mengajak untuk fokus pada nama terakhir. Al-Thabari mengutip dari riwayat Ikrimah bahwa Abi Sarah memang sempat murtad tapi dia kembali memeluk Islam SEBELUM Fathu Makkah. Kalau riwayat ini benar maka jelas bertentangan dengan kisah yang diedarkan bahwa Rasul mengeksekusi Abi Sarah saat Fathu Makkah.

Selanjutnya kalaupun riyawat Ikrimah tersebut ditolak, ada fakta menarik bahwa dalam Sunan Abi Dawud (hadits nomor: 2308, 3792 dan 3793) dan Sunan al-Nasa’i (hadits nomor 4001) dikisahkan bahwa Abi Sarah ini diampuni oleh Rasul SAAT Fathu Makkah atas permintaan Utsman bin ‘Affan yang merupakan saudara sepersusuan Abi Sarah.

Ini menunjukkan bahwa tidak benar Abi Sarah dieksekusi saat Fathu Makkah, baik riwayat Ikrimah yang dicantumkan dalam Tafsir al-Thabari maupun teks Hadits dalam kedua kitab Sunan tersebut.

Cerita lebih lengkap ada dalam Tafsir al-Qurtubi mengenai apa yang terjadi dengan Abi Sarah SETELAH Fathu Makkah:

“Saat bai’atnya diterima Rasul, Abi Sarah kembali memeluk Islam dan apa yang dia lakukan untuk Islam sungguh luar biasa. Pada masa Khalifah Utsman, beliau diangkat menjadi Gubernur Mesir pada tahun 25H. Abi Sarah menaklukkan Afrika tahun 27H dan Nuba pada tahun 31H dan meneken perjanjian gencatan senjata yang berlaku sampai sekarang. Abi Sarah menaklukkan Pasukan Romawi dalam pertempuran Sawari di tahun 34H. Beliau tinggal di Asqalan sampai wafatnya Khalifah Utsman.”

“Ada juga yang mengatakan beliau menetap hingga wafatnya di Ramlah. Abi Sarah berdoa: ” Ya Allah jadikan shalat subuh ku sebagai amalan terakhirku. Dia berwudhu dan shalat. Pada rakaat pertama beliau baca surat al-Fatihah dan al-‘Adiyat, di rakaat kedua membaca al-Fatihah dan surat lainnya, lantas hendak mengakhiri shalatnya dengan mengucap salam ke kanan, dan beliau wafat sebelum mengucap salam ke kiri. Ini semua diriwayatkan oleh Yazid bin Abi Habib dan lainnya.”

“Abi Sarah memilih tidak ikutan konflik Ali dan Muawiyah. Beliau wafat sebelum masyarakat menyetujui Muawiyah menjadi khalifah. Riwayat berbeda mengenai wafatnya Abi Sarah, ada yang bilang di Afrika, tapi yang benar di Asqalan tahun 36 atau 37 H”

Jadi, Abi Sarah ini adalah contoh tokoh yang pernah dekat dengan Nabi bahkan sampai menjadi penulis wahyu, tapi syetan menggelincirkannya hingga ia murtad, namun ia kembali masuk Islam dan kemudian mengabdi pada agama Allah ini. Dengan demikian kisah yang beredar dan dibroadcast kemana-mana mengenai Nabi mengeksekusi Abi Sarah menurut Nadirsyah Husen tidaklah benar. Kisahnya dipotong –entah kenapa.

Nabi Muhammad, Rasulullah SAW adalah pribadi yang welas asih, tidak pendendam dan rahmat bagi semesta. Karenanya tokoh Indonesia pertama dan satu-satunya yang menjadi dosen tetap di fakultas hukum di universitas di Australia itu mengajak agar bersama-sama membersihkan beliau SAW dari kisah-kisah yang bisa mencederai keagungan akhlak beliau. Dalam pandangannya, sungguh aneh kalau umat beliau SAW lebih senang mengambil kisah “kejam” dan “seram” seolah dari beliau SAW ketimbang kisah dan pelajaran tentang ketinggian akhlak beliau SAW.

Berikut kutipan rujukan tulisan Nadirsyah Hosen:

Tafsir al-Thabari:
ﻭَﻗَﺪِ ﺍﺧْﺘَﻠَﻒَ ﺃَﻫْﻞُ ﺍﻟﺘَّﺄْﻭِﻳﻞِ ﻓِﻲ ﺫَﻟِﻚَ، ﻓَﻘَﺎﻝَ ﺑَﻌْﻀُﻬُﻢْ ﻓِﻴﻪِ ﻧَﺤْﻮَ ﺍﻟَّﺬِﻱ ﻗُﻠْﻨَﺎ ﻓِﻴﻪِ
ﺫِﻛْﺮُ ﻣَﻦْ ﻗَﺎﻝَ ﺫَﻟِﻚَ ﺣَﺪَّﺛَﻨَﺎ ﺍﻟْﻘَﺎﺳِﻢُ، ﻗَﺎﻝَ : ﺛﻨﺎ ﺍﻟْﺤُﺴَﻴْﻦُ، ﻗَﺎﻝَ : ﺛﻨﻲ ﺣَﺠَّﺎﺝٌ، ﻋَﻦِ ﺍﺑْﻦِ ﺟُﺮَﻳْﺞٍ، ﻋَﻦْ ﻋِﻜْﺮِﻣَﺔَ، ﻗَﻮْﻟُﻪُ : } ﻭَﻣَﻦْ ﺃَﻇْﻠَﻢُ ﻣِﻤَّﻦِ ﺍﻓْﺘَﺮَﻯ ﻋَﻠَﻰ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﻛَﺬِﺑًﺎ ﺃَﻭْ ﻗَﺎﻝَ ﺃُﻭﺣِﻲَ ﺇِﻟَﻲَّ ﻭَﻟَﻢْ ﻳُﻮﺡَ ﺇِﻟَﻴْﻪِ ﺷَﻲْﺀٌ { ‏[ ﺍﻷﻧﻌﺎﻡ : ٩٣ ‏] ﻗَﺎﻝَ : ﻧَﺰَﻟَﺖْ ﻓِﻲ ﻣُﺴَﻴْﻠِﻤَﺔَ ﺃَﺧِﻲ ﺑَﻨِﻲ ﻋَﺪِﻱِّ ﺑْﻦِ ﺣَﻨِﻴﻔَﺔَ ﻓِﻴﻤَﺎ ﻛَﺎﻥَ ﻳُﺴَﺠِّﻊُ ﻭَﻳَﺘَﻜَﻬَّﻦُ ﺑِﻪِ . } ﻭَﻣَﻦْ ﻗَﺎﻝَ ﺳَﺄُﻧْﺰِﻝُ ﻣِﺜْﻞَ ﻣَﺎ ﺃَﻧْﺰَﻝَ ﺍﻟﻠَّﻪُ { ‏[ ﺍﻷﻧﻌﺎﻡ : ٩٣ ‏] : ﻧَﺰَﻟَﺖْ ﻓِﻲ ﻋَﺒْﺪِ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺑْﻦِ ﺳَﻌْﺪِ ﺑْﻦِ ﺃَﺑِﻲ ﺳَﺮْﺡٍ، ﺃَﺧِﻲ ﺑَﻨِﻲ ﻋَﺎﻣِﺮِ ﺑْﻦِ ﻟُﺆَﻱٍّ، ﻛَﺎﻥَ ﻳَﻜْﺘُﺐُ ﻟِﻠﻨَّﺒِﻲِّ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ، ﻭَﻛَﺎﻥَ ﻓِﻴﻤَﺎ ﻳُﻤْﻠِﻲ ‏« ﻋَﺰِﻳﺰٌ ﺣَﻜِﻴﻢٌ ‏» ، ﻓَﻴَﻜْﺘُﺐُ ‏« ﻏَﻔُﻮﺭٌ ﺭَﺣِﻴﻢٌ ‏» ، ﻓَﻴُﻐَﻴِّﺮُﻩُ، ﺛُﻢَّ ﻳَﻘْﺮَﺃُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻛَﺬَﺍ ﻭَﻛَﺬَﺍ ﻟِﻤَﺎ ﺣَﻮَّﻝَ، ﻓَﻴَﻘُﻮﻝُ : ﻧَﻌَﻢْ ﺳَﻮَﺍﺀٌ، ﻓَﺮَﺟَﻊَ ﻋَﻦِ ﺍﻟْﺈِﺳْﻠَﺎﻡِ ﻭَﻟَﺤِﻖَ ﺑِﻘُﺮَﻳْﺶٍ ﻭَﻗَﺎﻝَ ﻟَﻬُﻢْ : ﻟَﻘَﺪْ ﻛَﺎﻥَ ﻳَﻨْﺰِﻝُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ‏( ﻋَﺰِﻳﺰٌ ﺣَﻜِﻴﻢٌ ‏) ، ﻓَﺄُﺣَﻮِّﻟُﻪُ ﺛُﻢَّ ﺃَﻗُﻮﻝُ ﻟِﻤَﺎ ﺃَﻛْﺘُﺐُ، ﻓَﻴَﻘُﻮﻝُ : ‏« ﻧَﻌَﻢْ ﺳَﻮَﺍﺀٌ ‏» ، ﺛُﻢَّ ﺭَﺟَﻊَ ﺇِﻟَﻰ ﺍﻟْﺈِﺳْﻠَﺎﻡِ ﻗَﺒْﻞَ ﻓَﺘْﺢِ ﻣَﻜَّﺔَ، ﺇِﺫْ ﻧَﺰَﻝَ ﺍﻟﻨَّﺒِﻲُّ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ ﺑِﻤَﺮٍّ ” ﻭَﻗَﺎﻝَ ﺑَﻌْﻀُﻬُﻢْ : ﺑَﻞْ ﻧَﺰَﻝَ ﺫَﻟِﻚَ ﻓِﻲ ﻋَﺒْﺪِ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺑْﻦِ ﺳَﻌْﺪٍ ﺧَﺎﺻَّﺔً
ﺫِﻛْﺮُ ﻣَﻦْ ﻗَﺎﻝَ ﺫَﻟِﻚَ ﺣَﺪَّﺛَﻨِﻲ ﻣُﺤَﻤَّﺪُ ﺑْﻦُ ﺍﻟْﺤُﺴَﻴْﻦِ، ﻗَﺎﻝَ : ﺛﻨﺎ ﺃَﺣْﻤَﺪُ ﺑْﻦُ ﺍﻟْﻤُﻔَﻀَّﻞِ، ﻗَﺎﻝَ : ﺛﻨﺎ ﺃَﺳْﺒَﺎﻁٌ، ﻋَﻦِ ﺍﻟﺴُّﺪِّﻱِّ : } ﻭَﻣَﻦْ ﺃَﻇْﻠَﻢُ ﻣِﻤَّﻦِ ﺍﻓْﺘَﺮَﻯ ﻋَﻠَﻰ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﻛَﺬِﺑًﺎ ﺃَﻭْ ﻗَﺎﻝَ ﺃُﻭﺣِﻲَ ﺇِﻟَﻲَّ ﻭَﻟَﻢْ ﻳُﻮﺡَ ﺇِﻟَﻴْﻪِ ﺷَﻲْﺀٌ { ‏[ ﺍﻷﻧﻌﺎﻡ : ٩٣ ‏] ‏[ ﺹ : ٤٠٦ ‏] ﺇِﻟَﻰ ﻗَﻮْﻟِﻪِ : } ﺗُﺠْﺰَﻭْﻥَ ﻋَﺬَﺍﺏَ ﺍﻟْﻬُﻮﻥِ { ‏[ ﺍﻷﻧﻌﺎﻡ : ٩٣ ‏] ﻗَﺎﻝَ : ﻧَﺰَﻟَﺖْ ﻓِﻲ ﻋَﺒْﺪِ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺑْﻦِ ﺳَﻌْﺪِ ﺑْﻦِ ﺃَﺑِﻲ ﺳَﺮْﺡٍ، ﺃَﺳْﻠَﻢَ ﻭَﻛَﺎﻥَ ﻳَﻜْﺘُﺐُ ﻟِﻠﻨَّﺒِﻲِّ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ، ﻓَﻜَﺎﻥَ ﺇِﺫَﺍ ﺃَﻣْﻠَﻰ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ‏« ﺳَﻤِﻴﻌًﺎ ﻋَﻠِﻴﻤًﺎ ‏» ﻛَﺘَﺐَ ﻫُﻮَ : ‏« ﻋَﻠِﻴﻤًﺎ ﺣَﻜِﻴﻤًﺎ ‏» ، ﻭَﺇِﺫَﺍ ﻗَﺎﻝَ : ‏« ﻋَﻠِﻴﻤًﺎ ﺣَﻜِﻴﻤًﺎ ‏» ﻛَﺘَﺐَ : ‏« ﺳَﻤِﻴﻌًﺎ ﻋَﻠِﻴﻤًﺎ ‏» ، ﻓَﺸَﻚَّ ﻭَﻛَﻔَﺮَ ﻭَﻗَﺎﻝَ : ﺇِﻥْ ﻛَﺎﻥَ ﻣُﺤَﻤَّﺪٌ ﻳُﻮﺣَﻰ ﺇِﻟَﻴْﻪِ ﻓَﻘَﺪْ ﺃُﻭﺣِﻲَ ﺇِﻟَﻲَّ، ﻭَﺇِﻥْ ﻛَﺎﻥَ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻳُﻨْﺰِﻟُﻪُ ﻓَﻘَﺪْ ﺃَﻧْﺰَﻟْﺖُ ﻣِﺜْﻞَ ﻣَﺎ ﺃَﻧْﺰَﻝَ ﺍﻟﻠَّﻪُ، ﻗَﺎﻝَ ﻣُﺤَﻤَّﺪٌ : ‏( ﺳَﻤِﻴﻌًﺎ ﻋَﻠِﻴﻤًﺎ ‏) ، ﻓَﻘُﻠْﺖُ ﺃَﻧَﺎ : ‏( ﻋَﻠِﻴﻤًﺎ ﺣَﻜِﻴﻤًﺎ ‏) . ﻓَﻠَﺤِﻖَ ﺑِﺎﻟْﻤُﺸْﺮِﻛِﻴﻦَ، ﻭَﻭَﺷَﻰ ﺑِﻌَﻤَّﺎﺭٍ ﻭَﺟُﺒَﻴْﺮٍ ﻋِﻨْﺪَ ﺍﺑْﻦِ ﺍﻟْﺤَﻀْﺮَﻣِﻲِّ ﺃَﻭْ ﻟِﺒَﻨِﻲ ﻋَﺒْﺪِ ﺍﻟﺪَّﺍﺭِ، ﻓَﺄَﺧَﺬُﻭﻫُﻢْ ﻓَﻌُﺬِّﺑُﻮﺍ ﺣَﺘَّﻰ ﻛَﻔَﺮُﻭﺍ، ﻭَﺟُﺪِﻉَ ﺃُﺫُﻥُ ﻋَﻤَّﺎﺭٍ ﻳَﻮْﻣَﺌِﺬٍ، ﻓَﺎﻧْﻄَﻠَﻖَ ﻋَﻤَّﺎﺭٌ ﺇِﻟَﻰ ﺍﻟﻨَّﺒِﻲِّ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ، ﻓَﺄَﺧْﺒَﺮَﻩُ ﺑِﻤَﺎ ﻟَﻘِﻲَ ﻭَﺍﻟَّﺬِﻱ ﺃَﻋْﻄَﺎﻫُﻢْ ﻣِﻦَ ﺍﻟْﻜُﻔْﺮِ، ﻓَﺄَﺑَﻰ ﺍﻟﻨَّﺒِﻲُّ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ ﺃَﻥْ ﻳَﺘَﻮَﻟَّﺎﻩُ، ﻓَﺄَﻧْﺰَﻝَ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻓِﻲ ﺷَﺄْﻥِ ﺍﺑْﻦِ ﺃَﺑِﻲ ﺳَﺮْﺡٍ ﻭَﻋَﻤَّﺎﺭٍ ﻭَﺃَﺻْﺤَﺎﺑِﻪِ : } ﻣَﻦْ ﻛَﻔَﺮَ ﺑِﺎﻟﻠَّﻪِ ﻣِﻦْ ﺑَﻌْﺪِ ﺇِﻳﻤَﺎﻧِﻪِ ﺇِﻟَّﺎ ﻣَﻦْ ﺃُﻛْﺮِﻩَ ﻭَﻗَﻠْﺒُﻪُ ﻣُﻄْﻤَﺌِﻦٌّ ﺑِﺎﻟْﺈِﻳﻤَﺎﻥِ ﻭَﻟَﻜِﻦْ ﻣَﻦْ ﺷَﺮَﺡَ ﺑِﺎﻟْﻜُﻔْﺮِ ﺻَﺪْﺭًﺍ { ‏[ ﺍﻟﻨﺤﻞ : ١٠٦ ‏] ، ﻓَﺎﻟَّﺬِﻱ ﺃُﻛْﺮِﻩَ ﻋَﻤَّﺎﺭٌ ﻭَﺃَﺻْﺤَﺎﺑُﻪُ، ﻭَﺍﻟَّﺬِﻱ ﺷَﺮَﺡَ ﺑِﺎﻟْﻜُﻔْﺮِ ﺻَﺪْﺭًﺍ ﻓَﻬُﻮَ ﺍﺑْﻦُ ﺃَﺑِﻲ ﺳَﺮْﺡٍ ﻭَﻗَﺎﻝَ ﺁﺧَﺮُﻭﻥَ : ﺑَﻞِ ﺍﻟْﻘَﺎﺋِﻞُ : } ﺃُﻭﺣِﻲَ ﺇِﻟَﻲَّ ﻭَﻟَﻢْ ﻳُﻮﺡَ ﺇِﻟَﻴْﻪِ ﺷَﻲْﺀٌ { ‏[ ﺍﻷﻧﻌﺎﻡ : ٩٣ ‏] ﻣُﺴَﻴْﻠِﻤَﺔُ ﺍﻟْﻜَﺬَّﺍﺏُ

Sunan Abi Dawud:
٣٧٩٢ – ﺣَﺪَّﺛَﻨَﺎ ﺃَﺣْﻤَﺪُ ﺑْﻦُ ﻣُﺤَﻤَّﺪٍ ﺍﻟْﻤَﺮْﻭَﺯِﻱُّ ﺣَﺪَّﺛَﻨَﺎ ﻋَﻠِﻲُّ ﺑْﻦُ ﺍﻟْﺤُﺴَﻴْﻦِ ﺑْﻦِ ﻭَﺍﻗِﺪٍ ﻋَﻦْ ﺃَﺑِﻴﻪِ ﻋَﻦْ ﻳَﺰِﻳﺪَ ﺍﻟﻨَّﺤْﻮِﻱِّ ﻋَﻦْ ﻋِﻜْﺮِﻣَﺔَ ﻋَﻦْ ﺍﺑْﻦِ ﻋَﺒَّﺎﺱٍ ﻗَﺎﻝَ ﻛَﺎﻥَ ﻋَﺒْﺪُ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺑْﻦُ ﺳَﻌْﺪِ ﺑْﻦِ ﺃَﺑِﻲ ﺳَﺮْﺡٍ ﻳَﻜْﺘُﺐُ ﻟِﺮَﺳُﻮﻝِ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ ﻓَﺄَﺯَﻟَّﻪُ ﺍﻟﺸَّﻴْﻄَﺎﻥُ ﻓَﻠَﺤِﻖَ ﺑِﺎﻟْﻜُﻔَّﺎﺭِ ﻓَﺄَﻣَﺮَ ﺑِﻪِ ﺭَﺳُﻮﻝُ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ ﺃَﻥْ ﻳُﻘْﺘَﻞَ ﻳَﻮْﻡَ ﺍﻟْﻔَﺘْﺢِ ﻓَﺎﺳْﺘَﺠَﺎﺭَ ﻟَﻪُ ﻋُﺜْﻤَﺎﻥُ ﺑْﻦُ ﻋَﻔَّﺎﻥَ ﻓَﺄَﺟَﺎﺭَﻩُ ﺭَﺳُﻮﻝُ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ

Tafsir al-Qurtubi:
ﻗَﻮْﻟُﻪُ ﺗَﻌَﺎﻟَﻰ : ‏( ﻭَﻣَﻦْ ﻗﺎﻝَ ﺳَﺄُﻧْﺰِﻝُ ﻣِﺜْﻞَ ﻣَﺎ ﺃَﻧْﺰَﻝَ ﺍﻟﻠَّﻪُ ‏) ” ﻣَﻦْ ” ﻓِﻲ ﻣَﻮْﺿِﻊِ ﺧَﻔْﺾٍ، ﺃَﻱْ ﻭَﻣَﻦْ ﺃَﻇْﻠَﻢُ ﻣِﻤَّﻦْ ﻗَﺎﻝَ ﺳَﺄُﻧْﺰِﻝُ، ﻭَﺍﻟْﻤُﺮَﺍﺩُ ﻋَﺒْﺪُ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺑْﻦُ ﺃَﺑِﻲ ﺳَﺮْﺡٍ ﺍﻟَّﺬِﻱ ﻛَﺎﻥَ ﻳَﻜْﺘُﺐُ ﺍﻟْﻮَﺣْﻲَ ﻟِﺮَﺳُﻮﻝِ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ، ﺛُﻢَّ ﺍﺭْﺗَﺪَّ ﻭَﻟَﺤِﻖَ ﺑِﺎﻟْﻤُﺸْﺮِﻛِﻴﻦَ . ﻭَﺳَﺒَﺐُ ﺫَﻟِﻚَ ﻓِﻴﻤَﺎ ﺫَﻛَﺮَ ﺍﻟْﻤُﻔَﺴِّﺮُﻭﻥَ ﺃَﻧَّﻪُ ﻟَﻤَّﺎ ﻧَﺰَﻟَﺖِ ﺍﻟْﺂﻳَﺔُ ﺍﻟَّﺘِﻲ ﻓِﻲ ” ﺍﻟْﻤُﺆْﻣِﻨُﻮﻥَ ”:” ﻭَﻟَﻘَﺪْ ﺧَﻠَﻘْﻨَﺎ ﺍﻟْﺈِﻧْﺴﺎﻥَ ﻣِﻦْ ﺳُﻼﻟَﺔٍ ﻣِﻦْ ﻃِﻴﻦٍ ‏« ١ ‏» ” ﺩَﻋَﺎﻩُ ﺍﻟﻨَّﺒِﻲُّ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ ﻓَﺄَﻣْﻠَﺎﻫَﺎ ﻋَﻠَﻴْﻪِ، ﻓَﻠَﻤَّﺎ ﺍﻧْﺘَﻬَﻰ ﺇِﻟَﻰ ﻗَﻮْﻟِﻪِ ” ﺛُﻢَّ ﺃَﻧْﺸَﺄْﻧﺎﻩُ ﺧَﻠْﻘﺎً ﺁﺧَﺮَ ” ﻋَﺠِﺐَ ﻋَﺒْﺪُ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﻓِﻲ ﺗَﻔْﺼِﻴﻞِ ﺧَﻠْﻖِ ﺍﻟْﺈِﻧْﺴَﺎﻥِ ﻓَﻘَﺎﻝَ ”: ﻓَﺘَﺒﺎﺭَﻙَ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﺃَﺣْﺴَﻦُ ﺍﻟْﺨﺎﻟِﻘِﻴﻦَ .” ﻓَﻘَﺎﻝَ ﺭَﺳُﻮﻝُ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ : ‏( ﻭَﻫَﻜَﺬَﺍ ﺃُﻧْﺰِﻟَﺖْ ﻋَﻠَﻲَّ ‏) ﻓَﺸَﻚَّ ﻋَﺒْﺪُ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺣِﻴﻨَﺌِﺬٍ ﻭَﻗَﺎﻝَ : ﻟَﺌِﻦْ ﻛَﺎﻥَ ﻣُﺤَﻤَّﺪٌ ﺻَﺎﺩِﻗًﺎ ﻟﻘﺪ ﺃﻭﺣﻲ ﺇﻟﻰ ﻛﻤﺎ ﺃﻭﺣﻰ ﺇﻟﻴﻪ ﻭﻟﻴﻦ ﻛَﺎﻥَ ﻛَﺎﺫِﺑًﺎ ﻟَﻘَﺪْ ﻗُﻠْﺖُ ﻛَﻤَﺎ ﻗَﺎﻝَ . ﻓَﺎﺭْﺗَﺪَّ ﻋَﻦِ ﺍﻟْﺈِﺳْﻠَﺎﻡِ ﻭَﻟَﺤِﻖَ ﺑِﺎﻟْﻤُﺸْﺮِﻛِﻴﻦَ، ﻓَﺬَﻟِﻚَ ﻗَﻮْﻟُﻪُ ”: ﻭَﻣَﻦْ ﻗﺎﻝَ ﺳَﺄُﻧْﺰِﻝُ ﻣِﺜْﻞَ ﻣَﺎ ﺃَﻧْﺰَﻝَ ﺍﻟﻠَّﻪُ ” ﺭَﻭَﺍﻩُ ﺍﻟْﻜَﻠْﺒِﻲُّ ﻋَﻦِ ﺍﺑْﻦِ ﻋَﺒَّﺎﺱٍ . ﻭَﺫَﻛَﺮَﻩُ ﻣُﺤَﻤَّﺪُ ﺑْﻦُ ﺇِﺳْﺤَﺎﻕَ ﻗَﺎﻝَ ﺣَﺪَّﺛَﻨِﻲ ﺷُﺮَﺣْﺒِﻴﻞُ ﻗَﺎﻝَ : ﻧَﺰَﻟَﺖْ ﻓِﻲ ﻋَﺒْﺪُ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺑْﻦُ ﺳَﻌْﺪِ ﺑْﻦِ ﺃَﺑِﻲ ﺳَﺮْﺡٍ ” ﻭَﻣَﻦْ ﻗﺎﻝَ ﺳَﺄُﻧْﺰِﻝُ ﻣِﺜْﻞَ ﻣَﺎ ﺃَﻧْﺰَﻝَ ﺍﻟﻠَّﻪُ ” ﺍﺭْﺗَﺪَّ ﻋَﻦِ ﺍﻟْﺈِﺳْﻠَﺎﻡِ، ﻓَﻠَﻤَّﺎ ﺩَﺧَﻞَ ﺭَﺳُﻮﻝُ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ ﻣَﻜَّﺔَ ﺃَﻣَﺮَ ﺑِﻘَﺘْﻠِﻪِ ﻭَﻗَﺘْﻞِ ﻋَﺒْﺪِ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺑْﻦِ ﺧَﻄَﻞٍ ﻭَﻣَﻘِﻴﺲِ ﺑْﻦِ ﺻُﺒَﺎﺑَﺔَ ﻭَﻟَﻮْ ﻭُﺟِﺪُﻭﺍ ﺗَﺤْﺖَ ﺃَﺳْﺘَﺎﺭِ ﺍﻟْﻜَﻌْﺒَﺔِ، ﻓَﻔَﺮَّ ﻋَﺒْﺪُ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺑْﻦُ ﺃَﺑِﻲ ﺳَﺮْﺡٍ ﺇِﻟَﻰ ﻋُﺜْﻤَﺎﻥَ ﺭَﺿِﻲَ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻋَﻨْﻪُ، ﻭَﻛَﺎﻥَ ﺃَﺧَﺎﻩُ ﻣِﻦَ ﺍﻟﺮَّﺿَﺎﻋَﺔِ، ﺃَﺭْﺿَﻌَﺖْ ﺃُﻣُّﻪُ ﻋُﺜْﻤَﺎﻥَ، ﻓَﻐَﻴَّﺒَﻪُ ﻋُﺜْﻤَﺎﻥُ ﺣَﺘَّﻰ ﺃَﺗَﻰ ﺑِﻪِ ﺭَﺳُﻮﻝُ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ ﺑَﻌْﺪَ ﻣَﺎ ﺍﻃْﻤَﺄَﻥَّ ﺃَﻫْﻞُ ﻣَﻜَّﺔَ ﻓَﺎﺳْﺘَﺄْﻣَﻨَﻪُ ﻟَﻪُ، ﻓَﺼَﻤَﺖَ ﺭَﺳُﻮﻝُ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ ﻃَﻮِﻳﻠًﺎ ﺛُﻢَّ ﻗَﺎﻝَ : ‏( ﻧَﻌَﻢْ ‏) . ﻓَﻠَﻤَّﺎ ﺍﻧْﺼَﺮَﻑَ ﻋُﺜْﻤَﺎﻥُ ﻗَﺎﻝَ ﺭَﺳُﻮﻝُ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ : ‏( ﻣَﺎ ﺻَﻤَﺖُّ ﺇِﻟَّﺎ ﻟِﻴَﻘُﻮﻡَ ﺇِﻟَﻴْﻪِ ﺑَﻌْﻀُﻜُﻢْ ﻓَﻴَﻀْﺮِﺏَ ﻋﻨﻘﻪ ‏) . ﻓﻘﺎﻝ ﺭﺟﻞ ﻣﻦ ﺍﻷﻧﺼﺎﺭ : ﻓﻬﻼ ﺃﻭ ﻣﺎﺕ ﺇِﻟَﻲَّ ﻳَﺎ ﺭَﺳُﻮﻝَ ﺍﻟﻠَّﻪِ؟ ﻓَﻘَﺎﻝَ : ‏( ﺇِﻥَّ ﺍﻟﻨَّﺒِﻲَّ ﻟَﺎ ﻳَﻨْﺒَﻐِﻲ ﺃَﻥْ ﺗَﻜُﻮﻥَ ﻟَﻪُ ﺧَﺎﺋِﻨَﺔُ ﺍﻟْﺄَﻋْﻴُﻦِ ‏« ٢ ‏» . ﻗَﺎﻝَ ﺃَﺑُﻮ ﻋُﻤَﺮَ : ﻭَﺃَﺳْﻠَﻢَ ﻋَﺒْﺪُ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺑْﻦُ ﺳَﻌْﺪِ ﺑْﻦِ ﺃَﺑِﻲ ﺳَﺮْﺡٍ ﺃَﻳَّﺎﻡَ ﺍﻟْﻔَﺘْﺢِ ﻓَﺤَﺴُﻦَ ﺇِﺳْﻠَﺎﻣُﻪُ، ﻭَﻟَﻢْ ﻳَﻈْﻬَﺮْ ﻣِﻨْﻪُ ﻣَﺎ ﻳُﻨْﻜَﺮُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﺑَﻌْﺪَ ﺫَﻟِﻚَ . ﻭَﻫُﻮَ ﺃَﺣَﺪُ ﺍﻟﻨُّﺠَﺒَﺎﺀِ ﺍﻟْﻌُﻘَﻠَﺎﺀِ ﺍﻟْﻜُﺮَﻣَﺎﺀِ ﻣِﻦْ ﻗُﺮَﻳْﺶٍ، ﻭَﻓَﺎﺭِﺱُ ﺑَﻨِﻲ ﻋَﺎﻣِﺮِ ﺑْﻦِ ﻟُﺆَﻱٍّ ﺍﻟْﻤَﻌْﺪُﻭﺩُ ﻓِﻴﻬِﻢْ، ﺛُﻢَّ ﻭَﻟَّﺎﻩُ ﻋُﺜْﻤَﺎﻥُ ﺑَﻌْﺪَ ﺫَﻟِﻚَ ﻣِﺼْﺮَ ﺳَﻨَﺔَ ﺧَﻤْﺲٍ ﻭَﻋِﺸْﺮِﻳﻦَ . ﻭَﻓُﺘِﺢَ ﻋَﻠَﻰ ﻳَﺪَﻳْﻪِ ﺇِﻓْﺮِﻳﻘِﻴَّﺔُ ﺳَﻨَﺔَ ﺳَﺒْﻊٍ ﻭَﻋِﺸْﺮِﻳﻦَ، ﻭَﻏَﺰَﺍ ﻣِﻨْﻬَﺎ ﺍﻟْﺄَﺳَﺎﻭِﺩَ ﻣِﻦْ ﺃَﺭْﺽِ ﺍﻟﻨُّﻮﺑَﺔِ ﺳَﻨَﺔَ ﺇِﺣْﺪَﻯ ﻭَﺛَﻠَﺎﺛِﻴﻦَ، ﻭَﻫُﻮَ ﻫﺎﺩﻧﻬﻢ ﺍﻟﻬﺪﻧﺔ ﺍﻟﺒﺎﻗﻴﺔ ﺇﻟﻰ ﺍﻟﻴﻮﻡ .
ﻭَﻏَﺰَﺍ ﺍﻟﺼَّﻮَﺍﺭِﻱَ ‏« ١ ‏» ﻣِﻦْ ﺃَﺭْﺽِ ﺍﻟﺮُّﻭﻡِ ﺳَﻨَﺔَ ﺃَﺭْﺑَﻊٍ ﻭَﺛَﻠَﺎﺛِﻴﻦَ، ﻓَﻠَﻤَّﺎ ﺭَﺟَﻊَ ﻣِﻦْ ﻭِﻓَﺎﺩَﺍﺗِﻪِ ﻣَﻨَﻌَﻪُ ﺍﺑْﻦُ ﺃَﺑِﻲ ﺣُﺬَﻳْﻔَﺔَ ﻣِﻦْ ﺩُﺧُﻮﻝِ ﺍﻟْﻔُﺴْﻄَﺎﻁِ، ﻓَﻤَﻀَﻰ ﺇِﻟَﻰ ﻋَﺴْﻘَﻠَﺎﻥَ، ﻓَﺄَﻗَﺎﻡَ ﻓِﻴﻬَﺎ ﺣَﺘَّﻰ ﻗُﺘِﻞَ ﻋُﺜْﻤَﺎﻥُ ﺭَﺿِﻲَ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻋَﻨْﻪُ . ﻭَﻗِﻴﻞَ : ﺑَﻞْ ﺃَﻗَﺎﻡَ ﺑِﺎﻟﺮَّﻣْﻠَﺔِ ﺣَﺘَّﻰ ﻣَﺎﺕَ ﻓَﺎﺭًّﺍ ﻣِﻦَ ﺍﻟْﻔِﺘْﻨَﺔِ . ﻭَﺩَﻋَﺎ ﺭَﺑَّﻪُ ﻓَﻘَﺎﻝَ : ﺍﻟﻠَّﻬُﻢَّ ﺍﺟْﻌَﻞْ ﺧَﺎﺗِﻤَﺔَ ﻋَﻤَﻠِﻲ ﺻَﻠَﺎﺓَ ﺍﻟﺼُّﺒْﺢِ، ﻓَﺘَﻮَﺿَّﺄَ ﺛُﻢَّ ﺻَﻠَّﻰ ﻓَﻘَﺮَﺃَ ﻓِﻲ ﺍﻟﺮَّﻛْﻌَﺔِ ﺍﻟْﺄُﻭﻟَﻰ ﺑِﺄُﻡِّ ﺍﻟْﻘُﺮْﺁﻥِ ﻭَﺍﻟْﻌَﺎﺩِﻳَﺎﺕِ ‏« ٢ ‏» ، ﻭَﻓِﻲ ﺍﻟﺜَّﺎﻧِﻴَﺔِ ﺑِﺄُﻡِّ ﺍﻟْﻘُﺮْﺁﻥِ ﻭَﺳُﻮﺭَﺓٍ، ﺛُﻢَّ ﺳَﻠَّﻢَ ﻋَﻦْ ﻳَﻤِﻴﻨِﻪِ، ﺛُﻢَّ ﺫَﻫَﺐَ ﻳُﺴَﻠِّﻢُ ﻋَﻦْ ﻳَﺴَﺎﺭِﻩِ ﻓَﻘَﺒَﺾَ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﺭُﻭﺣَﻪُ . ﺫَﻛَﺮَ ﺫَﻟِﻚَ ﻛُﻠَّﻪُ ﻳَﺰِﻳﺪُ ﺑْﻦُ ﺃَﺑِﻲ ﺣَﺒِﻴﺐٍ ﻭَﻏَﻴْﺮُﻩُ . ﻭَﻟَﻢْ ﻳُﺒَﺎﻳِﻊْ ﻟِﻌَﻠِﻲٍّ ﻭَﻟَﺎ ﻟِﻤُﻌَﺎﻭِﻳَﺔَ ‏( ﺭَﺿِﻲَ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻋَﻨْﻬُﻤَﺎ ‏) ‏« ٣ ‏» . ﻭَﻛَﺎﻧَﺖْ ﻭَﻓَﺎﺗُﻪُ ﻗَﺒْﻞَ ﺍﺟْﺘِﻤَﺎﻉِ ﺍﻟﻨَّﺎﺱِ ﻋَﻠَﻰ ﻣُﻌَﺎﻭِﻳَﺔَ . ﻭَﻗِﻴﻞَ : ﺇِﻧَّﻪُ ﺗُﻮُﻓِّﻲَ ﺑِﺈِﻓْﺮِﻳﻘِﻴَّﺔَ . ﻭَﺍﻟﺼَّﺤِﻴﺢُ ﺃَﻧَّﻪُ ﺗُﻮُﻓِّﻲَ ﺑِﻌَﺴْﻘَﻠَﺎﻥَ ﺳَﻨَﺔَ ﺳِﺖٍّ ﺃَﻭْ ﺳَﺒْﻊٍ ﻭَﺛَﻠَﺎﺛِﻴﻦَ . ﻭَﻗِﻴﻞَ : ﺳَﻨَﺔَ ﺳِﺖٍّ ﻭَﺛَﻠَﺎﺛِﻴﻦَ

(Data diolah dari fiqhmebjawab.com)

Iklan

About serambimata

Terus menulis

Posted on 11 April 2018, in Agama and tagged , , , , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: