Iklan

Harapan Kaum Difabel akan Kehadiran Masjid Ramah Disabilitas di Situbondo

Diskusi tentang “Masjid Ramah Disabilitas” bersama Persatuan Penyandang Disabiltas Situbondo (PPDI) Situbondo

Serambimata.com – Ada rasa bangga, haru sekaligus sedih campur aduk jadi satu, disaat saya berada di tengah-tengah komunitas kaum difabel yang tergabung di dalam Persatuan Penyandang Disabilitas Indonesia (PPDI), Jumat (01/06/2018). Bangga karena meskipun dicipta dengan kondisi fisik tak sempurna mereka memiliki semangat hidup luar biasa untuk terus berbuat dan menebar manfaat bagi dirinya dan orang lain. Haru karena dapat melihat langsung kebersamaan mereka dalam ikatan kekeluargaan yang begitu kuat dan erat tapi sekaligus sedih disaat mendengar curahan isi hati mereka ketika tak jarang mereka diperlakukan tidak adil, dikucilkan serta sikap diskriminatif lainnya.

Saya yang hadir mewakili Dewan Masjid Indonesia (DMI) Situbondo dalam diskusi yang bertajuk “Masjid Ramah Disabilitas” mendengar keluh kesah dan harapan mereka untuk dapat mengakses masjid dan dapat beribadah di dalamnya tanpa perbedaan perlakuan serta tersedianya fasilitas beribadah khusus mereka para penyandang disabilitas.

”Saya masih ingat disaat saya pernah singgah di salah satu masjid untuk sholat. Saya yang hanya bisa berdiri dan berjalan dengan tongkat kruk dilarang masuk ke dalam masjid, karena tongkat kayu saya dianggap tidak suci. Meskipun saya sudah jelaskan kalau tongkat itu adalah juga kaki saya sehingga pasti sudah dibasuh dan disucikan ketika berwudhu’. Tapi tetap saja alasan itu ditolak sehingga akhirnya terpaksa saya sholat di emperan masjid”, kisah Luluk, ketua PPDI Situbondo.

Tidak hanya itu, kisah sedih lainnya juga pernah dialami penyandang netra (mereka tidak mau disebut “tuna” karena tuna itu bermakna rusak, cukup netra, tuli atau daksa) yang bingung arah kiblat disaat ia hendak sholat di salah satu masjid. Yang membuat terenyuh, tidak ada satupun jamaah yang membantu menunjukkan arah kiblat kepadanya.

Lain halnya dengan A. Rafiq, pria penyandang tuli yang sangat aktif dan antusias mengikuti diskusi sore itu justru menanyakan soal hukum Islam.

”Bagaimana hukumnya melaksanakan sholat jumat tapi tak paham isi khotbahnya karena kita tak bisa mendengar”, tanya pria asal Asembagus dengan bahasa isyarat dibantu penerjemah.

Sebagian anggota PPDI Situbondo

Acara yang dimulai sekitar pukul 16.00 wib itu berlangsung gayeng. Para penyandang disabilitas sangat berharap banyak kepada DMI Situbondo untuk melakukan pendampingan tidak hanya dapat mewujudkan masjid ramah disabilitas yang menyediakan fasilitas dan sarana ibadah seperti tempat wudhu’ dan tangga khusus, penerjamah, dan Al Qur’an Braile, mereka juga berharap ada buku panduan fiqih disabilitas yang bisa dijadikan panduan dalam beribadah bagi kaum difabel.

Dalam diskusi yang ditutup dengan buka bersama tersebut, dihadiri para relawan, perwakilan guru Sekolah Luar Biasa (SLB) dan forum anak. Relawan yang selama ini melakukan pendampingan terhadap kaum difabel berharap agar pemerintah daerah betul-betul memberikan perhatian khusus kepada mereka karena sudah ada Perda yang mengaturnya. Sementara dari perwakilan guru SLB berharap agar DMI membantu mensosialilasikan kepada masjid-masjid baik lisan maupun tertulis agar menyediakan sarana dan fasilitas untuk kaum difabel, setidaknya tidak ada lagi perlakuan diskriminasi terhadap kaum difabel. (Hans)

Iklan

About serambimata

Terus menulis

Posted on 2 Juni 2018, in Sosial and tagged , , , , , , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: