Iklan

Shalawat Bhenning, Seni Sakral KHR Ahmad Azaim Ibrahimy

Oleh: Gus M. Cholil Abdul Jalil*)

Serambimata.com – Besok malam tepatnya selasa malam Rabu 3 Juli 2018 di lapangan Rong Laok Sukorejo akan dilaksanakan Halal Bihalal bertemakan “Taburkan Maaf, Sucikan Hati” bersama KHR Ahmad Azaim Ibrahimy, Jam’iyah Shalawat Bhenning dan Teatrikal Tahlil Bhenning Budaya. Saya teringat, Kira-kira 2016 kebelakang, konser dangdut dan pop melayu marak dijadikan tontonan masyarakat Situbondo.

Tontonan tersebut menyihir sebagian masyarakat utamanya kaum muda untuk tidak ketinggalan menikmati indahnya seni musik. Namun demikian, pada tahun 2017 hingga saat ini 2018 masyarakat lebih banyak terlihat berbondong-bondong menghadiri acara Shalawatan. Salah satunya adalah Shalawatan yang dipimpin oleh KHR Ahmad Azaim Ibrahimy.

Fenomena apakah ini?
Terjadi pergeseran makna keindahan di tengah-tengah masyarakat. Masyarakat mulai meninggalkan seni profan (seni yang tidak ada kaitannya dengan unsur-unsur religiusitas). Masyarakat kemudian lebih condong untuk menikmati seni sakral (seni yang mengandung unsur-unsur Keindahan religius). Pergeseran itu, tanpa mengurangi rasa hormat penulis terhadap peran dan jasa-jasa ulama Situbondo lainnya, juga merupakan pengaruh KHR Ahmad Azaim Ibrahimy, Pengasuh IV Pondok Pesantren Salafiyah Syafiiyah Sukorejo tersebut, melalui Jam’iyah Shalawat bhenning, memperkenalkan seni sakral kepada masyarakat Situbondo yang kemudian dikenal dengan Shalawat Bhenning.

Apakah Jam’iyah Shalawat Bhenning itu?
Di satu sisi, Jam’iyah Shalawat bhenning adalah group Shalawat yang substansinya tidak jauh berbeda dengan group Shalawat pada umumnya seperti Jam’iyah Shalawat Riyadhul Jannah, Jam’iyah Shalawat yang dilantunkan Habib Syech bin Abdul Qodir Asseggaf, Kiyai Kanjeng yang dipimpin Cak Nun dan Grup-grup shalawat sejenis. Di sisi lain, Jam’iyah Shalawat Bhenning yang memiliki ribuan Bhenning mania ini mempunyai khas dan keunikan pada kemasan dan susunan acaranya, lebih-lebih dimasukkannya renungan religius dan Teatrikal Drama yang memiliki pesan moral kebangsaan dan keagamaan sekaligus kritik terhadap realitas masyarakat yang mulai terbawa arus materialisme dan laju Globalisasi.

Dimanakah keindahannya?
Jam’iyah Shalawat Bhenning dengan segala personel dan seragamnya, perangkat, tata panggung, pembawa acara yang lincah membawa suasana audien dan vokalisnya yang piawai dalam melantunkan lagu-lagu religi memiliki Keindahan baik pada dirinya (fi dzatihi), atau karena lainnya (li ghairihi) yaitu kehadiran KHR Ahmad Azaim Ibrahimy dalam event-event dimana Shalawat Bhenning hadir di tengah-tengah masyarakat.

Bagaimanakah keindahannya?
Penampilan Shalawat Bhenning memiliki level keindahan estetis yang menurut penulis melebihi seni profan pada umumnya. Setidaknya ada 4 level keindahan yang dapat dinikmati oleh pecinta Jam’iyah Shalawat Bhenning:

1) Keindahan hissiyah, Keindahan hissiyah adalah Keindahan inderawiyah, Keindahan ini biasanya dinikmati oleh panca indera, nata, telinga, dll. Pada event-event Shalawat Bhenning, telinga penonton dapat menikmati indahnya alunan merdu shalawat dan lagu-lagu religius yang dibawakan oleh vokalis dan jenakanya pantun-pantun yang dibawakan oleh pembawa acara. Begitu juga, Mata penonton bisa-bisa dibuat tidak berkedip melihat tata lampu, indahnya panggung, dan ganteng serta imutnya personel group Shalawat Bhenning, lebih-lebih saat melihat teduh dan sejuknya wajah Pengasuh IV Pondok Pesantren Salafiyah Syafiiyah tersebut.

2) Keindahan Nafsiyah, keindahan nafsiyah adalah keindahan emosional. Keindahan emosional merupakan kelanjutan dari keindahan inderawiyah. keindahan emosional berawal dari keindahan inderawiyah yang merasuki emosi penonton, keindahan ini tidak bisa diketahui secara pasti kecuali oleh penonton itu sendiri. Merekalah yang tahu bagaimana emosinya terutama saat memandang Ahmad Azaim Ibrahimy, tiba-tiba muncul rasa kagum, senang, bahagia, dsb. Begitu pula dalam menikmati bacaan shalawat, cara mudah mengetahui apakah penonton secara emosional menikmati keindahan performance atau tidak adalah saat melihat para pecinta shalawat ini secara alamiyah mulai menggerakkan kepala dan badannya laksana orang berdzikir dan tergeraknya lisan untuk mengikuti alunan shalawat. Pada saat itu, sebenarnya dia tidak sadar kalau emosinya terbawa dalam lagu-lagu yang dibawakan.

3) Keindahan Aqliyah, keindahan Aqliyah adalah keindahan intelektualitas. Pada biasanya intelektualitas dikesankan hanya di dunia sekolah atau kampus melalui seminar, dialog, orasi Ilmiyah dll. Keindahan intelektual bisa dinikmati utamanya saat mendengar tausiyah dari Ahmad Azaim Ibrahimy. Kyai Muda ini selain alim juga secara retorik sangat piawai dalam mengolah dan menyampaikan materi-materi sulit menjadi mudah dipahami masyarakat. Diakui atau tidak, ini merupakan anugerah yang tidak dimiliki semua pencari ilmu. Pecinta Jam’iyah Shalawat Bhenning dapat menikmati bagaimana pesan sejarah, fiqh, akhlaq dan tasawuf, dikemas dengan bahasa yang mudah.

4) Keindahan Ruhaniyah, keindahan ruhaniyah merupakan keindahan yang paling tinggi dibanding tiga keindahan di atas. Ada juga yang menyebut keindahan ruhaniyah tidak berbeda dengan keindahan religius, karena keindahan ini menyebabkan penikmat seni larut dalam penghayatan terhadap nilai-nilai agama. Keindahan ruhaniyah dalam Shalawat Bhenning lebih pada bagaimana seseorang bersambung secara spiritual dengan masyayikh, ulama’, auliya‘ dan para Nabi. Shalawat adalah sarana penyambung antara umat Islam, Nabi Muhammad saw dan Allah Rabbul alamain. Dalam sebuah hadits disebutkan,
من صلى علي مرة صلى الله عليه بها عشرا
“Barang siapa yang bershalawat kepadaku satu kali niscaya Allah bershalawat kepadanya 10 kali”.

Tidak luput pula, event ini membawa Pecinta Shalawat menghayati nilai-nilai kebangsaan dan keagamaan baik itu melalui drama teatrikal yang berselingan dengan soundtrack instrumental dan lagu-lagu religi, renungan dan do’a. Pada segmen inilah banyak penonton yang secara tidak sadar meneteskan air mata lebih-lebih pada saat Ahmad Azaim Ibrahimy menarasikan renungan-renungan refleksif-instrospektif dan doa penutup guna mengetuk hati para pecinta Shalawat.

*) Penulis adalah dosen di Universitas Ibrahimy dan ahlul bait PP. Salafiyah Syafiiyah Sukorejo. Saat ini sedang menempuh pendidikan doktoral di UIN Malang

Iklan

About serambimata

Terus menulis

Posted on 2 Juli 2018, in Agama, Budaya and tagged , , , , , , , . Bookmark the permalink. 1 Komentar.

  1. That’s amazing, the great article.

    Disukai oleh 1 orang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: