Iklan

Pernyataan Sang Hafidz Tentang Jokowi

Oleh : Dudung Nurullah Koswara
(Pendidik dan Politisi Pendidikan)

Serambimata.com – Dr. K.H. Muhammad Zainul Majdi, M.A atau yang akrab disapa Tuan Guru Bajang (TGB), memberikan pernyataan mengejutkan. Di era trend tagar ganti presiden, TGB seorang hafiz Qur’an, cucu kiyai besar menyiratkan dukungan pada Jokowi untuk dua periode.

Sosok TGB adalah sosok manusia istimewa. Selain hafiz, turunan ulama, penda’wah Ia pun termasuk generasi muda istimewa. Usia 36 tahun menjadi seorang gubernur. Ia adalah generasi muda yang mengalami jadi anggota DPR RI, menuju dua periode sebagai gubernur.

Tentu hal paling istimewa dari TGB adalah hafiz-nya. Ia hapal 30 juz Al Quran. Orang yang hafiz Qur’an adalah orang yang memiliki keistimewaan. Para penghafal Al-Quran sudah barang pasti selalu mendengarkan ayat-ayat Allah Swt, karena mereka selalu mengulang-ulang hafalan mereka di pagi, siang ataupun malamnya.

Mulut para hafiz sekaliber TGB selalu basah dengan lantunan ayat suci Al quran dan hangat dengan syiar. Ia adalah salah satu gubernur muda yang sangat kharismatik. Sahabat baiknya diantaranya Ustadz Aa Gym, Ustadz Abdul Somad dan sejumlah para kiyai.

TGB mengatakan “Suatu transfromasi enggak cukup hanya lima tahun, ketika periodisasi maksimal 10 tahun. Saya rasa sangat fair kita beri kesempatan beliau untuk kembali melanjutkan.” Ini sebuah pernyataan politik etis karena dihadapan Presidennya atau sebuah ungkapan jujur?

Melihat pernyataan selanjutnya yang TGB menjelaskan bahwa “Delapan kali beliau (Jokowi) ke NTB. Ini artinya beliau melihat di NTB ada gerak pembangunan kerja nyata untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat. Saya melihat beliau mau mengapresiasi orang-orang yang bekerja.” Ini sebuah ungkapan faktual dan jujur.

Seorang hafiz dipastikan pernyataannya jujur dan berniat menyampaikan kebenaran. Bahkan pernyataan TGB ini memang persis apa yang telah dilakukan Jokowi, termasuk ke Papua. Jokowi termasuk Presiden paling memperhatikan Papua dibanding Presiden yang lain. Bahkan dihadapan masyarakat Papua konon Presiden itu hanya ada dua. Jokowi dan Gus Dur.

Dalam perspektif orang Papua Presiden selain Jokowi dan Gus Dur adalah “Presiden Jawa.” Ini sebuah sindiran aspiratif dari rakyat Papua yang merasa dianaktirikan oleh rejim yang berkuasa. Kembali ke laptop. Pernyataan TGB “mendukung” Jokowi dua periode tentu sangat menyakitkan bagi maniak tagar ganti presiden.

Tidak enak didengar, menyakitkan dan menimbulkan curiga. Tidak kebayang kalau dukungan itu keluar dari mulut gubernur politisi partai non hafiz. Pasti akan mendapatkan cibiran dan dianggap cebonger. Saya saja sebagai pendidik yang bukan politisi partai banyak mendapat sanggahan ketika menjelaskan sisi baik Jokowi. Bahkan orang menduga Saya terlihat mendukung Jokowi karena dapat sepeda dan dapat photo dengannya. Meleset dugaan itu. Saya menulis tentang Jokowi saat Ia jadi Walikota Solo.

Sahabat pembaca ada ungkapan yang menyatakan bahwa pemimpin terpilih bukan berarti yang terbaik. Melainkan yang Tuhan pilih. Jokowi bisa saja bukan yang terbaik, bahkan tak pantas menurut lawan politiknya. Kalau Tuhan mengendaki bukan yang terbaik jadi pemimpin, kita tak dapat berbuat apa-apa. Suara rakyat suara Tuhan namun suara hujat bukan suara Tuhan.

Sebuah ungkapan lain mengatakan, “Bila jutaan orang menghujat kita, agar terhina dan jatuh tetapi Tuhan tidak menghendakinya tidak jatuh dan terhina, maka jutaan hujatan dan hinaan tidak mampu menjatuhkan. Selain hanya memperlihatkan kehinaan dan nafsu sang penghujat dan penghina.

Mari introsfeksi secara nasional tentang kepemimpinan nasional. Nah bagaimana bila TGB bersama sahabatnya para ulama Aa Gym, Abdul Somad dan bahkan Habieb Rizieq serta sejumlah ulama di negeri ini berbalik mendukung Jokowi. Apa sikap kita? Apakah para ulama dan para hafiz ini salah? Tentu tidak ini pilihan politik.

Waspadalah tidak ada kawan abadi dalam politik. Waspadalah semua manusia adalah moduser. Hampir semua manusia bermodus duniawi. Namun hati-hati ucapan para ulama dan para hafiz bukan ucapan sembarangan. Tentu menyimpan banyak kebenaran dibanding kebohongan dan orientasi politik lainnya. Modus ulama yang benar, semata-mata lillah.

#TGBuntukIndonesia
#Ulamaumara
#Gubernurhafidz

Iklan

About serambimata

Terus menulis

Posted on 8 Juli 2018, in Politik and tagged , , , , , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: