Iklan

Dan Pak Mahfud Pun Pulang…

Oleh: Denny Siregar*

Serambimata.com – Dramatis ! Itulah mungkin ungkapan yang tepat ketika Jokowi akhirnya mengumumkan KH Ma’ruf Amin sebagai cawapresnya.

Sampai pukul 4 sore tadi, nama Mahfud MD masih menguat sebagai calon terkuat. Dan itu dikonfirmasi banyak pihak yang kredibilitasnya tidak diragukan lagi.

Mahfud MD bahkan sudah berada di dekat lokasi acara, 100 meter dari restoran Plataran Menteng. Ia menunggu karena mendapat perintah untuk datang. Mahfud MD sudah berbaju putih sesuai instruksi Jokowi dan membawa kelengkapan lainnya. Apa yang kurang?

Yang kurang ternyata adalah ketakutan sebagian parpol terhadap sosok Mahfud MD…

Pada waktu awal memprediksi siapa calon wakil Jokowi yang cocok, saya menulis, “Yang tidak akan mengganggu peluang parpol di 2024”.

Dan ini saya tanyakan benar kepada para tokoh, “Benarkah pencalonan Mahfud MD tidak akan mengganggu di 2024? Bagaimana kansnya jika ternyata nanti dia menguat jadi capres ?” Mereka meyakinkan saya bahwa Mahfud bukan masalah.

Ternyata firasat saya benar adanya, meski sempat saya abaikan. Bahwa biar bagaimanapun, tahun 2019 ini dibiarkan menjadi tahun Jokowi karena sulit melawannya. Pertarungan sebenarnya ada di 2024 nanti, dimana calon-calon yang ada adalah “muka baru” parpol semua.

Dan posisi Mahfud MD sebagai cawapres Jokowi, akan sangat mengganggu jika namanya menguat di tahun 2024 kelak.
Karena itulah di menit-menit terakhir, beberapa parpol mendesak Jokowi untuk mengeluarkan Mahfud MD. Mereka ingin cawapres yang ada harus bukan ancaman bagi mereka ke depan nanti.

Akhirnya disepakatilah Kyai Maruf Amin, karena ia sudah berusia 71 tahun dan gak mungkin akan mencalonkan diri jadi Presiden di 2024 nanti. Sebuah pilihan yang menyenangkan parpol koalisi tapi menjadikan banyak orang kecewa melihatnya.

Ini seperti antiklimaks, dari semua semangat yang terkumpul di dada untuk bertarung. Ma’ruf Amin sama sekali bukan jawaban yang dinanti, karena publik lebih menyukai orang muda yang energik.

Dan ketika ditawarkan yang sudah aki-aki , publik serentak melenguh keras meninggalkan banyak pertanyaan di kepala, “Lha kok jadinya doi??”
Kita semua kecewa mempertanyakan keputusan Jokowi.

Tapi yang paling kecewa pasti Mahfud MD. Ia sudah bersiap-siap sejak siang tadi. “Ini panggilan sejarah. Ya saya diminta mendampingi dan saya Cawapres.” begitu kata Mahfud sebelumnya.

Saya kembali ke kafe tempat Mahfud berada sesudah deklarasi. Tidak tampak dirinya di sana dan orang-orangnya. Ia sudah pulang..

Yang tampak hanya gelas-gelas kopi yang belum sempat dibereskan, bercerita tentang kekecewaan yang besar.

Ah, begitulah. Politik itu dinamis, kata seseorang. Hanya secangkir kopi yang tetap setia pada kenikmatan..

*Denny Siregar, Penulis Buku “Tuhan dalam Secangkir Kopi”

Dari tagar.id

Iklan

About serambimata

Terus menulis

Posted on 9 Agustus 2018, in Politik and tagged , , , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: