Iklan

Kiai Afifuddin: Islam Nusantara adalah Bungkus dari Isi yang Lama

Serambimata.com – Wakil Pengasuh Pondok Pesantren Salafiyah Syafiiyah Sukorejo, Situbondo, KH. Afifuddin Muhajir, M.Ag, kembali menjadi pembicara dalam pembahasan seputar Islam Nusantara. Kali ini sosok yang akrab disapa Kiai Afif itu menjadi nara sumber pada acara Halaqoh yang di selenggarakan pengurus cabang NU Kota Tasikmalaya, Sabtu (31/08/2018) dengan tema “Islam Nusantara Perspektif Ushul Fikih”.

Dalam acara yang dihadiri seluruh pengurus NU Tasikmalaya mulai dari tingkat ranting hingga pengurus cabang, seluruh Banom NU dan pemerintah kota Tasikmalaya itu Kiai Afif menyampaikan bahwa esensi dari Islam Nusantara dapat dilihat dari dua hal.

Pertama, Islam nusantara secara konten/isi; merupakan pengamalan terhadap hukum-hukum fikih yang bersifat dinamis (mutagayyirat). Sudah maklum bahwa ada beberapa hukum-hukum fikih yang bisa berubah (mutagayyirat) sesuai dengan perubahan waktu dan tempat. Dalam sebuah kaidah dibutkan:

تغير الأحكام بتغير الْأزمان و الأمكنة و الأحوال

Hukum bisa berubah karena perubahan waktu, tempat dan kondisi.

Orang-orang Islam di Nusantara ini sudah lama mengamalkan hukum-hukum semacam ini seperti penerimaan asas tunggal pancasila sebagai dasar negara. Contoh lain misalkan, dulu Hadratussyaikh Hasyim Asy’ari pernah melarang jamaah haji Indonesia menunaikan haji menggunakan kapal milik Belanda karena pada saat itu Indonesia dijajah oleh Belanda. Sebaliknya, Islam Nusantara TIDAK BISA DI BERLAKUKAN TERHADAP HUKUM HUKUM FIQH YANG TAK BISA BERUBAH (tsawabit). Waktu dan tempat tidak bisa merubah shalat dan puasa seseorang.

Kedua, Islam Nusantara dilihat sebagai sebuah metode dakwah (manhaj ad-dakwah). Islam nusantara dijadikan sebagai sarana (wasilah) untuk mengajarkan atau menyebarluakan Islam secara santun dan berbasis kearifan lokal. Sebuah pola dakwah yang anti permusuhan, kekerasan dan pertumpahan darah. Pesatnya perkembangan Islam di Indoesia tidak bisa dilepaskan dari pola dan cara dakwah ulama yang sangat santun dan arif. Pola dakwah ang sesuai dengan spirit Alquran. Diakhir halaqah, Kiai Afif, memberikan sebuah kesimpulan bahwa Islam Nusantara adalah bungkus dari isi yang lama.

إسم جديد لمسمى قديم أو مظهر جديد لجوهر قديم

Umat Islam juga harus hati-hati karena ada oknum yang menyalahgunakan/merubah konsep Islam Nusantara sehingga terjadi perpecahan di tengah mesyarakat.

Sebelumnya acara halaqah, Kiai Afif dipertemukan secara khusus dengan pengurus dan anggota Ansor Tasikmalaya. Dalam pertemuan tersebut Kiai Afif menyerukan pentingnnya menjaga dan memperjuangkan peran penting NU dalam menjaga Islam Aswaja. Ajaran Islam yang dalam bidang fikih mengikuti mazhab yang empat. Dalam bidang akidah mengikuti Imam Asy’ari dan Imam Maturidi, sementara dalam bidang Tasawuf mengikuti Imam Abu Hamid Alghazali dan Imam Junaid Albaghdadi. Beliau menjelaskan bahwa Islam Ahlussunah wal Jama’ah (Aswaja) semacam ini juga telah dirumuskan dalam sebuah konferensi/muktamar Internasional di Ibu Kota Republik Cech pada tanggal 25-27 Agustus 2016. Muktamar yang dihadiri oleh lebih dari 200 ulama Aswaja sedunia dengan tema, “Siapa Ahlussunah wal Jama’ah?”

NU berperan juga sebagai penyanggah NKRI dengan ideologi Pancasila sebagai dasar negara. Dasar negara yang jelas-jelas sangat ampuh dapat memelihara dan menjaga kesatuan serta persatuan seluruh elemen rakyat Indonesia dengan beragam latarbelakang agama, budaya, suku dan ras. Dasar negara yang tidak dimiliki oleh negara-negara timur tengah sehingga terus menerus terjadi konflik dan peperangan yang tidak berkesudahan.

Selain itu, NU juga berperan sebagai pengawal moral masyarakat. Warga NU atau pengurus NU harus aktif memberikan uswah hasanah dan mauidhah hasanahbaik secara kultur dan struktur. Posisi-posisi strategis harus diisi oleh orang-orang baik, sehingga tercipta masyarakat dan pemerintahan yang madani.
Sementara itu, Wakil Mudir Ma’had Aly, KH. Muhyiddin Chotib yang ikut mendampingi Kiai Afifuddiu mengungkap impian Kiai Afif agar orang-orang yang selama ini menolak Islam Nusantara dapat menerimanya setelah menyimak pemikiran-pemikirannya.

“Alhamdulillah bisa mendapingi beliau di acara itu, Kiai Afif juga bilang andaikan orang-orang yang menolak Islam Nusantara ini ada yang hadir niscaya mereka akan mau menerima apa yang saya sampaikan. Walau gak dipungkiri bahwa ada sebagian orang yamg membelotkan arti Islam Nusantara dari yang sebenarnya, termasuk politisasi Islam Nusantara”, ungkap Dosen Ma’had Aly itu.

(Sumber: mahad-aly.sukorejo.com, judul asli Meluruskan Kembali Mafhum Islam Nusantara)

Iklan

About serambimata

Terus menulis

Posted on 2 September 2018, in Agama and tagged , , , , , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: